Langkah berani atau nekad belum ditemukan semiotikanya yang pas, mengapa Jokowi melakukan kunjungan ke Rusia dan Ukraina untuk bertemu dengan Presiden Putin dan Presiden Ukriana, mengemban misi perdamaian. Setop Perang. Menjadi pertanyaan banyak pihak, didalam maupun di luar negeri, kunjungan tersebut akan membawa hasil positif, saat-saat perang yang semamin berkecambuk. Kabar yang tidak enak, baru saja datang dari Presiden Biden. Dalam sela-sela pertemuan G7 di German, menyatakan yang mengejutkan, yang kemudian mengundang persoalan yang tidak kecil, yang akan membangun public opini kontraversi.
Guru Besar Hubungan Internasional Universitas Indonesia Evi Fitriani mengungkapkan Indonesia sejatinya tidak punya kekuatan untuk bisa menghentikan Rusia dan Ukraina yang tengah berperang untuk berdamai. Demikian mengatakan keada Tempo, menanggapi Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang sedang memulai kunjungan kerja ke berbagai negara di Benua Eropa, antara lain turut hadir dalam undangan summit negara-negara G7.
Kunjungan ke Rusia dan Ukraina, salah satunya adalah membawa misi perdamaian di tengah perang antara Rusia dan Ukraina.
Menurut Evi Negara penengah perang mempunyai carrot and stick alias mekanisme hukuman dan hadiah. Ia mencontohkan Amerika Serikat yang bisa menekan dengan memberikan bantuan ekonomi agar dua negara tertentu bisa berhenti bertikai.
Sementara Indonesia untuk sekarang ini dinilai tidak mempunyai mekanisme hukuman dan hadiah dengan kata lain tidak punya uang dan tak punya senjata untuk memaksa kedua negara Eropa Timur itu berhenti berperang. “Masa kita mau kasih bantuan ekonomi? jadi secara materi kita itu enggak kuat, pendamai itu harus punya modal, Indonesia enggak punya,” ungkap Evi.
Sementara siang ini TV Deutsche Welle melaporkan, bahwa Presiden Amerika Biden mengatakan, agar Presiden Putin tidak diikut sertakan (exluded) dalam Summit G20 di Bali yang akan datang.
Pernyataan seperti petir menyambar disiang bolong ini, akan menyulitkan Indonesia, apakah kemudian akan menjadi alasan atau bargaining America untuk tidak hadir pada Summit G20, jika Putin hadir? Sementara Jokowi telah mengatakan sudah mengundang Putin, dan dikonformasi akan hadir.
Harapan semua, tentu kunjungan ke Rusia dan Ukraina akan membawa hasil, juga summit G 20 akan sesuai dengan harapan semula.
Meski tak punya kekuatan uang dan senjata untuk mendamaikan Rusia dan Ukraina, Indonesia masih memiliki soft power untuk meyakinkan keduanya. Setidak-tidaknya Indonesia punya kredibiilitas untuk hal itu. “Jadi yang kita tawarkan makna simbolik misi Jokowi itu,” sehingga ini difahami oleh Biden.
Kehadiran Pemimpin-pemimpin papan atas dunia itu, seperti Amerika dan Rusia, sesungguhnya akan menjadi kunci sukses Summit G20 tersendiri, terlebih-lebih akan mengusung tema semangat kebersamaan menanggulangi bersama persoalan dunia pasca pandemic ini.
Presidensi G20 Indonesia di Bali dijadwalkan berlangsung pada 15-16 November 2022. Acara tersebut akan menjadi puncak dari proses dan usaha intensif seluruh alur kerja presidensi G20. Mulai dari pertemuan tingkat menteri, kelompok kerja, dan engangement group yang dilakukan selama satu tahun penuh.
Presidensi G20 Indonesia menjadwalkan lebih dari 180 rangkaian kegiatan utama, termasuk Pertemuan Engagement Groups, Pertemuan Working Groups, Pertemuan Tingkat Deputies/Sherpa, Pertemuan Tingkat Menteri, hingga Pertemuan Tingkat Kepala Negara (KTT) di Bali.


























