• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Crime

Beras Oplosan: Kejahatan Perut Lapar yang Layak Disebut Kejahatan Kemanusiaan

Ir Entang Sastraatmaja by Ir Entang Sastraatmaja
July 10, 2025
in Crime, Feature
0
Beras Oplosan: Kejahatan Perut Lapar yang Layak Disebut Kejahatan Kemanusiaan
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Entang Sastraatmadja – (Ketua Dewan Pakar DPD HKTI Jawa Barat)

Kejahatan kemanusiaan bukan hanya soal darah, perang, atau genosida. Ia juga bisa hadir dalam bentuk yang lebih sunyi, namun mematikan: saat perut rakyat dimanipulasi demi laba. Dalam konteks ini, pengoplosan beras layak disebut sebagai kejahatan kemanusiaan—karena menyentuh titik paling mendasar dari hak asasi: hak atas pangan yang layak dan aman.

Pengoplosan Beras: Praktik Culas yang Terstruktur

Pengoplosan beras adalah praktik mencampur beras dari berbagai jenis, kualitas, atau sumber—entah antara beras lokal dan impor, atau beras premium dengan kualitas rendah. Tujuannya sederhana: mengejar keuntungan sebesar-besarnya dengan modal sekecil-kecilnya. Praktik ini kerap dilakukan oleh pedagang, distributor, bahkan oknum produsen dengan alasan “strategi dagang”.

Namun praktik ini jelas mengorbankan konsumen dan petani. Pengoplosan:

  • Menurunkan kualitas beras, bahkan membahayakan kesehatan,
  • Merusak kepercayaan konsumen terhadap produk dalam negeri,
  • Menekan harga pasar, merugikan petani lokal.

Lebih buruk lagi, beras oplosan dapat masuk ke program subsidi atau bantuan pemerintah. Artinya: rakyat miskin yang seharusnya dibantu justru jadi korban utama.

Motif Pengoplosan: Kapitalisme Tanpa Nurani

Ada setidaknya lima motif utama di balik pengoplosan:

  1. Mengejar laba: mencampur beras murah dan mahal untuk dijual dengan harga premium.
  2. Menekan biaya produksi: demi efisiensi yang semu.
  3. Mengejar volume penjualan: memenuhi permintaan pasar secara instan.
  4. Menghindari kerugian: memanfaatkan stok lama atau rusak.
  5. Memanfaatkan celah hukum: karena lemahnya pengawasan dan regulasi.

Kasus Beras SPHP: Peringatan Serius bagi Negara

Baru-baru ini, Satuan Tugas Pangan Kementerian Pertanian (Kementan) mengendus praktik culas pengoplosan beras subsidi (SPHP) ke dalam beras premium. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengungkapkan bahwa di beberapa kios, hanya 20% beras SPHP yang dijual sebagaimana mestinya. Sisanya—sebanyak 80%—telah dicampur dan dijual sebagai beras premium.

Ini bukan sekadar manipulasi dagang. Ini pengkhianatan terhadap amanat negara dan penderitaan rakyat.

Solusi dan Antisipasi: Perlu Gerakan Nasional

Melawan praktik ini tak cukup hanya dengan retorika atau razia sesekali. Diperlukan upaya serius dan sistematis, antara lain:

  • Pemeriksaan kualitas secara acak dan berkala.
  • Membeli dari sumber terpercaya, terutama petani lokal.
  • Labelisasi dan transparansi informasi di kemasan.
  • Sertifikasi produk dan pemantauan distribusi.
  • Laporan masyarakat jika ditemukan kejanggalan.
  • Edukasi konsumen agar makin cerdas dalam memilih beras.
  • Perlindungan dan pemberdayaan petani lokal.

Langkah-langkah ini harus dilakukan secara terpadu, lintas sektor. Tanpa itu, kejahatan pangan seperti ini akan terus berulang—dan negara akan terus gagal melindungi rakyatnya.

Penutup: Dari Perut Lapar Lahir Kemarahan

Jangan anggap enteng beras oplosan. Ia bukan hanya soal mutu, tetapi soal martabat dan hak hidup rakyat. Dalam bangsa yang masih banyak rakyatnya menggantungkan hidup dari satu-dua liter beras per hari, manipulasi semacam ini adalah bentuk penindasan paling keji.

