Fusiltanews – Dalam khazanah filsafat Tiongkok klasik, terdapat sebuah wejangan yang sangat tajam sekaligus relevan untuk segala zaman. Wejangan ini tercatat dalam karya cucu dari Kongzi (Konfusius), yakni Zisi (Kong Ji), yang menulis Daxue atau Ajaran Besar. Kitab tersebut merupakan salah satu dari empat kitab utama ajaran Konfusianisme, yang hingga kini masih menjadi rujukan etika, kepemimpinan, dan tata kehidupan bermasyarakat di Tiongkok maupun di dunia.
Salah satu kalimat yang paling menggugah dari ajaran ini berbunyi—dalam terjemahan bebas—bahwa di dunia ini ada tiga hal yang sangat membahayakan. Pertama, orang yang tidak memiliki akhlak tetapi mendapat banyak penghargaan. Kedua, orang yang tidak memiliki kapabilitas, tidak bisa bekerja, tetapi menduduki jabatan tinggi. Dan ketiga, orang yang tidak memiliki prestasi tetapi bergaji tinggi.
Wejangan ini, meskipun lahir berabad-abad silam, sesungguhnya merupakan cermin yang masih jernih untuk melihat keadaan dunia hari ini. Pada poin pertama, orang tanpa akhlak namun penuh penghargaan, kita melihat bagaimana reputasi dapat dibeli, dipoles, atau dimanipulasi sehingga sosok yang seharusnya dipertanyakan justru dielu-elukan. Fenomena ini bukan sekadar soal moral pribadi, melainkan ancaman bagi keadilan sosial: ketika kehormatan tidak lagi lahir dari integritas, melainkan dari pencitraan.
Poin kedua menyentuh persoalan nepotisme dan penyalahgunaan kekuasaan. Jabatan yang semestinya diisi oleh mereka yang berkompeten, malah sering diberikan kepada orang yang tidak memiliki kemampuan. Akibatnya, tatanan pemerintahan rapuh, keputusan salah arah, dan rakyat yang menanggung kerugian. Bagi tradisi Konfusianisme, hal ini melanggar prinsip dao—jalan yang benar—karena jabatan tidak lagi menjadi sarana pengabdian, melainkan arena untuk menampilkan kebesaran semu.
Poin ketiga, orang yang tidak berprestasi namun menerima gaji tinggi, adalah sindiran keras terhadap mereka yang hidup dari hasil kekuasaan tanpa memberikan kontribusi nyata. Fenomena ini kerap ditemui pada birokrasi yang gemuk, di mana sebagian orang menjadi beban negara alih-alih penopang kemajuan. Konfusius selalu menekankan pentingnya meritokrasi, di mana setiap orang mendapatkan kedudukan sesuai dengan kebajikan dan kemampuan yang nyata, bukan sekadar karena kedekatan atau warisan politik.
Jika ketiga bahaya ini hadir sekaligus, maka masyarakat akan berada di ujung keruntuhan. Mereka yang tidak layak akan memegang kendali, sementara orang yang layak justru tersisih. Ketidakadilan pun mengakar, dan harmoni sosial runtuh. Maka, wejangan dari Zisi ini seolah mengingatkan kita: peradaban hanya dapat bertahan jika kehormatan diberikan kepada yang berakhlak, jabatan dipegang oleh yang mampu, dan penghargaan materi diberikan kepada yang berprestasi.
Ajaran tersebut menegaskan bahwa filsafat bukan sekadar renungan masa lampau, melainkan pedoman yang terus hidup, menuntun manusia untuk menjaga keseimbangan dunia.




















