Pada awalnya, saya kurang srek dengan Dedi Mulyadi. Sebagai sesama orang Sunda, model dan gayanya terasa sulit diterima dalam kultur ningrat Kasundaan yang selama ini saya kenal. Namun, setelah menyaksikan sepak terjangnya secara lebih luas, saya disadarkan bahwa ia adalah representasi baru dari karakter Sunda yang sejati—bukan hanya dalam simbol atau estetika, tetapi dalam sikap dan tindakan nyata.
Dalam sejarah dunia, kita sering menemukan sosok yang awalnya ditentang karena tidak sesuai dengan pakem tradisional, tetapi pada akhirnya justru menjadi representasi otentik dari budaya mereka. Salah satu contohnya adalah Abraham Lincoln di Amerika Serikat. Ia lahir dari keluarga miskin, tidak memiliki latar belakang pendidikan formal yang tinggi, dan sering dipandang sebelah mata oleh kaum aristokrat. Namun, justru dari kesederhanaannya itulah ia mampu memahami dan mengartikulasikan kehendak rakyat. Lincoln pernah berkata, “Government of the people, by the people, for the people, shall not perish from the Earth.” Kata-kata ini mencerminkan bagaimana seorang pemimpin yang lahir dari rakyat dapat memiliki keberpihakan yang tulus kepada mereka. Dedi Mulyadi memiliki esensi yang sama—ia hadir bukan sebagai elit ningrat Sunda, tetapi sebagai rakyat yang berbicara dengan bahasa rakyat.
Mang Ihin (Solihin GP), Pak Mashudi, Pak Aang Kunaefi, dan Pak Yogi S Memet adalah contoh pemimpin Sunda yang memiliki karakter kuat dan memahami akar budaya Kasundaan dengan baik. Namun, Dedi Mulyadi membawa sesuatu yang berbeda. Ia menampilkan wajah Sunda yang lebih inklusif, lebih komunikatif, dan lebih dekat dengan realitas masyarakat bawah. Dalam banyak hal, ia bisa dibandingkan dengan Mahatma Gandhi, yang meskipun berasal dari kasta atas di India, memilih hidup dalam kesederhanaan dan berjuang bersama rakyatnya. Gandhi pernah berkata, “The best way to find yourself is to lose yourself in the service of others.” Dedi pun mengabdikan dirinya dengan cara yang mirip—terjun langsung ke tengah masyarakat, memahami problem mereka, dan memberikan solusi nyata tanpa sekadar retorika.
Salah satu ciri khas yang sulit disangkal dari Dedi Mulyadi adalah keberpihakannya kepada nilai-nilai budaya Sunda dalam keseharian, yang ia tunjukkan tanpa terjebak dalam simbolisme kosong. Ia menghidupkan kembali filosofi Kasundaan dalam bentuk nyata: silih asah, silih asih, silih asuh. Dalam hal ini, ia memiliki kemiripan dengan Nelson Mandela, yang dalam perjuangannya melawan apartheid di Afrika Selatan tidak sekadar berteriak soal keadilan, tetapi juga mempraktikkannya dengan membangun komunikasi lintas ras dan kelompok. Mandela mengatakan, “I never lose. I either win or learn.” Dedi pun tidak mudah menyerah dalam menghadapi kritik dan cemoohan, tetapi terus membuktikan dirinya melalui kerja nyata.
Sebagai sosok yang lahir dari rakyat jelata dan tumbuh menjadi pemimpin yang memahami denyut nadi masyarakatnya, Dedi Mulyadi adalah khasanah baru dalam budaya Sunda. Ia menunjukkan bahwa Kasundaan bukan hanya tentang estetika atau adat istiadat semata, tetapi juga tentang bagaimana seseorang bersikap dan berbuat bagi orang lain. Ia membawa esensi nilai-nilai Sunda yang sejati dalam tindakan nyata—dan itulah yang membuatnya sulit untuk disangkal sebagai seorang Sunda sejati. Sebagaimana kata-kata Theodore Roosevelt, “Do what you can, with what you have, where you are.” Dedi Mulyadi melakukan yang terbaik dengan apa yang ia miliki, di tempat ia berasal, dan itulah yang membuatnya tetap relevan di hati rakyat.




















