• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

Demo 1998 dan 2025: Dua Gelombang Kemarahan, Dua Zaman yang Berbeda

Ali Syarief by Ali Syarief
August 31, 2025
in Feature, Politik
0
Demo 1998 dan 2025: Dua Gelombang Kemarahan, Dua Zaman yang Berbeda
Share on FacebookShare on Twitter

Fusilatnews – Prolog: Suara yang Tak Pernah Padam

Di Jakarta, ribuan mahasiswa memenuhi Jalan Gatot Subroto. Di depan gedung DPR, asap gas air mata bercampur dengan nyala flare merah yang menyalakan langit sore. Spanduk besar terbentang: “Reformasi Dikhianati, Demokrasi Dirampas.” Sementara itu, di Yogyakarta, barisan panjang mahasiswa UGM, UIN, dan UNY berarak dari bundaran kampus menuju Tugu Pal Putih. Mereka menyanyikan yel-yel yang familiar, seakan mewarisi semangat pendahulu mereka 27 tahun lalu.

Dari Medan hingga Makassar, dari Surabaya hingga Jayapura, suasana sama terjadi: Indonesia kembali bergolak. Demonstrasi 2025 bukanlah protes lokal, melainkan gelombang nasional yang mengingatkan banyak orang pada 1998. Bedanya, kali ini lawannya bukan hanya seorang diktator, melainkan sebuah sistem yang disebut rakyat sebagai “demokrasi palsu.”


1998: Amarah yang Menumbangkan Soeharto

Dua puluh tujuh tahun lalu, Indonesia diguncang oleh krisis moneter. Nilai rupiah terjun bebas dari Rp 2.500 ke Rp 15.000 per dolar. Harga sembako melambung, pengangguran merajalela, dan kemiskinan menjerat puluhan juta orang. Di balik krisis itu, borok Orde Baru terbongkar: korupsi, kolusi, dan nepotisme yang mengakar.

Mahasiswa pun bangkit. Dari kampus UI, Trisakti, ITB, hingga UGM, suara perlawanan menyatu. 12 Mei 1998, empat mahasiswa Trisakti ditembak mati aparat. Darah mereka menjadi bahan bakar revolusi. Jakarta bergolak, Solo terbakar, Medan bergejolak. Tekanan tak terbendung. Pada 21 Mei 1998, Soeharto akhirnya mundur setelah 32 tahun berkuasa.

Saat itu, tuntutan rakyat jelas: turunkan Soeharto, wujudkan reformasi.


2025: Reformasi yang Dikhianati

Kini, 2025, rakyat kembali turun ke jalan. Namun konteksnya berbeda. Demokrasi yang dijanjikan setelah reformasi ternyata melahirkan paradoks.

Di Jakarta, seorang mahasiswa yang menolak disebut namanya berkata dengan lantang:

“Kami bukan melawan seorang diktator seperti di zaman Soeharto. Kami melawan demokrasi yang dibajak oleh dinasti dan oligarki. Reformasi ternyata hanya diganti kemasan, tapi isinya tetap penindasan.”

Jokowi, presiden dua periode yang sempat dielu-elukan, kini dituding meninggalkan warisan politik dinasti. Putranya menjadi wakil presiden, menantunya mencalonkan diri sebagai gubernur, dan berbagai kebijakan besar seperti IKN justru membebani rakyat. Utang negara menembus rekor baru, harga kebutuhan melonjak, sementara oligarki semakin menguasai hajat hidup rakyat.

Di Medan, ribuan buruh turun menutup jalan tol, menolak kebijakan upah yang tak kunjung berpihak. Di Surabaya, aktivis lingkungan bergabung dengan mahasiswa memprotes proyek tambang yang merusak alam. Di Makassar, polisi dan demonstran bentrok setelah ribuan massa menolak kriminalisasi aktivis. Di Papua, mahasiswa menuntut keadilan bagi daerah yang merasa diperas tanpa pernah diberi keadilan pembangunan.

Demo 2025 ini lebih luas cakupannya dibanding 1998. Jika dulu konsentrasi terbesar ada di Jakarta, kini hampir semua kota besar menyuarakan perlawanan.


Kesamaan: Luka yang Sama, Rasa Dikhianati

Meski dua era berbeda jauh, ada benang merah yang tak bisa diputus.

  • 1998: rakyat dikhianati janji pembangunan Orde Baru.
  • 2025: rakyat dikhianati janji reformasi yang berubah jadi demokrasi semu.

Baik 1998 maupun 2025, mahasiswa tetap jadi garda depan. Bedanya, kali ini mereka tidak sendiri. Buruh, petani, aktivis lingkungan, kelompok masyarakat sipil, bahkan influencer muda ikut bergerak.

Prof. Andini Rahman, pakar politik UGM, dalam sebuah diskusi daring menyebut:

“Demo 1998 dan 2025 lahir dari luka yang sama: janji-janji politik yang dikhianati. Bedanya, kalau 1998 kita melawan sosok tunggal, 2025 kita melawan sebuah sistem yang cair, yang justru lebih sulit dihancurkan.”


Perbedaan: Dari Pamflet ke Hashtag

Ada pula perbedaan besar. Tahun 1998, informasi menyebar lewat pamflet, selebaran, radio kampus, dan mulut ke mulut. Pemerintah bisa dengan mudah mengontrol media arus utama.

