• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

Gagal Demokrasi Liberal: Saatnya Kembali ke Jatidiri Bangsa, Pancasila, dan UUD 1945 Dengan Dekrit Presiden

Ir. Prihandoyo Kuswanto by Ir. Prihandoyo Kuswanto
August 30, 2025
in Feature, Politik, Sejarah
0
Gagal Demokrasi Liberal: Saatnya Kembali ke Jatidiri Bangsa, Pancasila, dan UUD 1945 Dengan Dekrit Presiden
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Prihandoyo Kuswanto
Ketua Pusat Studi Kajian Rumah Pancasila


Pendahuluan

Akumulasi kekecewaan rakyat selama sepuluh tahun pemerintahan Jokowi meninggalkan luka mendalam. Kini, pemerintahan Prabowo pun tersandera oleh Genk Solo—hampir 60 persen kabinetnya diisi orang-orang Jokowi. Tanpa disadari, mereka menikam dari segala arah dengan kebijakan-kebijakan yang justru menyengsarakan rakyat dan mendistorsi jalannya pemerintahan.

Liberalisasi di segala bidang telah mencuci otak bangsa, membuat kita kehilangan jati diri. Semua ini bermula dari sistem demokrasi liberal yang dipaksakan, sebuah sistem yang tidak sesuai dengan ruh bangsa Indonesia.


Demokrasi Liberal: Jalan Menuju Kapitalisme dan Oligarki

Demokrasi liberal menjadikan bangsa ini tunduk pada sistem kapitalis, yang melahirkan keserakahan oligarki. Dalam sistem ini, politik hanya dipandang sebagai pertarungan kalah-menang, adu kuat-kuatan modal, dan adu kaya-kayaan. Yang kaya bisa membeli demokrasi, sedangkan rakyat kecil hanya jadi penonton.

Akibatnya, kesenjangan sosial makin melebar, Gini Ratio kian tinggi, dan amanat penderitaan rakyat pupus tak bersisa.

Prabowo kerap menyerukan persatuan dalam pidatonya. Namun, bagaimana mungkin persatuan bisa terwujud jika sistem yang digunakan justru menumbuhkan perpecahan dan pertarungan tanpa akhir?


Kudeta Konstitusi Berkedok Amandemen

Kita telah dijerumuskan oleh mereka yang mengkudeta UUD 1945 dengan bungkus amandemen. Bahkan, ada yang berani menyebut UUD 1945 sebagai “produk Jepang.” Ironisnya, stigma ini lahir dari tokoh yang pernah menjadi Ketua Fraksi PDIP, Jakob Tobing.

Pertanyaannya: mengapa kita memilih demokrasi liberal dan mengganti kolektivisme dengan individualisme? Mengapa permusyawaratan diganti pemilihan langsung, kedaulatan rakyat diganti kedaulatan individu, dan sistem asli kita diganti dengan sistem presidensial liberal?

Bung Karno sejak lama telah mengingatkan: “Kita bukan miskin dan bukan bodoh, tetapi kita dimiskinkan dan dibodohkan oleh sebuah sistem.” Dan sistem itu adalah demokrasi liberal yang menggusur UUD 1945 serta Pancasila.


Rakyat Dipimpin oleh Elite Uang

Demokrasi liberal membuat rakyat kecil mustahil maju. Yang mampu membeli kursi politik bukanlah petani atau nelayan yang mengerti penderitaan rakyat, melainkan artis atau konglomerat yang bergelimang uang.

Uya Kuya, misalnya, pernah berkata bahwa Rp3 juta sehari tidak cukup untuk beli bensin, karena gajinya per jam Rp10 juta. Bagi tukang ojek online, uang Rp3 juta bisa mencukupi kebutuhan keluarga selama sebulan. Ironis, justru sosok seperti itu yang kita biarkan duduk di DPR—tanpa memahami amanat penderitaan rakyat.

Belum lagi kesombongan politisi semisal Sharoni dari NasDem yang dengan congkak mengatakan: “Rakyat yang ingin membubarkan DPR adalah orang paling tolol sedunia.” Pernyataan arogan seperti inilah yang memicu kemarahan rakyat.


Amandemen: Hilangnya Kedaulatan Rakyat

Sejak konstitusi dikudeta melalui amandemen, hilanglah “Amanat Penderitaan Rakyat.” Keadilan sosial terkubur, kedaulatan rakyat diganti kedaulatan individu. Akibatnya, wakil rakyat kehilangan empati. Ketika rakyat terhimpit kesulitan hidup, mereka justru menikmati kemewahan dan melecehkan rakyat yang memilih mereka.

Akumulasi kemarahan ini bukan muncul tiba-tiba, tetapi sudah sejak era Jokowi. Sayangnya, Prabowo tidak berani melepaskan diri. Akibatnya, orang-orang Jokowi masih mendominasi kabinet hingga kini, membuat blunder yang justru menjatuhkan nama Prabowo.


Krisis yang Kian Membusuk

Rakyat kini muak:

  • Korupsi yang merajalela.
  • Perampasan tanah rakyat dengan dukungan aparat bersenjata.
  • Kenaikan PBB hingga ribuan persen.
  • Pajak, BPJS, dan biaya hidup yang mencekik.
  • Rekayasa hukum, termasuk soal ijazah palsu Jokowi yang tidak pernah dituntaskan DPR.
  • Politik dinasti yang dipaksakan lewat putusan MK demi meloloskan Gibran.
  • Skandal judi online, narkoba, hingga kasus Sambo yang menggerogoti Polri.

