• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home daerah

Award Mana Saja, Yang Penting Tampil: Negeri Etalase Tanpa Substansi

fusilat by fusilat
November 28, 2025
in daerah, Feature
0
Award Mana Saja, Yang Penting Tampil: Negeri Etalase Tanpa Substansi
Share on FacebookShare on Twitter

Anwar Husein
Pemerhati Sosial | Tinggal di Tidore, Maluku Utara


Indonesia akhir-akhir ini sedang demam award. Penghargaan yang semestinya menjadi puncak dari proses evaluasi panjang, mendadak bergeser menjadi sekadar puncak acara. Tidak lagi penting, siapa yang menilai, apa yang dinilai, dan atas mandat apa penilaian itu diberikan. Yang penting, panggungnya penuh, sorot lampunya terang, dan caption-nya viral.

Saya teringat sekian puluh tahun silam, ketika pernah ditawari sebuah “penghargaan”. Bukan karena saya berprestasi—tetapi karena saya bersedia membayar. Sebuah award berbayar, ditawarkan tanpa sedikit pun rasa malu, seolah penghargaan tak lebih dari sertifikat suvenir.

Fenomena itu rupanya tidak mati. Ia berevolusi. Kali ini bukan lagi individu yang menawarkan, melainkan lembaga yang berlomba menempatkan diri sebagai penyelenggara penganugerahan. Ada yang kredibel, ada yang sekadar ikut menumpang pamor. Ada penerima yang layak, ada pula yang diangkat hanya karena paling mudah disandingkan dalam bingkai berita.

Dalam riuh rendah itu, saya agak terkesima ketika DPD RI—lembaga legislatif yang mandat konstitusionalnya adalah mewakili aspirasi daerah—ikut menghelat penganugerahan award. Di akun resmi mereka di platform X, disebut bahwa acara puncaknya digelar pada 28 Oktober, disusul agenda Penganugerahan Duta DPD pada 3 November.

Empat kategori yang dilombakan pun luas: ekonomi kreatif, pariwisata dan kebudayaan, pembangunan sosial dan kesehatan, hingga perlindungan anak dan pemberdayaan perempuan. Salah satu penerimanya, sebagaimana diberitakan media, adalah Ketua Tim Penggerak PKK di Maluku Utara.

Secara konsep, award yang kredibel selalu berdiri di atas logika koherensi otoritas penilai.
Di dunia pendidikan, guru dan psikolog diberi mandat menilai murid. Di tata kelola negara, auditor negara seperti BPK, BPKP, Irjen, dan Inspektorat menilai akuntabilitas anggaran. Kementerian dan lembaga teknis seperti Kemendagri, Kemenkeu, dan Bappenas menilai capaian program pembangunan. LSM, akademisi, dan lembaga independen seperti KPK atau Komisi Informasi Publik (KIP) menilai dari sisi pengawasan dan dampak publik. Bahkan sektor privat pun menilai berdasarkan kerangka investasi, CSR, atau impact feasibility.

Lalu DPD RI? Dalam peta itu, di mana titik koherensinya sebagai lembaga penilai di bidang-bidang teknis tadi?
Jika analoginya di sekolah: rakyat di daerah adalah pemilih, anggota DPD adalah murid demokrasi yang diberi mandat mewakili aspirasi daerah. Semestinya merekalah yang dinilai oleh pemilihnya, bukan malah memberi penghargaan kepada penilainya sendiri.

Karena itu, frasa yang saya ajukan tetap berlaku sebagai logika dasar:

Pertama, tugas menilai adalah tugas para penilai. Kedua, siapa yang memberi tugas, dia yang menilai.

Guru yang memberi tugas pada murid tidak bisa meminta penjaga sekolah menilai hasil ujian. Sebab, otoritas penilaian melekat pada mandat yang relevan, bukan pada sekadar kedekatan ruang atau kebetulan hadir di acara.

Ketika lembaga yang semestinya menjadi subjek penilaian justru memproduksi penghargaan bagi subjek penilainya sendiri, lahirlah siklus baru yang ganjil: apresiasi dari, oleh, dan untuk mereka sendiri—sebuah lokalisasi tepuk tangan, tanpa cermin, tanpa jarak, tanpa pertanggungjawaban.

Inilah yang saya sebut sebagai wabah panggung self-congratulation: penghargaan bukan lagi hasil penilaian, tetapi hasil pencitraan; bukan lagi soal prestasi, tetapi soal posisi tampil.

Di era post-truth, ketika politik berubah menjadi entertainment, kita kerap lebih terpaku pada simbol ketimbang substansi. Padahal, seperti diingatkan Anis Matta, era politik pencitraan telah lewat. Hari ini masyarakat menghadapi persoalan rill, bukan persoalan frame. Yang dibutuhkan bukan figur dengan banyak award, tetapi figur dengan banyak impact—yang berbekal ide, integritas, dan kapasitas, karena politik sejatinya adalah isu hidup, bukan isu sorot kamera.

Jika gejala ini terus dibiarkan, profesionalitas dan legalitas akan kehilangan makna. Penghargaan menjadi entitas tanpa otoritas, evaluasi menjadi ritus tanpa penilai, dan publik menjadi penonton di panggung yang tidak lagi bicara kepentingan mereka.

