Oleh: Entang Sastraatmadja
Dalam bahasa Sunda, nyempod berarti menciutkan badan lalu bersembunyi di pojok karena takut sesuatu. Seseorang bisa nyempod karena banyak sebab: takut pada suara keras, hewan, atau situasi tak terduga; merasa tidak aman; sengaja menghindari konfrontasi; bahkan akibat stres atau kecemasan.
Pada dasarnya, nyempod bisa menjadi mekanisme koping sementara. Namun, jika terus dilakukan hingga menjadi kebiasaan, tentu perlu perhatian lebih serius, bahkan penanganan profesional.
Lalu, bagaimana jika istilah nyempod kita kaitkan dengan sikap sebagian anggota DPR yang tiba-tiba memilih diam ketika muncul aspirasi rakyat agar lembaga itu dibubarkan?
Jika anggota DPR nyempod, itu bisa berarti mereka merasa tidak aman dalam menjalankan tugas sebagai wakil rakyat. Ada beberapa penyebab:
Tekanan politik. Mereka mungkin terikat pada kepentingan partai atau kelompok tertentu.
Kritik atau serangan. Rasa tidak nyaman menghadapi kritik dari masyarakat, media, atau lawan politik.
Kurangnya dukungan. Merasa tidak didukung masyarakat maupun partai, sehingga kehilangan keberanian mengambil keputusan.
Dalam situasi seperti ini, nyempod mencerminkan ketidakberanian DPR untuk bersikap tegas dan menghadapi tantangan. Aspirasi rakyat yang menyoal keberadaan DPR bisa membuat sebagian anggotanya panik, lalu memilih menghindar:
Absen dari diskusi atau pertemuan publik.
Enggan mengambil keputusan kontroversial.
Sibuk mempertahankan kursi dengan cara yang kadang tidak populer, bahkan tidak etis.
Padahal, sikap nyempod justru memperburuk citra DPR di mata rakyat. Jalan terbaik seharusnya bukan bersembunyi, melainkan tampil berdialog. Dengan berdialog, anggota DPR bisa:
Menjelaskan posisi dan kebijakan mereka agar rakyat paham latar belakang keputusan yang diambil.
Mendengar langsung aspirasi rakyat, sehingga tahu kebutuhan dan keinginan mereka.
Membangun kembali kepercayaan, agar rakyat merasa sungguh diwakili.
Jika langkah ini ditempuh, DPR akan menunjukkan kepedulian dan kesediaan bekerja sama dengan rakyat. Itu jauh lebih terhormat ketimbang nyempod—menciutkan badan, bersembunyi, dan lari dari tanggung jawab.
(Penulis, Ketua Dewan Pakar DPD HKTI Jawa Barat)

Oleh: Entang Sastraatmadja






















