Fusilatnews – Gagasan Die With Zero—mati tanpa menyisakan kekayaan—terdengar provokatif di tengah budaya modern yang memuja akumulasi. Buku karya Bill Perkins ini menampar mentalitas menabung berlebihan, menunda hidup, dan menjadikan masa tua sebagai altar pengorbanan masa muda. Namun, ketika gagasan ini dibaca dari perspektif Islam, muncul pertanyaan mendasar: apakah Die With Zero sejalan dengan zuhud, atau justru tergelincir ke dalam fatalisme yang dibungkus jargon spiritual?
Zuhud: Kritik atas Penimbunan, Bukan Anti-Kemakmuran
Islam sejak awal tidak memusuhi kekayaan. Yang dikritik bukan harta, melainkan ketergantungan pada harta. Inilah inti zuhud: harta berada di tangan, bukan di hati. Rasulullah ﷺ dan para sahabat membangun peradaban dengan kekuatan ekonomi, tetapi tidak menjadikan kekayaan sebagai ukuran kemuliaan.
Pada titik ini, Die With Zero menemukan momentumnya. Ia mengkritik penimbunan yang kehilangan tujuan, tabungan yang berubah menjadi berhala, serta rasa aman semu yang mengorbankan hidup hari ini demi kemungkinan esok yang belum tentu datang. Islam pun menegaskan keseimbangan ini:
“Dan janganlah engkau jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan jangan pula terlalu mengulurkannya…” (QS. Al-Isra: 29)
Ayat ini bukan nasihat keuangan semata, melainkan kritik moral: pelit dan boros sama-sama bentuk ketidakbijaksanaan. Zuhud tidak melarang menikmati dunia, tetapi melarang dunia menguasai orientasi hidup.
Ketika Zuhud Dipelintir Menjadi Fatalisme
Masalah muncul ketika Die With Zero dibaca secara mentah dan diserap tanpa hikmah. Di titik inilah ia berisiko berubah menjadi fatalisme: hidup hari ini dihabiskan, masa depan diserahkan pada slogan “rezeki sudah diatur.”
Fatalisme adalah musuh diam-diam iman rasional. Ia mematikan ikhtiar atas nama takdir, menghapus perencanaan atas nama tawakal, dan membenarkan kecerobohan dengan dalih spiritual. Padahal Rasulullah ﷺ memberi garis tegas:
“Ikatlah untamu, lalu bertawakal.”
Tawakal dalam Islam bukan sikap menyerah tanpa strategi, melainkan keberanian merencanakan tanpa diperbudak oleh ketakutan. Menghabiskan harta tanpa mempertimbangkan tanggungan keluarga, pendidikan anak, dan keberlanjutan hidup bukan zuhud—itu kelalaian yang diberi label iman.
Zuhud Aktif: Memberi Sebelum Mati, Menikmati Tanpa Menyembah
Islam tidak mengajarkan target “nol” dalam rekening saat wafat. Yang ditekankan adalah optimalisasi amanah sebelum ajal menjemput. Harta diuji bukan pada jumlahnya, tetapi pada kapan dan untuk apa ia digunakan.
Ali bin Abi Thalib pernah mengingatkan:
“Bukanlah zuhud itu meninggalkan dunia, tetapi dunia tidak menguasai hatimu.”
Zuhud yang hidup—bukan pasif—terwujud ketika seseorang:
- menikmati dunia tanpa kehilangan kendali,
- merencanakan masa depan tanpa menuhankan rasa aman,
- memberi saat hidup, bukan menunggu mati untuk berbagi.
Di sinilah Die With Zero menemukan relevansinya yang paling Islami: sebagai kritik atas penundaan kebaikan dan ketamakan yang dibungkus kehati-hatian.
Penutup: Islam Tidak Memuliakan Nol, tapi Memuliakan Makna
Islam tidak mengajarkan mati miskin, apalagi hidup sembrono. Ia juga tidak memuja angka di rekening sebagai simbol kesuksesan. Yang dikejar bukan “nol” di akhir hayat, melainkan hisab yang ringan dan hidup yang bermakna.
Die With Zero menjadi problematis bila ia membenarkan hedonisme dan menormalisasi ketidakpedulian. Namun ia menjadi relevan—bahkan menampar—ketika dibaca sebagai seruan untuk hidup sadar waktu, menggunakan harta sebagai jalan kebaikan, dan membebaskan diri dari ilusi keamanan duniawi.
Pada akhirnya, Islam tidak meminta kita mati tanpa harta, tetapi mati tanpa diperbudak oleh harta. Di sanalah zuhud berdiri tegak, dan fatalisme tersingkir sebagai dalih yang malas berpikir.





















