Jakarta-Fusilatnews — Sejumlah negara sahabat kembali mengeluarkan travel warning bagi warganya yang hendak berkunjung ke Indonesia. Peringatan itu tidak hanya terkait potensi ancaman keamanan, tetapi juga risiko bencana alam, terutama aktivitas gunung berapi yang belakangan meningkat.
Departemen Luar Negeri Amerika Serikat pada 30 April 2025 menetapkan Indonesia pada Level 2: Exercise Increased Caution atau perlu meningkatkan kewaspadaan. Namun khusus untuk Provinsi Papua Tengah dan Papua Pegunungan, pemerintah AS menaikkan statusnya ke Level 4: Do Not Travel dengan alasan adanya konflik bersenjata, kerusuhan, hingga potensi penculikan terhadap warga asing.
Hal senada disampaikan oleh pemerintah Australia melalui situs resmi Smartraveller. Selain memperingatkan warganya terkait risiko terorisme dan demonstrasi yang berpotensi berujung kericuhan, Negeri Kanguru juga menyoroti ombak kuat di Bali yang menimbulkan banyak kasus tenggelam serta maraknya kasus keracunan metanol dalam minuman beralkohol lokal. Warga Australia juga diminta memperhatikan kondisi paspor, sebab paspor yang sobek atau rusak dapat menjadi alasan penolakan masuk oleh otoritas imigrasi Indonesia.
Dari sisi bencana alam, Singapura dan Inggris fokus pada potensi erupsi gunung berapi. Kementerian Luar Negeri Singapura mengimbau warganya untuk tidak mendekati Gunung Lewotobi Laki-Laki di Flores dengan radius 7–8 kilometer, serta mewaspadai aktivitas Gunung Ruang dan Semeru. Sementara itu, FCDO Inggris pada 31 Juli 2025 memperbarui daftar gunung yang harus dihindari, antara lain Sinabung, Marapi, Ruang, dan Ibu, dengan radius larangan beragam mulai dari 3 hingga 7 kilometer dari kawah.
Selain faktor keamanan dan bencana, eskalasi politik dalam negeri juga menjadi perhatian. Menyusul serangkaian demonstrasi di Jakarta dan beberapa kota besar pada Agustus 2025, sejumlah negara seperti Kanada, Taiwan, Inggris, dan Amerika Serikat meminta warganya untuk menghindari lokasi unjuk rasa. Demonstrasi yang semula berlangsung damai kerap memicu ketegangan, terutama setelah insiden di depan Markas Brimob, Kwitang, pada 28–29 Agustus lalu.
Hingga kini, Indonesia masih menjadi tujuan populer bagi wisatawan mancanegara. Namun, sederet travel warning ini menjadi pengingat bahwa faktor keselamatan, baik karena alam maupun kondisi sosial politik, tetap perlu menjadi perhatian utama para pelancong asing.























