FusilatNews – Kalimat lama yang sering dikutip dalam dunia hukum berbunyi: “Hukum tajam ke bawah, tumpul ke atas.” Tapi kini, pisau hukum itu bahkan tampak menggantung tanpa daya, tak lagi menukik tajam ke mana pun, melainkan berkarat oleh kepentingan dan ketakutan.
Kita tak perlu membuka banyak lembar. Mari kita lihat satu dua saja, tetapi cukup mewakili kebobrokan sistem penegakan hukum di republik ini.
Kasus korupsi pagar laut Pertamina—yang sempat mencuat dengan gegap gempita—tiba-tiba stuck di tempat. Seolah ada kekuatan besar yang menahan. Bahkan kasus “Pertamina oplosan” yang katanya melibatkan praktik manipulasi kualitas BBM dengan dampak sistemik terhadap rakyat dan negara, kini sudah hilang dari radar. Media diam, penyidik lebih diam, dan elite mungkin sudah tertawa dari balik meja makan malam yang dihidangkan anggur mahal hasil kelicikan itu.
Padahal, dalam informasi yang beredar dari sumber terpercaya (kita sebut saja sumber A1), kasus-kasus ini tidak selesai karena keterbatasan bukti atau kendala teknis, tetapi karena satu kata: oligarki. Ketika korupsi menyentuh para penyandang dana politik, hukum mendadak gagap. Ketika penyidik berkata, “Pak, kalau Bapak mau uang, semua ada di sekitar Bapak ini kok,” maka kita sedang menyaksikan bagaimana urat malu sebuah institusi dipotong sendiri oleh penghuninya.
Lebih lucu lagi soal kasus Tom Lembong dan dugaan korupsi di proyek Lombok. Mungkin ia salah. Tapi yang aneh, surat dakwaan menyebut kurun waktu 2015-2023, namun yang diproses hanya tahun 2015. Tahun-tahun setelahnya yang kabarnya justru menyimpan aroma amis lebih tajam malah dibiarkan berlalu seperti angin. Siapa yang bermain di sana? Siapa yang dilindungi?
Di antara tahun-tahun itu, publik mendengar desas-desus bahwa praktik culasnya makin besar, makin rapi, dan makin dalam jaringannya. Tetapi hukum tak berjalan ke arah itu. Bukankah itu artinya ada seleksi dalam keadilan? Keadilan yang memilih siapa yang layak diproses, siapa yang harus dibebaskan.
Dan kini, bola ini seolah mulai menggelinding ke atas. Tapi gelindingannya pelan, sangat pelan, seperti sedang mencari arah aman. Apakah ini sekadar manuver kosmetik, atau benar-benar ada niat membersihkan busuk dari dalam?
Kalau Anda bertanya, mengapa semua ini bisa terjadi? Jawabannya sederhana: pendanaan politik yang mandek, ditambal dari kantong para konglomerat. Dan ketika para penambal ini berbisik, aparat berhenti melangkah. Bukan karena takut, tapi karena sudah deal.
Penegakan hukum tak ubahnya seperti pemadam kebakaran yang hanya datang ke rumah orang miskin. Sementara rumah para konglomerat yang terbakar dijaga aparat agar tidak terlihat api. Di sinilah kita sedang menyaksikan republik berjalan tanpa rem moral, dan hanya dikendalikan oleh pedal uang.
Penutup:
Yang paling berbahaya dari sebuah negara bukan korupsinya, tetapi ketika rakyatnya berhenti percaya bahwa korupsi bisa diberantas. Hari ini, kita sedang sampai di titik itu.






















