Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI)
Jakarta – Meski sudah seminggu berlalu, namun video Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan memanggul sekarung beras untuk diberikan kepada korban banjir bandang dan tanah longsor di Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat itu masih tetap viral hingga kini di media sosial. Sayangnya, bukan respons positif yang didapat, melainkan respons negatif mulai dari sindiran, ejekan, hinaan hingga umpatan dan makian dari Netizen.
Pasalnya, aksi Zulkifli yang juga Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) itu terlihat sudah di-setting sedemikian rupa, terutama untuk pencitraan politik. Kok bisa?
Hanya dia seorang diri yang memanggul sekarung beras. Sementara ajudan dan orang-orang yang mengiringinya lenggang kangkung. Pun, ada kameramen di sana.
Mungkin Zulkifli membayangkan dirinya laiknya Umar bin Khattab, di zaman kekhalifahan Islam sepeninggal Nabi Muhammad SAW, yang mengantar langsung karungan gandum ke rumah-rumah penduduk miskin. Zulkifli laiknya seorang pahlawan.
Tapi, Netizen tidak bodoh. Semasa menjabat Menteri Kehutanan (2009-2014), Zulkifli melepaskan izin alih fungsi hutan seluas 1,6 juta hektare, di mana 94℅-nya untuk perkebunan kelapa sawit.
Nah, alih fungsi hutan dan illegal logging (pembalakan liar) inilah yang disinyalir menjadi penyebab tanah longsor dan banjir bandang ketika hujan tanpa henti tujuh hari tujuh malam mengguyur tiga provinsi di Pulau Sumatera itu.
Sedikitnya 810 orang telah meninggal dunia, dan 612 orang lainnya masih hilang hingga Rabu (3/12/2025) sore.
Akhirnya, tingkah Zulkifli Hasan itu dinilai Netizen konyol sekonyol-konyolnya, laksana badut politik. Bedanya, kalau badut biasa beraksi di acara-acara pesta, badut politik justru beraksi di tengah bencana.
Adapun ciri khas tingkah badut umumnya melibatkan komedi fisik, ekspresi yang dilebih-lebihkan, dan tujuan menghibur penonton dengan cara yang konyol atau lucu. Perilaku mereka dirancang untuk menciptakan tawa dan kegembiraan, sering kali dengan membalikkan norma sosial biasa.
Bagaimana bisa di tengah bencana Zulkifli mencoba mengambil keuntungan politik, yakni popularitas?
Bukankah semasa menjabat Menhut ia banyak mengobral izin yang kini menjadi pemicu terjadinya bencana?
Apakah aksi heroik Zulkifli itu untuk menutupi kebijakan-kebijakannya di masa lalu? Ternyata Netizen tidak bodoh. Zulkifli dianggap hipokrit. Munafik. Bahkan lebih konyol lagi: badut politik!
Tapi, Zulkifli tak seorang diri menjadi badut di tengah bencana. Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni pun melakukan hal yang sama konyolnya. Sekretaris Jenderal Partai Solidaritas Indonesia (PSI) itu menyatakan, batang-batang kayu yang hanyut bersama banjir bukan hasil dari illegal logging, melainkan pohon-pohon itu tumbang sendiri tersapu banjir.
Kalau tumbang sendiri, mengapa tak tersisa akar dan cabangnya? Mengapa potongan kayu-kayu itu sedemikian rapinya?
Bupati Aceh Tenggara Salim Fakhry pun tak mau ketinggalan menjadi badut politik. Saat menyambut kedatangan Presiden Prabowo Subianto di posko bencana daerahnya, ia memuji Prabowo setinggi langit. Bahkan ia berharap Prabowo menjadi presiden seumur hidup. Ups!
Masih ada satu lagi: Prabowo! Presiden ke-8 RI ini hingga kini masih enggan menetapkan status bencana banjir bandang dan tanah longsor di Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat sebagai bencana nasional?
Lantas, apa alasannya? Apakah karena Prabowo diduga memiliki konsesi hutan di area yang terkena bencana di Aceh, yakni PT Tusam Hutan Lestari (THL) seluas 97 hektare yang membentang di Aceh Tengah, Bireuen, Bener Meriah dan Aceh Utara?

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI)
























