Gaza, Sabtu (21/6/2025) — Pasukan militer Israel melancarkan serangan udara ke Kamp Pengungsi Shati di Jalur Gaza pada Sabtu pagi waktu setempat. Kamp tersebut selama ini ditetapkan sebagai “zona aman” bagi warga sipil yang mengungsi dari konflik berkepanjangan, namun justru menjadi sasaran serangan terbaru.
Menurut laporan awal dari petugas medis setempat dan saksi mata, sedikitnya 32 warga sipil dilaporkan tewas, termasuk belasan anak-anak yang sedang berlindung di tenda-tenda darurat. Puluhan lainnya mengalami luka-luka, sebagian besar dalam kondisi kritis.
Ledakan dilaporkan terjadi sekitar pukul 08.45 pagi waktu Gaza, menghantam bagian tengah kamp yang padat penduduk. Gambar yang beredar di media sosial dan dikonfirmasi oleh jurnalis setempat memperlihatkan puing-puing tenda yang terbakar, korban jiwa yang tergeletak di tanah, dan keluarga yang menangis histeris mencari kerabat mereka.
Kamp Shati merupakan salah satu dari delapan kamp pengungsi resmi di Jalur Gaza dan menampung lebih dari 85.000 orang. Lokasi ini sebelumnya dinyatakan sebagai zona perlindungan sipil oleh lembaga-lembaga kemanusiaan internasional.
Juru bicara Kementerian Kesehatan di Gaza menyebutkan bahwa rumah sakit-rumah sakit saat ini kewalahan menerima korban, dan ambulans kesulitan menjangkau lokasi akibat kerusakan infrastruktur dan risiko serangan lanjutan.
Hingga kini, belum ada pernyataan resmi dari militer Israel mengenai alasan serangan terhadap kamp tersebut. Namun, dalam pernyataan sebelumnya, pihak militer kerap mengklaim bahwa target mereka adalah posisi kelompok militan Hamas yang disebut beroperasi di wilayah padat penduduk.
PBB dan berbagai organisasi kemanusiaan internasional mengecam keras serangan ini dan menyerukan penyelidikan independen. “Menyerang zona aman yang dihuni warga sipil adalah pelanggaran berat terhadap hukum humaniter internasional,” ujar Komisaris Tinggi HAM PBB dalam pernyataan singkatnya.
Serangan ke Kamp Shati menambah panjang daftar korban sipil dalam konflik yang terus memburuk sejak pecah kembali pada awal tahun ini. Masyarakat internasional didesak untuk segera bertindak guna menghentikan kekerasan dan melindungi warga sipil yang menjadi korban utama.
Berita ini akan terus diperbarui seiring perkembangan terbaru dari lapangan.
Sumber : Berbagai Sumber


























