Kalau tidak bisa berdamai dengan diri sendiri, bagaimana bisa mau berdamai dengan dunia?” Mari kita selesaikan juga konflik-konflik kecil di dalam negeri, supaya omongan kita di luar negeri tidak seperti anak kos yang sok bijak di forum alumni.
Fusilatnews – Kalau hidup ini seperti panggung sandiwara, maka politik internasional itu barangkali adalah pentas teater absurd. Ada aktor utama, figuran, penonton, dan juga pemain cadangan yang kadang disoraki karena terlalu kikuk memerankan perannya. Lalu Indonesia, ini yang menarik: ia sering merasa sebagai bintang moral, tapi lebih sering hanya muncul di adegan pembuka, memberi salam damai, lalu pulang lebih cepat dari acara.
Lihatlah, dunia sedang bergejolak. Di Timur Tengah, dua negara yang punya sejarah panjang dalam konflik dan klaim kebenaran—Iran dan Israel—kembali mainkan lakon lama: perang. Rudal melesat, sirene meraung, dan rakyat sipil lagi-lagi menjadi korban dari permainan kekuasaan yang tampaknya tak pernah tamat. Dalam kekisruhan itu, muncullah suara dari tanah air kita yang tercinta. Presiden Prabowo Subianto, dengan suara mantap dan nada tenang, berkata, “Kita ingin semua turunkan suhu. Kita ingin cari penyelesaian jalan keluar yang damai untuk semua pihak.”
Kalimat itu sejuk seperti embun pagi, tapi juga terdengar seperti nyanyian wajib pada upacara bendera: dihafal, dinyanyikan, tapi kurang dirasakan getarnya. Tapi, jangan buru-buru menghakimi. Sebab, niat baik harus tetap diberi tempat di panggung dunia yang makin bising oleh gelegar senjata dan kepentingan yang saling berdesakan.
Namun, mari kita bertanya dengan jujur: apa posisi Indonesia dalam konflik ini?
Konstitusi sebagai Kompas Moral
Di pasal 1 dan pasal 2 Pembukaan UUD 1945, para pendiri bangsa telah meletakkan amanat yang seakan ditulis untuk dunia yang kacau ini: “ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.” Kalimat itu tidak ditulis dengan tergesa-gesa, tidak juga asal copas dari dokumen luar negeri. Ia adalah semacam sumpah, penegas bahwa Indonesia tidak boleh jadi penonton yang hanya berdiri di pinggir panggung sambil bergumam “kasihan” atau “sayang sekali.”
Namun, konstitusi tidak menulis caranya. Ia hanya memberi arah. Dan arah itu hanya bisa ditempuh bila negeri ini bukan hanya bicara soal netralitas, tetapi juga punya keberanian moral—dan kadang, keberanian politik—untuk berkata “tidak” pada ketidakadilan, dan “ya” pada perdamaian yang sejati, bukan damai palsu yang diselipkan dalam paket diplomasi penuh basa-basi.
Rusia dan China: Siapa Pemain Utamanya?
Dalam panggung konflik Iran-Israel, dua negara besar lain masuk ikut tampil sebagai pemain: Rusia dan China. Rusia—yang menurut Prabowo punya pengaruh kuat atas Iran—bermain sebagai aktor geopolitik yang mulai jenuh dengan drama barat. China, dengan wajah kalem dan dompet investasi yang tak pernah sepi, menyelinap dalam percakapan sebagai penjaja stabilitas sekaligus pencari peluang.
Prabowo cukup jujur dan lugas dalam membaca peta itu. Ia bilang, Rusia punya pengaruh besar. Dan Indonesia—yang dalam forum SPIEF 2025 di St. Petersburg itu—masih setia dengan naskah nonblok dan solusi damai, tampil bukan sebagai pembisik kebijakan, melainkan pengingat akan pentingnya berhenti saling menyerang.
Tapi adakah yang benar-benar mendengarkan Indonesia? Atau kita hanya bicara ke mikrofon yang volumenya sengaja dikecilkan?
Peran atau Pemanis?
Pertanyaan besar kita: apakah Indonesia sekadar tampil sebagai pemanis diplomasi, atau sungguh punya peran yang diperhitungkan?
Prabowo menyebut contoh Korea, tentang gencatan senjata yang tidak sempurna, tapi cukup stabil. Contoh itu bagus, walau agak usang. Dunia butuh lebih dari sekadar analogi; ia butuh tindakan konkret. Kalau Indonesia memang ingin berperan, maka setidaknya ada dua hal yang harus dilakukan:
- Aktif menyusun inisiatif konkret perdamaian, bukan hanya dalam pernyataan pers, tapi dalam bentuk diplomasi shuttle, dialog lintas pihak, dan bahkan menjadi penengah aktif seperti Norwegia di masa lalu.
- Berani menyatakan posisi tegas terhadap pelanggaran HAM dan hukum internasional, termasuk bila itu dilakukan oleh pihak yang dianggap sekutu dagang atau mitra strategis.
Dunia Butuh Indonesia, Tapi Indonesia Harus Mau Hadir
Di tengah dunia yang penuh luka dan api, Indonesia tidak bisa hanya jadi penonton bersurban putih di bangku belakang. Kita harus berdiri, turun ke panggung, dan berkata: “Kami hadir, bukan hanya untuk menenangkan suasana, tapi juga untuk menunjukkan arah.”
Prabowo sudah membuka pintu itu. Tapi yang kita tunggu bukan hanya pidato, melainkan aksi. Sebab konstitusi bukan kutipan indah untuk dibacakan di podium internasional. Ia adalah panggilan yang menuntut keberanian—bahkan bila kita harus berdiri di antara dua kekuatan besar, demi kebenaran yang kadang tak punya sekutu.
Dan bila panggung itu terus saja dipenuhi oleh aktor-aktor besar yang lupa akan nilai-nilai, maka saatnya Indonesia menyelip di tengah mereka, bukan sebagai tokoh utama, tapi sebagai suara nurani.
Karena dunia tak butuh lagi pemenang, tapi penenang. Dan mungkin, hanya negara seperti kita yang masih ingat apa itu damai dalam arti yang sebenar-benarnya.

