DPR tetap bisu. Lembaga yang seharusnya menjadi pengawas justru menjadi lembaga yang “ada sama dengan tidak ada.”


Jalan Keluar: Kembali ke UUD 1945 dan Pancasila

Revolusi sedang terjadi. Penyelesaian krisis tidak bisa lagi hanya dengan kata-kata manis atau janji kosong. Rakyat menuntut tindakan nyata:

  1. Adili Jokowi dan Genk Solo-nya.
  2. Tata ulang ketatanegaraan berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 secara murni dan konsekuen.
  3. Copot Kapolri dan lakukan restrukturisasi Polri.
  4. Hentikan dominasi oligarki dalam sistem politik.

Namun, semua itu sulit terwujud jika hanya mengandalkan DPR atau MPR yang sudah kehilangan legitimasi. Harapan tinggal pada keberanian Presiden Prabowo untuk mengeluarkan Dekrit Presiden, sebagaimana pernah dilakukan Bung Karno pada 5 Juli 1959.

Syarat dekrit sudah terpenuhi: ada keadaan genting dan darurat.


Penutup

Demokrasi liberal terbukti gagal membawa bangsa ini menuju keadilan dan kesejahteraan. Yang lahir justru kapitalisme, oligarki, dan perpecahan. Jalan satu-satunya adalah kembali ke jatidiri bangsa: Pancasila dan UUD 1945 yang asli.

Dekrit Presiden bukan sekadar opsi, melainkan keharusan sejarah.


 

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Amok Massa ; Dari Rumah Sahroni ~ Rumah Solo

Next Post

Yusuf Mansur Buka Sedeqah Untuk Afan – Waspadalah

Ir. Prihandoyo Kuswanto

Ir. Prihandoyo Kuswanto

Related Posts

Tanggapan PAN dan Gerindra Terkait Keakraban  Jokowi-Prabowo-Erick Thohir
Feature

Prabowo, Klaim, dan Bayang-Bayang Kemunafikan (Disonansi Kognitif)

April 27, 2026
Feature

Belajar dari Kongo, Perebutan Kepentingan Geopolitik & Ekonomi di Kawasan Afrika (Neo-Kolonialisme Dulu dan Relevansi Kekinian, Termasuk Kawasan Asia Tenggara)

April 27, 2026
Dilema MBG: Antara Kedaulatan Dapur Keluarga dan Martabat Profesi Guru
Feature

Dilema MBG: Antara Kedaulatan Dapur Keluarga dan Martabat Profesi Guru

April 26, 2026
Next Post
Yusuf Mansur Buka Sedeqah Untuk Afan – Waspadalah

Yusuf Mansur Buka Sedeqah Untuk Afan - Waspadalah

Saat Rakyat Menggemakan ‘Adili Jokowi’, Prabowo Teriak ‘Hidup Jokowi’: Loyalitas Kepada Siapa?

Prabowo Tak Akan Berdaya Membendung Upaya Pemakzulan Gibran

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Letkol Teddy dan Senyum Mona Lisa
Feature

Letkol Teddy dan Senyum Mona Lisa

by Karyudi Sutajah Putra
April 24, 2026
0

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI) Jakarta - Letkol Teddy Indra Wijaya kini sudah bisa...

Read more
Polisi itu Angkatan Perang – Tentara itu Polisi?

RPP Tugas TNI: Wujud Remiliteriasi yang Bahayakan Kehidupan Demokrasi

April 24, 2026
Jangan Lawan Parpol!

Jangan Lawan Parpol!

April 24, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Tanggapan PAN dan Gerindra Terkait Keakraban  Jokowi-Prabowo-Erick Thohir

Prabowo, Klaim, dan Bayang-Bayang Kemunafikan (Disonansi Kognitif)

April 27, 2026

Belajar dari Kongo, Perebutan Kepentingan Geopolitik & Ekonomi di Kawasan Afrika (Neo-Kolonialisme Dulu dan Relevansi Kekinian, Termasuk Kawasan Asia Tenggara)

April 27, 2026
Dilema MBG: Antara Kedaulatan Dapur Keluarga dan Martabat Profesi Guru

Dilema MBG: Antara Kedaulatan Dapur Keluarga dan Martabat Profesi Guru

April 26, 2026

Menjaga Langit Nusantara: Menakar Marwah Bebas Aktif di Tengah Krisis Karakter Bangsa

April 26, 2026

KSP Sentil Puan: Prabowo-Gibran Lahir dari Pelanggaran Etika

April 26, 2026

Manajemen Risiko Nestlé, Risiko Kesehatan & Politik, Reputasi & Business Sustainability serta Sasaran Program MBG di Indonesia

April 26, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Tanggapan PAN dan Gerindra Terkait Keakraban  Jokowi-Prabowo-Erick Thohir

Prabowo, Klaim, dan Bayang-Bayang Kemunafikan (Disonansi Kognitif)

April 27, 2026

Belajar dari Kongo, Perebutan Kepentingan Geopolitik & Ekonomi di Kawasan Afrika (Neo-Kolonialisme Dulu dan Relevansi Kekinian, Termasuk Kawasan Asia Tenggara)

April 27, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

 

Loading Comments...