Di Jepang, sebuah bangunan kecil berdiri tenang di tikungan jalan. Bukan pos hansip, bukan pula warung kopi. Namanya koban. Dalam bahasa kita: pos polisi. Tapi ia bukan sekadar pos. Ia adalah rumah yang selalu menyala bagi anak yang kehilangan arah pulang, bagi dompet yang terselip dari kantong celana orang asing, bagi sepeda yang tak tahu siapa pemiliknya.
Di koban, polisi tak bertopeng kuasa. Ia bukan centeng, bukan algojo, bukan pula petugas yang dikirim hanya untuk mengawasi demonstrasi. Ia adalah penjaga kepercayaan, trustkeeper warga. Ia tahu jalan pulang bukan karena hafal peta, tapi karena tahu siapa yang sedang bingung di jalan.
Tapi itu Jepang. Negara yang warganya menunduk jika meminta maaf, dan polisi yang menunduk lebih rendah lagi jika terlambat datang menolong.
Di sini? Kita punya polisi yang, menurut Presiden terpilih kita — sang macan karnivora yang kini beralih ke pangan — telah berperan penting dalam… panen jagung.
Saya tidak sedang bercanda. Di negara ini, detasemen pertanian bersenjata itu nyata.
Kapolri, yang dulunya memimpin reserse kriminal, kini, menurut Prabowo, juga berjasa atas melimpahnya jagung. Mungkin beliau telah diam-diam berguru pada Dewi Sri. Atau mungkin ini bagian dari strategi pertahanan nasional: corn warfare, perang berbasis logistik karbohidrat.
Tentu saja, kita tidak tahu bagaimana tepatnya Polri membantu produksi jagung. Apakah dengan menilang burung pipit? Apakah dengan menginterogasi hama hingga mengaku siapa induknya? Atau barangkali menembaki tikus sawah dari helikopter?
Atau, jangan-jangan, di balik ladang jagung itu, ada unit intelijen pangan yang menyamar sebagai petani. Mereka mencatat, menganalisis, dan menyusup ke kelompok tani sambil membawa senyum dan senapan.
Sementara itu, kembali ke koban. Ia tetap berdiri. Sunyi. Tanpa plakat penghargaan, tanpa presiden yang memujinya karena panen bawang.
Kita tahu, satir terbaik adalah yang tak perlu dilebih-lebihkan. Dan Indonesia, dengan segala absurditasnya, menulis satire-satirenya sendiri. Kita hanya perlu membacanya.
Jagung menjadi monumen baru bagi kebesaran Polri. Sementara kepercayaan rakyat? Itu entah ditanam di mana.
Mungkin di Jepang. Di sebuah koban. Di sudut jalan yang tak ramai. Yang tak pernah dipuji di mimbar kekuasaan. Tapi tetap berdiri — menunggu, menerima, merawat. Tanpa syarat. Tanpa gembar-gembor. Tanpa harus mengaku menanam jagung.





















