Fusilatnews – Ada orang yang hidupnya seperti punya “bisnis abadi”: buka kotak sedeqah. Itulah Yusuf Mansur. Dari dulu, narasinya tidak jauh-jauh: titipan sedeqah untuk ini, titipan sedeqah untuk itu. Saat Palestina jadi isu hangat, spanduk besar pun terpasang: “Terima Titipan Sedeqah untuk Palestina.” Kini, ketika publik tersentuh dengan kisah Afan, ia kembali hadir dengan pola lama: buka sedeqah.
Masalahnya sederhana tapi krusial: ke mana larinya dana-dana itu? Tak pernah ada kabar jelas apakah duit jamaahnya benar-benar sampai ke Palestina. Dan kali ini, bisa dipastikan juga bahwa keluarga Afan tak akan merasakan sebagaimana yang dijanjikan. Publik digiring untuk percaya pada slogan, tapi tak diberi bukti pada realitas.
Ironisnya, ajakan ini datang dari orang yang seharusnya bisa menjadi teladan. Kalau memang serius ingin menggerakkan sedekah, bukankah lebih masuk akal bila dimulai dari dirinya sendiri dan keluarganya? Barulah jamaah mencontoh. Tapi yang terjadi sebaliknya: ia lebih sibuk membuka pintu kantong jamaah, sementara kantong pribadinya entah berapa kali ikut dibuka.
Sedeqah itu mulia. Tapi jika mulia hanya sebatas kata, ia akan jatuh menjadi dagangan. Jadilah ia “komoditas spiritual” yang dipoles dengan dalil dan bumbu air mata. Lama-lama orang bisa bosan: sebab yang didengar hanya ajakan, sementara yang dirasakan hanya kecurigaan.
Publik tidak anti pada sedekah. Yang ditolak adalah “industri sedekah” yang menjadikan rasa iba sebagai modal dan jamaah sebagai pasar. Jika Yusuf Mansur terus begini, ia lebih cocok dicatat bukan sebagai ustaz sedeqah, melainkan sebagai pedagang sedeqah.





