Karena itu, pengoplosan beras tak hanya pelanggaran etik atau hukum dagang—tetapi telah masuk ke ranah kejahatan kemanusiaan. Sudah waktunya negara turun tangan lebih tegas dan rakyat lebih waspada.

 

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Maraknya Prostitusi di IKN: Warisan Jokowi dan Ibu Pertiwi yang Dijual

Next Post

Drama Persidangan yang Membuka Borok Kekuasaan: Saat Penyidik, JPU, dan Hakim Bisa Dipermalukan Publik

Ir Entang Sastraatmaja

Ir Entang Sastraatmaja

Related Posts

DPR Kritik  Menteri KP Terkait  Ijin Ekspor Pasir Laut Dengan Sedot Pulau
Bencana

Ketika DPR Ogah Gali Lubang Kuburnya Sendiri

July 15, 2026
“Lā Qaḍā’a wa Lā Qadara”: Ketika Teologi Menjadi Bahasa Perlawanan terhadap Kekuasaan
Feature

“Lā Qaḍā’a wa Lā Qadara”: Ketika Teologi Menjadi Bahasa Perlawanan terhadap Kekuasaan

July 15, 2026
Simalakama Teddy Wijaya
Feature

Yang Terusir dan Mengusir

July 14, 2026
Next Post

Drama Persidangan yang Membuka Borok Kekuasaan: Saat Penyidik, JPU, dan Hakim Bisa Dipermalukan Publik

Jawaban Khofifah atas Tawaran Gabung Timses Anies-Cak Imin

Gubernur Jatim Dipanggil KPK, Kasus Dana Hibah Kian Menyeret Nama Besar

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Mengamputasi Febrie, Mengantar Reda Manthovani?
Feature

Mengamputasi Febrie, Mengantar Reda Manthovani?

by Karyudi Sutajah Putra
July 11, 2026
0

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Calon Pimpinan KPK 2019-2024 Jakarta - Akhirnya, Febrie Adriansyah berhasil diamputasi. Jaksa Agung Muda Bidang Tindak...

Read more
AJI Jakarta dan LBH Pers Desak Panglima TNI Usut Kasus Intimidasi Jurnalis di Kantor Kejagung

AJI Jakarta dan LBH Pers Desak Panglima TNI Usut Kasus Intimidasi Jurnalis di Kantor Kejagung

July 10, 2026
Geng Trunojoyo Vs Geng Gedung Bundar, Siapa Menang?

Geng Trunojoyo Vs Geng Gedung Bundar, Siapa Menang?

July 9, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4

LDC Desak Menteri Komdigi Susun Kode Etik Advokasi Digital, Ableism Dinilai Kian Masif

July 15, 2026
DPR Kritik  Menteri KP Terkait  Ijin Ekspor Pasir Laut Dengan Sedot Pulau

Ketika DPR Ogah Gali Lubang Kuburnya Sendiri

July 15, 2026
Komposisi Pansel KPK Didominasi unsur Pemerintah, Menarik Perhatian Jaksa Agung

KOSMAK Desak Prabowo Copot Jaksa Agung

July 15, 2026
“Lā Qaḍā’a wa Lā Qadara”: Ketika Teologi Menjadi Bahasa Perlawanan terhadap Kekuasaan

“Lā Qaḍā’a wa Lā Qadara”: Ketika Teologi Menjadi Bahasa Perlawanan terhadap Kekuasaan

July 15, 2026
Simalakama Teddy Wijaya

Yang Terusir dan Mengusir

July 14, 2026
Negara yang Kehilangan Kompas

Negara yang Kehilangan Kompas

July 14, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

LDC Desak Menteri Komdigi Susun Kode Etik Advokasi Digital, Ableism Dinilai Kian Masif

July 15, 2026
DPR Kritik  Menteri KP Terkait  Ijin Ekspor Pasir Laut Dengan Sedot Pulau

Ketika DPR Ogah Gali Lubang Kuburnya Sendiri

July 15, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

Loading Comments...