Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI)
Jakarta – Adalah Sekretaris Jenderal Peradi Bersatu Ade Darmawan yang secara tak langsung menuduh partai politik berseragam biru berada di balik isu ijazah palsu Joko Widodo, setelah Presiden ke-7 RI itu mengaku feeling-nya mengatakan ada tokoh besar yang bermanuver di balik isu ijazah palsu dirinya.
Mungkin karena Roy Suryo yang selama ini mengangkat isu ijazah palsu Jokowi itu. Mungkin karena ada jejak perseteruan politik antara Jokowi dan Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang kini Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat.
Sebenarnya bukan hanya Demokrat yang berseragam biru. Partai Nasional Demokrat (Nasdem) dan Partai Amanat Nasional (PAN) pun berseragan biru. Tapi mengapa sejauh yang penulis tahu hanya Demokrat yang merasa tersengat?
Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono langsung menyatakan tuduhan partainya ada di balik isu ijazah palsu Jokowi adalah fitnah.
Koordinator Juru Bicara Partai Demokrat Herzaky Mahendra Putra pun cuci tangan: isu ijazah palsu Jokowi yang diusung Roy Suryo tak terkait dengan partainya, karena bekas Menteri Olah Raga itu sudah hengkang dari Demokrat sejak 2019 lalu.
Roy Suryo sendiri juga membantah ada bandar atau bohir di balik isu ijazah palsu Jokowi yang ia usung. Sebagai intelektual, Roy bahkan merasa terhina atas tuduhan adanya sponsor di balik dirinya.
Mengapa Demokrat merasa tersengat? Sekali lagi, mungkin karena ada jejak perseteruan politik antara Jokowi dan SBY. Mereka baru seolah akur setelah sama-sama mendukung Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka di Pemilihan Presiden 2024.
Saat dikritik terkait pembangunan infrastruktur yang masif dan mengabaikan sektor lainnya, Jokowi langsung bereaksi. Ia langsung mendatangi “Candi Hambalang” dan berdiri di atasnya sambil berkacak pinggang.
Baca : https://fusilatnews.com/fitnah-besar-siluet-orang-besar-dan-bayangan-konflik-jokowi-sby/
“Candi Hambalang” adalah istilah untuk proyek kompleks olahraga di Hambalang, Bogor, Jawa Barat, yang dibangun semasa SBY berkuasa namun mangkrak di tengah jalan karena kasus korupsi yang melibatkan sejumlah elite Demokrat seperti Angelina Sondakh (Anggota Komisi X DPR), M Nazaruddin (Bendahara Umum Partai Demokrat), Andi Mallarangeng (Menpora), bahkan Anas Urbaningrum, Ketua Umum Partai Demokrat saat itu.
Perseteruan itu bermula dari Pilpres 2014, di mana SBY mendukung Prabowo Subianto-Hatta Rajasa, berhadapan dengan Jokowi yang berpasangan dengan Jusuf Kalla, dan berlanjut ke Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) DKI Jakarta 2017 di mana Jokowi mendukung Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok yang berpasangan dengan Djarot Saiful Hidayat, sedangkan SBY mengajukan putra sulungnya, AHY sebagai calon gubernur berpasangan dengan calon wakil gubernur Silviana Murni.
Di putaran kedua, SBY mendukung Anies Baswedan yang berpasangan dengan Sandiaga Uno dan menang.
Perseteruan berlanjut ke Pilpres 2019 di mana SBY mendukung Prabowo yang berpasangan dengan Sandiaga Uno, berhadapan dengan Jokowi yang berpasangan dengan Ma’ruf Amin.
Lantas, mengapa Surya Paloh tidak merasa tersengat, padahal Ketua Umum Partai Nasdem itu juga punya jejak perseteruan politik dengan Jokowi?
Pada Pemilu 2024, Nasdem mengusung Anies Baswedan yang berpasangan dengan Muhaimin Iskandar sebagai calon presiden-wakil presiden. Namun setelah kalah, Nasdem langsung balik badan mendukung Prabowo yang menang bersama pasangannya, Gibran Rakabuming Raka.
Langkah yang sama juga diambil Cak Imin yang bersama partai yang dipimpinnya, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) mendukung Prabowo-Gibran. Inilah pragmatisme parpol yang tak punya prinsip. Yang penting berkuasa. Tak pernah merasa kehilangan muka.
Mungkin karena Surya Paloh memang tidak mensponsori isu ijazah palsu, sehingga tetap adem-ayem saja, tak perlu gerah.
Berikutnya adalah PAN yang juga berseragam biru. Akan tetapi, mengapa partai berlambang matahari terbit ini juga tidak merasa tersengat?
Mungkin karena sudah tak ada Amien Rais lagi di sana. Apalagi Zulkifli Hasan, ketua umumnya, selalu setia mendukung Prabowo sejak Pemilu 2014 hingga kini. Diketahui, saat ini Prabowo dekat dengan Jokowi, sehingga Zulkifli yang dekat dengan Prabowo tak merasa menjadi tertuduh.
Tidak itu saja. Zulkifli juga dekat dengan Jokowi sejak masuk menjadi Menteri Perdagangan di akhir periode kedua jabatan presiden wong Solo itu. Zulkifli juga rajin sowan Jokowi di Solo hingga kini.
Jadi, wajar jika Menteri Koordinator Bidang Pangan di Kabinet Merah Putih ini tidak merasa tersengat dengan tuduhan bahwa partai berseragam biru berada di balik isu ijazah palsu Jokowi.
Lalu, siapa sesungguhnya yang dituduh Jokowi, dan parpol mana yang dituduh Ade Darmawan berada di balik isu ijazah palsu Jokowi?
Hanya kedua orang itu, plus Roy Suryo yang tahu pasti. Bisa jadi Jokowi dan Darmawan sekadar melempar isu sebagai upaya agar Jokowi dianggap sebagai korban atau viktimisasi. Plus, menciptakan kegaduhan baru untuk mengalihkan isu ijazah palsu.
Teori Kentut
Secara psikologis, berdasarkan teori kentut atau buang angin, seseorang yang buang angin akan terlebih dulu berteriak bahwa dirinya merasakan ada bau kentut. Lalu mengklaim bukan dirinya yang buang air.
Berdasarkan teori ini, bisa jadi memang Demokrat berada di balik isu ijazah palsu Jokowi yang terus menggelinding dan membesar bak bola salju itu.
Betapa pun Roy Suryo pernah dekat dengan SBY bahkan sempat dijadikan Menpora pengganti Andi Mallarangeng yang terlibat korupsi. Pun, 15 tahun Roy Suryo pernah berdiam diri di partai berlogo mersi itu bahkan sempat menjadi wakil ketua umum.
Jokowi pun masuk teori kentut ini. Bisa jadi ia sengaja melontarkan tuduhan itu supaya isunya terus membola salju dan dirinya diposisikan sebagai korban. Ia mengadopsi taktik yang suka dipakai SBY: viktimisasi!

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI)


















