Fusilatnews – Sungguh tak ada pengunci moral. Tidak falsafah negara, tidak ideologi, tidak pula agama. Semua seperti paku tua di pintu lapuk: tak lagi sanggup menahan dobrakan hasrat manusia yang ingin lebih dari cukup.
Korupsi di negeri ini bukan hanya peristiwa hukum. Ia bukan semata-mata penyimpangan perilaku, bukan hanya kejahatan ekonomi. Ia adalah semacam suasana, semacam aroma yang menempel di dinding-dinding kekuasaan dan merembes ke ruang tamu rumah rakyat. Ia bukan sesuatu yang harus dicari dalam dokumen keuangan atau bukti transfer; ia lebih menyerupai bayangan yang mengikuti ke mana pun birokrasi melangkah—dari meja kecil di kelurahan hingga kursi empuk di istana.
Kita telah mencoba segalanya. Pancasila yang sakral, konstitusi yang agung, kitab suci yang dibaca lantang dalam kampanye politik. Tapi semua itu, di hadapan godaan kekayaan dan kuasa, seperti kata-kata tanpa tubuh. Ia tinggal sebagai bunyi. Kering dan tak membekas.
Para koruptor, sering kita dengar, adalah orang-orang yang tersenyum ramah, berpakaian rapi, dan fasih berbicara tentang pengabdian. Mereka tidak datang dari lorong gelap atau sudut pasar yang kasar. Mereka duduk di podium, membagi amplop di hari raya, dan memimpin doa sebelum memulai rapat anggaran. Mereka adalah simbol kontradiksi yang begitu sempurna: menyanjung Tuhan, sambil mencuri dari sesama.
Ada yang menyebut ini penyakit. Tapi mungkin ia lebih dalam dari itu. Korupsi telah menjadi semacam gaya hidup: hedonisme yang dibungkus dalam retorika pelayanan. Bukan lagi soal lapar dan miskin, tapi soal tamak yang dibungkus rapih dengan dasi dan senyum. Mereka tak mencuri untuk hidup, tapi mencuri untuk lebih hidup dari yang lain.
Dan karena itulah, agama pun tumpul. Ia bisa dinyanyikan dalam qasidah atau diceramahkan di televisi, tapi tetap tak sanggup mengunci tangan yang terbiasa menerima suap. Nilai-nilai spiritual ditinggalkan seperti etiket yang hanya dipakai saat pesta kenegaraan.
Maka kita bertanya: bila semua tak sanggup mengunci, lantas pada apa kita bisa berharap?
Goethe pernah menulis: “Jika engkau mengambil semua hukuman dunia dan meletakkannya pada keinginan manusia akan kekuasaan, engkau akan dapati ia tetap melanggarnya.” Mungkin benar. Tapi barangkali harapan itu tak hilang—hanya mengecil. Ia ada di ruang-ruang yang tak terlihat: dalam anak kecil yang menolak mencontek, dalam pegawai rendah yang mengembalikan uang lebih, dalam warga yang tak menjual suaranya.
Moral, mungkin, bukan tembok besar yang menjulang. Ia lebih menyerupai nyala kecil di malam panjang. Ia bisa padam oleh angin besar, tapi bisa juga dinyalakan kembali oleh tangan-tangan yang sabar.
Dan hari ini, ketika nama-nama besar dipanggil ke gedung-gedung pemberantasan korupsi, kita seperti ditampar oleh kenyataan: bahwa sistem, sesuci apa pun namanya, tetap bisa bobrok bila manusia di dalamnya memilih jalan yang salah.
Maka jangan hanya bertanya siapa yang salah. Tapi tanyakan juga, mengapa kita terlalu lama membiarkannya berjalan sendiri, tanpa penjaga, tanpa nurani.
Karena sungguh, tak ada pengunci moral. Kecuali diri sendiri.

























