• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Cross Cultural

ANTARA WIWITAN DAN TAUHID : KDM-Pilih Salah Satu

M.Yamin Nasution by M.Yamin Nasution
July 5, 2025
in Cross Cultural, Feature
0
ANTARA WIWITAN DAN TAUHID : KDM-Pilih Salah Satu
Share on FacebookShare on Twitter
Muhammad Yamin Nasution

Oleh: Muhammad Yamin Nasution, S.H – Pemerhati Hukum

Tulisan ini bertujuan memperdalam makna keberagaman yang  terkandung pada Sila Pertama Pancasila (Ketuhanan Yang Maha Esa) sebagai dasar persatuan, bukan untuk dijadikan alat adu domba oleh politikus yang abai pada nurani kebangsaan. Sekaligus pengingat untuk Gubernur Jawa Barat agar lebih berhati-hati.

Di negeri ini, Ketuhanan bukan sekadar pilihan pribadi, tetapi fondasi kehidupan bernegara. Ia ditempatkan pada sila pertama Pancasila, bukan tanpa alasan: sebagai jangkar moral bersama, titik temu keberagaman, dan penyangga integritas publik. Maka ketika seorang pejabat publik mencoba menyandingkan dua kepercayaan yang saling bertentangan, yang terguncang bukan hanya pribadinya-tetapi nilai-nilai dasar negara itu sendiri.

Deddy Mulyadi, tokoh yang dikenal getol membangkitkan budaya Sunda, kerap tampil dengan simbol-simbol lokal seperti pohon, makam leluhur, dan mitos alam. Ia menyebutnya pelestarian budaya. Namun dalam sejumlah pernyataan, ia justru menyampaikan ketidaksukaannya terhadap “Islam Arab” sebuah istilah yang bias dan berbahaya. Sementara itu, secara administratif dan politis, ia tetap beragama Islam.

Inilah yang menimbulkan kontradiksi. Dalam praktiknya, ia menghidupkan kepercayaan animistik ala Sunda Wiwitan-di mana roh leluhur, pohon, dan alam dianggap sebagai entitas sakral. Tapi dalam identitas formal, ia seorang Muslim. Ketika dua wajah ini dipertahankan secara bersamaan, lahirlah apa yang dalam kajian identitas disebut sebagai “theory of face”: seseorang mencoba tampil dengan dua wajah nilai yang saling bertabrakan. Ia ingin tetap diterima sebagai bagian dari komunitas Islam, namun juga ingin meraih simpati melalui narasi budaya lokal yang bertentangan dengan tauhid.

Masalahnya, Islam tidak mengenal kompromi dalam tauhid. Tak ada ruang bagi pemujaan roh pohon, arwah gunung, atau benda keramat. Maka, seorang Muslim tak bisa mempromosikan nilai-nilai spiritual yang bertentangan secara ontologis dengan ajaran Islam, dan tetap berharap tidak menimbulkan kekisruhan. Ia harus memilih secara jujur: apakah ingin berada pada poros budaya Wiwitan, atau menjaga nilai Islam tanpa menabrak akar budaya.

Dalam teori komuniter, kebebasan bukan tanpa tanggung jawab. Amitai Etzioni dalam The Spirit of Community (1993) menyatakan:

“We have many rights as individuals, but we have responsibilities to our communities, too.”

Etzioni menegaskan bahwa masyarakat yang sehat dibangun bukan hanya atas kebebasan pribadi, tetapi atas kesesuaian nilai dengan komunitas moral. Dalam artikel akademiknya Communitarianism and Citizenship, Etzioni menambahkan bahwa kebebasan harus dijalankan dalam batas nilai bersama, agar tidak melahirkan konflik internal:

“Citizens are free to pursue their own preferences but only after they accept the moral voice of the community.”

Di Indonesia, komunitas moral itu terwakili oleh Pancasila, oleh agama-agama resmi, dan oleh nilai-nilai ketuhanan yang tidak kontradiktif. Maka, jika seorang tokoh memaksakan wajah budaya yang bertabrakan dengan wajah tauhid, ia bukan sedang membangun pluralisme, tetapi sedang menciptakan ketegangan identitas yang bisa memicu perpecahan.

Kita bukan Eropa atau Amerika yang mengenal diversity within unity, hidup berdampingan tanpa nilai pemersatu. Kita adalah negara klasik-liberal dengan basis komuniter: budaya dan agama harus dijaga, tapi tidak boleh dibenturkan. Budaya boleh hidup, sejauh tidak menabrak nilai tauhid. Itulah batas.

Persatuan yang Palsu

Ketika nilai Ketuhanan (Sila Pertama) diselewengkan, direduksi, atau dibenturkan dengan spiritualitas yang tak sejalan, maka Sila Ketiga “Persatuan Indonesia” tidak akan pernah tercapai.

Persatuan bukan sekadar hidup berdampingan. Persatuan sejati tumbuh dari fondasi moral bersama, bukan dari kompromi iman yang membingungkan. Jika sila pertama dirusak, sila ketiga hanya akan melahirkan kesatuan semu, masyarakat tampak rukun di permukaan, tapi menyimpan luka dan kecurigaan.

Dan saat masyarakat mulai merasakan benturan tersebut, maka perpecahan bukan sekadar risiko, tetapi keniscayaan.

