Oleh: Damai Hari Lubis — Pengamat KUHP (Kebijakan Umum Hukum & Politik)
Amangkurat V, atau yang lebih dikenal sebagai Sunan Kuning, adalah simbol dari babak akhir kekuasaan yang nyaris tak bersisa martabat. Ia naik takhta di atas gelombang pemberontakan, menjadi bayang-bayang terakhir dari garis Amangkurat sebelum sejarah Jawa beralih arah. Kini, tiga abad kemudian, seorang presiden sipil bernama Joko Widodo tampak mencoba mengulang babak itu—bukan dalam makna historis, tetapi dalam semangat mempertahankan kuasa lewat simbol, keluarga, dan loyalis yang mulai tercerai-berai.
Namun realitas politik berkata lain. Peta kekuasaan mulai bergeser. Orang-orang dekat Jokowi, satu per satu, memilih beringsut mendekat ke orbit Prabowo Subianto. Termasuk sosok seperti Bahlil Lahadalia yang selama ini terlihat tunduk kepada Gibran, kini mulai menyelaraskan nada dengan irama baru yang dimainkan sang calon presiden terpilih.
Jokowi tampak mulai ditinggalkan. Bukan hanya oleh loyalitas politik, tapi juga oleh daya magnetnya di mata publik. Tubuhnya yang ringkih, dikabarkan mengidap penyakit kulit misterius, menjadi metafora paling telanjang dari seorang penguasa yang mulai habis masa guna. Gibran, sang simbol politik dinasti, tak kuasa menyelamatkan reputasi. Pendidikannya yang sempat simpang-siur antara fakta dan citra, membuatnya semakin rapuh di hadapan publik yang kritis.
Medsos menjadi arena ejekan setiap hari. Presiden dua periode ini tak lagi dielu-elukan, bahkan sekadar dihormati pun nyaris tidak. Citra Jokowi kini seperti kue basi di etalase: tak menarik, tak laku, dan dikerubungi lalat komentar sarkastik.
Di tengah misteri luka-luka di tubuhnya, bisik-bisik netizen berkembang liar. Apakah ini penyakit biasa, atau kutukan sejarah? Apakah ini pembalasan psikis atas dosa-dosa kekuasaan: 894 petugas KPPS yang gugur, tragedi KM 50, atau sekadar bayang-bayang arwah reformasi yang tak pernah tenang?
Masa kecil Jokowi yang konon bernama Mulyono pun kembali diangkat. Misteri ijazah, asal-usul keluarga, hingga teka-teki perjalanan karier politiknya membentuk satu narasi yang menggantung di ruang publik tanpa jawaban tegas dari negara. Sebuah preseden buruk bagi kepastian hukum di republik ini.
Kini, jika benar Jokowi pernah menyimpan ambisi menjadi figur yang menduplikasi jejak Amangkurat V—mengakhiri kekuasaan dengan menyisakan dinasti dan kesetiaan simbolik—maka ia harus bersiap menerima kenyataan: obsesi itu kandas sebelum sempat dirayakan.
Sejarah mungkin akan mencatatnya sebagai pemimpin yang jatuh bukan karena kudeta, melainkan karena kehilangan wibawa. Sunan Kuning disingkirkan karena badai pemberontakan. Jokowi tersingkir oleh gelombang ketidakpercayaan.
Dan seperti Amangkurat terakhir, warisannya bukan kejayaan—melainkan keraguan, luka, dan teka-teki.

Oleh: Damai Hari Lubis — Pengamat KUHP (Kebijakan Umum Hukum & Politik)



















