Fusilanews -– Serangan militer Amerika Serikat terhadap instalasi militer Iran pada Sabtu malam waktu setempat memicu gelombang kecaman dan keprihatinan dari berbagai pemimpin dunia. Tindakan tersebut memperburuk ketegangan yang telah memanas selama berbulan-bulan dan menimbulkan kekhawatiran akan potensi pecahnya perang regional di Timur Tengah.
Presiden Rusia Vladimir Putin menyebut serangan itu sebagai “provokasi terang-terangan” yang bisa “mengguncang stabilitas global.” Dalam pernyataannya, Kremlin menyampaikan bahwa tindakan AS melanggar prinsip-prinsip hukum internasional dan mendesak Dewan Keamanan PBB segera menggelar sidang darurat.
Presiden Prancis Emmanuel Macron juga menyampaikan keprihatinan mendalam. Ia menyerukan “penahanan diri maksimal dari semua pihak” dan menegaskan pentingnya jalur diplomatik. “Eskalasi militer hanya akan membawa penderitaan baru bagi rakyat sipil dan memperlebar jurang perbedaan,” ujarnya dalam konferensi pers di Paris.
Dari Asia, Presiden Tiongkok Xi Jinping menyerukan penghentian segera aksi militer dan mengingatkan bahwa stabilitas Timur Tengah adalah kepentingan bersama dunia internasional. “Kami menyerukan penyelesaian melalui dialog yang setara dan saling menghormati,” ujar Kementerian Luar Negeri Tiongkok.
Sekretaris Jenderal PBB António Guterres mengeluarkan pernyataan yang menyerukan “de-eskalasi segera.” Ia menegaskan bahwa kekerasan bukanlah solusi dan menekankan pentingnya melindungi nyawa sipil. Guterres juga meminta komunitas internasional untuk menahan diri dari tindakan-tindakan yang bisa memperparah krisis.
Di kawasan Timur Tengah, Presiden Turki Recep Tayyip Erdoğan mengecam keras serangan tersebut dan menyebutnya sebagai “agresi imperialis.” Erdoğan mendesak negara-negara Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) untuk mengadakan pertemuan darurat dan merumuskan sikap bersama terhadap langkah Washington.
Sementara itu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan dukungannya atas langkah AS, menyebutnya sebagai “tindakan preventif terhadap ancaman Iran yang terus meningkat.” Pernyataan ini langsung memicu respons tajam dari beberapa negara Arab yang menilai Israel ikut memperkeruh situasi.
Dari Indonesia, Anies Baswedan, mantan Gubernur DKI Jakarta dan tokoh nasional, menyerukan pentingnya menjaga perdamaian dan mendorong penyelesaian konflik melalui jalur diplomasi. “Indonesia selama ini dikenal sebagai negara yang menjunjung tinggi prinsip perdamaian dunia. Segala bentuk kekerasan hanya akan memperpanjang penderitaan umat manusia,” kata Anies dalam pernyataan tertulisnya.
Hingga kini, pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri menyatakan tengah memantau perkembangan dan mengimbau WNI di kawasan untuk meningkatkan kewaspadaan.
Serangan AS ini disebut menargetkan pangkalan militer dan pusat komando Pasukan Garda Revolusi Iran (IRGC), menyebabkan puluhan korban jiwa. Iran menyatakan akan membalas “dengan kekuatan penuh dan dalam waktu yang tepat,” meningkatkan kekhawatiran akan siklus balas dendam yang lebih luas.
Dewan Keamanan PBB dijadwalkan menggelar sidang darurat dalam 24 jam ke depan, sementara berbagai negara memantau perkembangan dengan cemas. Situasi ini menjadi ujian besar bagi diplomasi internasional dalam meredam potensi perang terbuka antara dua kekuatan utama dunia.




