Kesimpulan

Seseorang bisa memilih keyakinan apa pun dalam ruang batinnya. Tapi ketika ia berbicara sebagai pejabat publik/ negara, atau representasi masyarakat, maka ia wajib tunduk pada nilai yang mengikat kita semua: Ketuhanan Yang Maha Esa.

Karena larangan dalam sila pertama, untuk tidak menghidupkan  dua Tuhan dan disembah secara bersamaan oleh satu orang.

Dan dalam hidup bernegara, tidak ada ruang bagi mereka yang terus bermain di antara dua wajah kepercayaan yang saling bertabrakan.

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Negara Hukum atau Negara Sogok? Ketika yang Jujur Dipenjara dan yang Pembohong Diberi Tahta

Next Post

Jawaban Kapolri Cs atas Gugatan Praperadilan PPWI di PN Jakarta Selatan Penuh Retorika dan Rekayasa

M.Yamin Nasution

M.Yamin Nasution

Related Posts

Netanyahu, Trump, dan Iran: Tiga Pemain Dalam Satu Papan Catur Berdarah.
Feature

Netanyahu, Trump, dan Iran: Tiga Pemain Dalam Satu Papan Catur Berdarah.

April 16, 2026
Paradox Partai-Partai dalam Sistem Presidensial Indonesia – Antara Kedaulatan Individu dan Oligarki Kolektif
Feature

Paradox Partai-Partai dalam Sistem Presidensial Indonesia – Antara Kedaulatan Individu dan Oligarki Kolektif

April 15, 2026
Pariwisata Inklusif: Kebijakan Nyata atau Sekadar Ilusi?
Feature

Pariwisata Inklusif: Kebijakan Nyata atau Sekadar Ilusi?

April 15, 2026
Next Post
Jawaban Kapolri Cs atas Gugatan Praperadilan PPWI di PN Jakarta Selatan Penuh Retorika dan Rekayasa

Jawaban Kapolri Cs atas Gugatan Praperadilan PPWI di PN Jakarta Selatan Penuh Retorika dan Rekayasa

Bereaksi Terhadap Aktifitas OTT KPK, Luhut Minta KPK ke Surga

Ilmu Seribu Bayangan Luhut Pandjaitan

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Kekerasan Seksual di Kampus: Urgensi Tranformasi Holistik Lewat “Inclusive University Governance”
Crime

Kekerasan Seksual di Kampus: Urgensi Tranformasi Holistik Lewat “Inclusive University Governance”

by Karyudi Sutajah Putra
April 15, 2026
0

Jakarta--FusilatNews - Kasus kekerasan seksual yang terjadi di Universitas Indonesia (UI) serta ekspresi misoginis dan seksis yang mengarah pada normalisasi...

Read more
Tanah dan Bangunan di Jalan Teuku Umar No 2 Menteng Bukan Milik Kemenhan RI, Ini Alasannya!

Tanah dan Bangunan di Jalan Teuku Umar No 2 Menteng Bukan Milik Kemenhan RI, Ini Alasannya!

April 13, 2026
Jawaban Nasdem Terkait Tudingan Uang Rp 30 M  Disita KPK, Akan Digunakan Untuk Keluarga Nyaleg

Tertipu, Ahmad Sahroni Berkasus dengan KPK?

April 11, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Pulau Dijual Terang-terangan, Negara Baru Bereaksi Setelah Viral

Pulau Dijual Terang-terangan, Negara Baru Bereaksi Setelah Viral

April 16, 2026
Skandal Pemerasan di Yogyakarta: PPWI Laporkan Oknum Imigrasi atas Dugaan Pemerasan Rp450 Juta terhadap Investor Asing

Skandal Pemerasan di Yogyakarta: PPWI Laporkan Oknum Imigrasi atas Dugaan Pemerasan Rp450 Juta terhadap Investor Asing

April 16, 2026
Netanyahu, Trump, dan Iran: Tiga Pemain Dalam Satu Papan Catur Berdarah.

Netanyahu, Trump, dan Iran: Tiga Pemain Dalam Satu Papan Catur Berdarah.

April 16, 2026
Dua Partai di Amerika Sepakat Pangkas Pajak, Partai Indonesia Sepakatnya Memungut Lebih Banyak

Dua Partai di Amerika Sepakat Pangkas Pajak, Partai Indonesia Sepakatnya Memungut Lebih Banyak

April 16, 2026
Paradox Partai-Partai dalam Sistem Presidensial Indonesia – Antara Kedaulatan Individu dan Oligarki Kolektif

Paradox Partai-Partai dalam Sistem Presidensial Indonesia – Antara Kedaulatan Individu dan Oligarki Kolektif

April 15, 2026
Pariwisata Inklusif: Kebijakan Nyata atau Sekadar Ilusi?

Pariwisata Inklusif: Kebijakan Nyata atau Sekadar Ilusi?

April 15, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Pulau Dijual Terang-terangan, Negara Baru Bereaksi Setelah Viral

Pulau Dijual Terang-terangan, Negara Baru Bereaksi Setelah Viral

April 16, 2026
Skandal Pemerasan di Yogyakarta: PPWI Laporkan Oknum Imigrasi atas Dugaan Pemerasan Rp450 Juta terhadap Investor Asing

Skandal Pemerasan di Yogyakarta: PPWI Laporkan Oknum Imigrasi atas Dugaan Pemerasan Rp450 Juta terhadap Investor Asing

April 16, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

 

Loading Comments...