Tahun 2025, semuanya berbeda. Aksi disiarkan langsung lewat TikTok, X (Twitter), dan Instagram. Hashtag #ReformasiDikhianati dan #RakyatMelawan menduduki trending topic dunia. Aparat tidak hanya menghadapi massa di jalan, tetapi juga perlawanan narasi di ruang digital.

“Jika 1998 adalah revolusi jalanan, maka 2025 adalah revolusi jalanan sekaligus revolusi digital,” kata seorang aktivis muda di Yogyakarta.


Pertanyaan Sejarah

Namun, pertanyaan besar menggantung: apakah demonstrasi 2025 akan benar-benar membawa perubahan, atau hanya mengulang siklus 1998?

Setelah Soeharto tumbang, reformasi memang melahirkan kebebasan pers, multipartai, dan pemilu langsung. Namun oligarki dengan cepat merebut ruang demokrasi. Kini, 2025, rakyat kembali bertanya: apakah perjuangan ini akan melahirkan perubahan nyata, atau sekadar babak baru dari pengkhianatan?

Seorang buruh di Medan berteriak di tengah aksi:

“Kami sudah capek jadi korban. Kalau reformasi dulu dicuri elite, jangan sampai perlawanan kami kali ini juga dicuri lagi!”


Epilog: Dua Zaman, Satu Harapan

Demo 1998 menumbangkan Soeharto, demo 2025 menantang oligarki. Dua zaman berbeda, namun sama-sama lahir dari amarah rakyat yang merasa dikhianati.

Pertarungan 1998 sederhana: tumbangkan seorang diktator. Pertarungan 2025 jauh lebih kompleks: membongkar sistem yang busuk hingga ke akarnya.

Sejarah mencatat, keberanian rakyat selalu bisa mengguncang singgasana. Kini sejarah kembali menunggu: apakah 2025 akan menjadi pengulangan pahit reformasi yang dicuri, ataukah ia menjadi babak baru di mana rakyat benar-benar mengambil kembali demokrasi yang telah lama dirampas?


 

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

NYEMPOD

Next Post

Jangan di Jogetin Wo — Baca Itu Produk Ketidakadilan

Ali Syarief

Ali Syarief

Related Posts

Merawat Akar di Tanah Rantau: Halal Bihalal IKM Pare yang Tak Pernah Putus
Feature

Merawat Akar di Tanah Rantau: Halal Bihalal IKM Pare yang Tak Pernah Putus

April 27, 2026
PBNU: SKANDAL POLITIK – DARI INFILTRASI ZIONIS HINGGA ALIRAN DANA HARAM, MARWAH NU TERGERUS
Feature

Jaga NU dari Para Penghamba Kekuasaan

April 27, 2026
Ketika Tembakan Membungkam Retorika: Ironi Trump dan Pers
Crime

Ketika Tembakan Membungkam Retorika: Ironi Trump dan Pers

April 27, 2026
Next Post
Jangan di Jogetin Wo — Baca Itu Produk Ketidakadilan

Jangan di Jogetin Wo — Baca Itu Produk Ketidakadilan

Terlambatnya Penyesalan DPR

Terlambatnya Penyesalan DPR

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Letkol Teddy dan Senyum Mona Lisa
Feature

Letkol Teddy dan Senyum Mona Lisa

by Karyudi Sutajah Putra
April 24, 2026
0

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI) Jakarta - Letkol Teddy Indra Wijaya kini sudah bisa...

Read more
Polisi itu Angkatan Perang – Tentara itu Polisi?

RPP Tugas TNI: Wujud Remiliteriasi yang Bahayakan Kehidupan Demokrasi

April 24, 2026
Jangan Lawan Parpol!

Jangan Lawan Parpol!

April 24, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Merawat Akar di Tanah Rantau: Halal Bihalal IKM Pare yang Tak Pernah Putus

Merawat Akar di Tanah Rantau: Halal Bihalal IKM Pare yang Tak Pernah Putus

April 27, 2026
PBNU: SKANDAL POLITIK – DARI INFILTRASI ZIONIS HINGGA ALIRAN DANA HARAM, MARWAH NU TERGERUS

Jaga NU dari Para Penghamba Kekuasaan

April 27, 2026
Ketika Tembakan Membungkam Retorika: Ironi Trump dan Pers

Ketika Tembakan Membungkam Retorika: Ironi Trump dan Pers

April 27, 2026
Syarat Dosen Lebih Tinggi dari Presiden/Wapres: Paradoks yang Dibiarkan

Syarat Dosen Lebih Tinggi dari Presiden/Wapres: Paradoks yang Dibiarkan

April 27, 2026
Ibrah dari Runtuhnya Moral Para “Penjaga Moral”

Ibrah dari Runtuhnya Moral Para “Penjaga Moral”

April 27, 2026
Tanggapan PAN dan Gerindra Terkait Keakraban  Jokowi-Prabowo-Erick Thohir

Prabowo, Klaim, dan Bayang-Bayang Kemunafikan (Disonansi Kognitif)

April 27, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Merawat Akar di Tanah Rantau: Halal Bihalal IKM Pare yang Tak Pernah Putus

Merawat Akar di Tanah Rantau: Halal Bihalal IKM Pare yang Tak Pernah Putus

April 27, 2026
PBNU: SKANDAL POLITIK – DARI INFILTRASI ZIONIS HINGGA ALIRAN DANA HARAM, MARWAH NU TERGERUS

Jaga NU dari Para Penghamba Kekuasaan

April 27, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist