Fusilatnews – Asap hitam masih menggantung di langit, sisa dari gedung-gedung DPR dan DPRD yang dibakar massa kemarin. Bau hangus kayu, kertas, dan ban terbakar menempel di udara, bercampur dengan suara riuh yang tak kunjung reda. Seolah kota ini tidak pernah tidur, hanya berganti babak: dari siang yang marah ke malam yang murka.
Hari ini giliran rumah Sahroni, seorang pejabat yang selama ini disebut-sebut dekat dengan lingkaran kekuasaan. Massa datang berbondong-bondong, berteriak, melempari, dan menghancurkan. Dinding rumah retak, kaca pecah, pintu jebol. Tak ada lagi garis pemisah antara publik dan privat: pejabat bukan hanya kehilangan wibawa di kantor, tapi juga keamanan di rumahnya sendiri.
Besok, edaran lain sudah tersebar di WhatsApp grup dan media sosial: “Geruduk rumah Jokowi di Solo. Tema: Tangkap dan Adili Jokowi.” Seruan itu beredar cepat, menyalakan bara di dada orang banyak yang sudah lama menahan marah. Bagi massa, Jokowi bukan lagi presiden; ia telah menjelma simbol pengkhianatan, lambang dari nepotisme, oligarki, dan janji-janji kosong yang dikhianati.
Di jalanan, amarah rakyat tampak seperti gelombang laut: tak terkendali, menghantam apa saja yang berdiri di hadapannya. Gedung DPR yang dahulu dianggap rumah rakyat kini terbakar karena rakyat sendiri merasa tak punya rumah di dalamnya. Rumah pejabat yang seharusnya menjadi ruang keluarga, kini dianggap benteng keserakahan yang pantas dihancurkan.
Inilah wajah amok massa—ledakan sosial ketika kekecewaan dan kemarahan menemukan jalan keluar tanpa kanal politik yang sehat. Ia lahir bukan dari kekacauan semata, tapi dari akumulasi luka: hukum yang tumpul, demokrasi yang direkayasa, rakyat yang dipinggirkan.
Namun ada bahaya besar mengintai. Amok massa bisa menjadi senjata rakyat untuk menuntut keadilan, tapi juga bisa berubah menjadi kekerasan buta yang melahirkan anarki. Api yang membakar gedung DPR mungkin adalah simbol perlawanan, tapi api yang sama bisa dengan mudah melahap rumah-rumah lain tanpa membedakan mana musuh, mana rakyat biasa.
Maka, pertanyaan genting muncul: apakah ini awal dari revolusi rakyat, atau hanya letupan frustrasi yang sebentar lagi padam? Apakah “Tangkap dan Adili Jokowi” akan menjadi momentum perubahan, atau sekadar slogan di tengah arus kemarahan yang kehilangan arah?
Sejarah Indonesia berkali-kali mencatat, rakyat bisa bersabar lama, tapi ketika kesabaran itu habis, ledakannya dahsyat. Dan hari-hari ini, kita sedang menyaksikan ledakan itu.





















