Fusilatnews – Ada kalimat dari seorang filsuf yang selalu saya ingat: manusia bicara bukan hanya untuk menyampaikan, tetapi untuk merasa ada. Mungkin karena itu, kita menggossip.
Di Athena kuno, gosip hadir seperti udara: mengalir tanpa perlu nama. Di desa, di kantor, di kota metropolitan—ia tetap hidup, seperti ritus yang tak pernah usai. Ia datang bersama bisik dan tawa kecil, kadang dengan nada prihatin, kadang dengan mata yang menyala bahagia karena seseorang tersandung. Gosip bisa jadi hiburan, bisa juga jadi senjata.
Di sebuah artikel ilmiah yang saya baca—dari Journal of Psychological and Cognitive Sentences, nama yang terdengar sangat formal untuk sesuatu yang begitu cair—dikatakan bahwa gosip adalah bentuk komunikasi yang tua. Bahkan mungkin setua keinginan manusia untuk dikenali.
Tapi apa yang membuat gosip menjadi beracun?
Mungkin bukan isi ceritanya, tapi niat di baliknya. Seperti pisau yang digunakan bukan untuk memasak, tapi untuk menusuk.
Kemarin, seorang kolega berbisik saat jeda makan siang, “Kamu lihat Jokowi akhir-akhir ini? Diam saja soal putusan Mahkamah Konstitusi yang kontroversial itu. Seperti sedang menyembunyikan sesuatu.”
Saya tersenyum kecil. Lalu menjawab pelan, “Ah, aku nggak terlalu memperhatikan. Eh, kamu tahu nggak, kapan deadline laporan evaluasi minggu ini?”
Dan gosip pun kehilangan pijakan.
Ada strategi, tentu saja. Mengalihkan. Mengaburkan. Bahkan bertanya balik, “Menurutmu, diamnya itu mengganggumu ya waktu rapat kabinet kemarin?”—bukan untuk membenarkan, bukan pula untuk menyangkal. Tapi supaya gosip berhenti tumbuh. Supaya si penyampai cerita sadar bahwa tak semua telinga mau dipinjamkan untuk menyebar spekulasi.
Kadang, diam pun bisa jadi pelindung. Seperti pagar yang tak mencegah orang masuk, tapi membuat mereka berpikir dua kali. Kita tak selalu perlu membantah. Kadang cukup berkata, “Kita pun tak pernah benar-benar tahu apa yang terjadi. Seperti saat Jokowi tampak diam dalam pusaran isu tentang pembajakan konstitusi lewat Mahkamah Konstitusi. Mungkin ia lelah. Atau sedang berpikir keras. Tapi akhirnya menjadi urusan kita untuk kemudian menghakimi niat dari raut wajah.”
Gosip, bagaimanapun, adalah cerita tanpa sumber dan tanpa tanggung jawab. Seperti asap, ia mudah menyebar, tapi meninggalkan jelaga di mana-mana. Dan kita, manusia modern yang begitu bangga dengan logika dan rasionalitas, tetap saja terseret ke dalamnya. Barangkali karena kita rindu cerita. Atau, lebih jujur lagi, karena kita ingin merasa lebih tinggi dari orang yang kita bicarakan.
Tapi di situlah jebakan itu.
Gosip tak akan pernah mati. Tapi barangkali ia bisa dipelankan. Dengan cara kita memilih diam, atau bertanya balik, atau mengajak bicara tentang hal yang lebih penting. Tentang pekerjaan. Tentang puisi. Tentang hujan yang datang tiba-tiba.
Tentang apa pun—asal bukan tentang orang lain yang tak ada di ruangan.

