Rakyat sudah terlalu lama dijejali lakon manipulatif yang tak mendidik. Otentikasi dan profesionalisme makin mahal, bukan karena langka, tetapi karena maknanya disusutkan oleh yang tak berwenang memainkannya.

Wallahua’lam.
Semoga kita segera pulih dari mabuk tepuk tangan, dan kembali menemukan nalar yang menilai berdasarkan mandat, bukan berdasarkan mood musim.

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Ekologi Indonesia di Persimpangan Makna: Ketika Krisis Alam adalah Krisis Kemanusiaan

Next Post

Latufsidu fil Ardhi: Bencana Bukan Sekadar Takdir, Tapi Sidik Jari Perilaku Manusia

fusilat

fusilat

Related Posts

Netanyahu, Trump, dan Iran: Tiga Pemain Dalam Satu Papan Catur Berdarah.
Feature

Netanyahu, Trump, dan Iran: Tiga Pemain Dalam Satu Papan Catur Berdarah.

April 16, 2026
Paradox Partai-Partai dalam Sistem Presidensial Indonesia – Antara Kedaulatan Individu dan Oligarki Kolektif
Feature

Paradox Partai-Partai dalam Sistem Presidensial Indonesia – Antara Kedaulatan Individu dan Oligarki Kolektif

April 15, 2026
Pariwisata Inklusif: Kebijakan Nyata atau Sekadar Ilusi?
Feature

Pariwisata Inklusif: Kebijakan Nyata atau Sekadar Ilusi?

April 15, 2026
Next Post
Latufsidu fil Ardhi: Bencana Bukan Sekadar Takdir, Tapi Sidik Jari Perilaku Manusia

Latufsidu fil Ardhi: Bencana Bukan Sekadar Takdir, Tapi Sidik Jari Perilaku Manusia

Bola Panas Muktamar PII: Regenerasi Jangan Disandera

Bola Panas Muktamar PII: Regenerasi Jangan Disandera

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Kekerasan Seksual di Kampus: Urgensi Tranformasi Holistik Lewat “Inclusive University Governance”
Crime

Kekerasan Seksual di Kampus: Urgensi Tranformasi Holistik Lewat “Inclusive University Governance”

by Karyudi Sutajah Putra
April 15, 2026
0

Jakarta--FusilatNews - Kasus kekerasan seksual yang terjadi di Universitas Indonesia (UI) serta ekspresi misoginis dan seksis yang mengarah pada normalisasi...

Read more
Tanah dan Bangunan di Jalan Teuku Umar No 2 Menteng Bukan Milik Kemenhan RI, Ini Alasannya!

Tanah dan Bangunan di Jalan Teuku Umar No 2 Menteng Bukan Milik Kemenhan RI, Ini Alasannya!

April 13, 2026
Jawaban Nasdem Terkait Tudingan Uang Rp 30 M  Disita KPK, Akan Digunakan Untuk Keluarga Nyaleg

Tertipu, Ahmad Sahroni Berkasus dengan KPK?

April 11, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Pulau Dijual Terang-terangan, Negara Baru Bereaksi Setelah Viral

Pulau Dijual Terang-terangan, Negara Baru Bereaksi Setelah Viral

April 16, 2026
Skandal Pemerasan di Yogyakarta: PPWI Laporkan Oknum Imigrasi atas Dugaan Pemerasan Rp450 Juta terhadap Investor Asing

Skandal Pemerasan di Yogyakarta: PPWI Laporkan Oknum Imigrasi atas Dugaan Pemerasan Rp450 Juta terhadap Investor Asing

April 16, 2026
Netanyahu, Trump, dan Iran: Tiga Pemain Dalam Satu Papan Catur Berdarah.

Netanyahu, Trump, dan Iran: Tiga Pemain Dalam Satu Papan Catur Berdarah.

April 16, 2026
Dua Partai di Amerika Sepakat Pangkas Pajak, Partai Indonesia Sepakatnya Memungut Lebih Banyak

Dua Partai di Amerika Sepakat Pangkas Pajak, Partai Indonesia Sepakatnya Memungut Lebih Banyak

April 16, 2026
Paradox Partai-Partai dalam Sistem Presidensial Indonesia – Antara Kedaulatan Individu dan Oligarki Kolektif

Paradox Partai-Partai dalam Sistem Presidensial Indonesia – Antara Kedaulatan Individu dan Oligarki Kolektif

April 15, 2026
Pariwisata Inklusif: Kebijakan Nyata atau Sekadar Ilusi?

Pariwisata Inklusif: Kebijakan Nyata atau Sekadar Ilusi?

April 15, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Pulau Dijual Terang-terangan, Negara Baru Bereaksi Setelah Viral

Pulau Dijual Terang-terangan, Negara Baru Bereaksi Setelah Viral

April 16, 2026
Skandal Pemerasan di Yogyakarta: PPWI Laporkan Oknum Imigrasi atas Dugaan Pemerasan Rp450 Juta terhadap Investor Asing

Skandal Pemerasan di Yogyakarta: PPWI Laporkan Oknum Imigrasi atas Dugaan Pemerasan Rp450 Juta terhadap Investor Asing

April 16, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist