Fusilatnews – Orang bilang, anak kiai itu hidupnya enak. Mau jadi apa saja tinggal angkat tangan, minta restu dari langit, lalu turun sebagai tokoh. Kalau perlu tinggal lompat dari serambi pesantren langsung ke panggung nasional. Ya, asal dia anak kiai yang punya nama. Dan dua tokoh kita ini—Gus Yahya dan Gus Yaqut—adalah contoh paling mutakhir dari teori warisan ketokohan itu.
Mereka ini anak dari KH. Muhammad Cholil Bisri, kiai sepuh dari Rembang yang dikenal bukan cuma pandai mengajar santri, tapi juga lihai mengatur strategi politik. Pendiri PKB, sahabat Gus Dur, dan peletak batu pertama pesantren-pesantren politik Nahdlatul Ulama. Jadi ya wajar, kalau anaknya punya jalan tol menuju panggung besar. Tapi, jalan tol itu rupanya belok ke mana-mana.
Gus Yahya, sang kakak, sekarang jadi Ketua Umum PBNU. Konon, pemilihan beliau penuh lika-liku yang bisa bikin Ustaz somplak mikir dua kali: dari lobi-lobi istana sampai suara-suara gaib dari struktur NU bawah tanah. Belum lagi komentar-komentarnya yang sering bikin alis umat naik setengah senti—kadang bicara ke barat, kadang melirik ke timur, tapi jarang menghadap kiblat.
Adiknya, Yaqut Cholil Qoumas, malah lebih seru lagi. Begitu jadi Menteri Agama, bukan cuma qari yang dibikin bingung, tapi juga umat lintas agama. Dari urusan toa masjid sampai soal LGBT, semua disentuh dengan gaya yang bikin orang bertanya-tanya: ini Menteri Agama atau Menteri Kegaduhan Nasional? Belum lagi kabar-kabar yang berseliweran soal proyek-proyek di kementeriannya. Tapi ya begitulah, selama belum ada ketok palu pengadilan, kita semua tetap harus menulis “dugaan”.
Yang lucu, kalau kita tanya apa rahasia sukses mereka, jawabannya biasanya klasik: “Berkah orang tua.” Ini benar. Tapi seharusnya berkah itu membawa ke jalan yang lurus, bukan yang berkelok-kelok kayak jalan ke puncak saat mudik Lebaran. Bisa jadi, berkahnya memang masih mengalir, tapi debitnya sudah banyak disedot untuk keperluan elektabilitas.
KH. Cholil Bisri mungkin geleng-geleng di alam sana. Dulu beliau berdakwah dengan wajah bersih dan ketulusan yang nyaris tanpa pamrih. Tapi anak-anak zaman sekarang, bahkan anak kiai, harus main cantik—main anggaran, main relasi, dan kalau perlu, main perasaan publik. Dunia sudah berubah. Dan kadang, nama besar ayah hanyalah karpet merah yang bisa juga jadi permadani terbang… menuju gedung KPK.
Begitu kira-kira ceritanya. Di negeri ini, anak kiai bisa naik jadi menteri atau ketua ormas, tapi jangan heran kalau dia juga bisa turun jadi headline kasus. Itulah seni hidup di republik yang penuh berkah—asal tahu cara membelokkan arah angin, semua bisa jadi peluang, bahkan dari nama baik bapaknya.


























