Cerpen Pipiet Senja
Mengawali hari-hari pertama tinggal di Jakarta adalah masa-masa yang sarat dengan nestapa. Kami menumpang di rumah Nini Resmi, adik Eni. Letaknya di jalan Tegalan, termasuk Kelurahan Utan Kayu. Sebuah kamar berukuran empat kali empat, ditempaiti oleh enam orang anak dan tiga orang dewasa. Yakni, Emih, Mak dan Bapak. Orang tuaku terpaksa tak bisa membawa serta Eni yang sudah sepuh dan sering sakit. Sepupuku El juga terpaksa dikembalikan kepada keluarganya di Labuan, Banten.
Masa ini adalah peralihan dari era Orde Lama ke Orde Baru. Seperti kebanyakan rakyat Indonesia kala itu kami pun mengalami kesengsaraan. Penyakit dan kelaparan merupakan momok yang sulit dienyahkan. Bapak harus berjuang keras menata kehidupan keluarganya, bahkan harus dari dari awal lagi. Sebab kami datang ke Jakarta tanpa kekayaan yang berarti, selain pakaian dan perabota, alakadarnya. Untuk beberapa minggu kemudian, aku dan Emih tidur di teras rumah milik Nini Resmi. Terasnya lumayan lebar, Bapak menghalangi angin malam dan panas matahari dengan kain terpal tentara. Tak ubahnya seperti sedang berkemah di hutan saja!
“Doakan Bapak, anak-anak, doakan… Biar Bapak bisa cepat membangun rumah buat kalian,” ujar Bapak bila kami sedang berkumpul malam hari. Bapak mengajak kami berdoa. Kami pun akan mengaminkan setiap doa yang diucapkan Bapak. Aku melihat Mak sibuk menisik baju kami yang sudah ditambal di sana-sini. Emih membantu Mak sebisa mungkin, meringankan beban Mak. Aku memandangi adik-adik yang lima orang itu, masih kecil-kecil… Oh, bahkan kami harus berebut makanan!
Emih hanya bisa bertahan dua bulan bersama kami. Emih merasa dirinya tak bisa banyak membantu. Malah merasa hanya menumpang dan merepotkan saja. Padahal, Emih sudah terbiasa hidup mandiri. Dengan alasan ingin menempati rumah di Cimahi, suatu hari Emih pamitan. Lagipula, masih ada dua anak Emih yang belum berkeluarga. Kami pun tak bisa menahannya lagi, terpaksa berpisah.
Aku lama sekali menangisi kepergian nenek yang sangat mengasihiku itu. Kurasa, itulah pertama kalinya aku merasa suatu kehilangan yang sangat melukai lubuk hatiku terdalam. “Kalau kamu sudah besar, tengok Emih ke Cimahi, ya Teteh?” pesan Emih sebelum berpisah. Aku hanya mengangguk lemah, kupandangi sosoknya yang kecil mungil, tapi menyimpan keperkasaan semangat mantan anggota Lasykar Wanita, pejuang ’45 itu. “Selamat tinggal, masa kanak-kanak. Selamat datang masa remaja,” gumamku menghibur hati sendiri.
Untuk menambah penghasilan Bapak menyambi sebagai pedagang perlengkapan tentara. Bapak kerja bareng dengan beberapa rekannya, buka kios di Pasar Senen. Dalam kemelaratan, Mak lagi-lagi hamil. Kali ini mengandung anak yang ketujuh. Sempat dinyatakan kekurangan darah, kekurangan gizi. Lantas diopname selama sebulan di RSPAD, hingga saatnya melahirkan si bungsu.
“Sekarang kamu sungguh harus bisa memimpin adik-adikmu. Bapak mungkin akan jarang pulang. Sepulang dinas Bapak harus mendampingi Mak kalian di rumah sakit. Kasihan kalau dibiarkan sendirian, iya, kan?” ujar Bapak suatu malam. “Ya, Pak. Insya Allah!” sahutku. Saat itu aku kelas enam SD, umurku dua belas tahun. Sekolah di SD POMG Jalan Tegalan. Baru empat anak yang sudah sekolah. Seorang adik laki-laki dan seorang adik perempuan masih balita. Mujur, sekolahnya sering masuk siang. Jadi, aku masih bisa mengurus adik-adik dulu. Aku berbagi tugas dengan En dan Vi membereskan pekerjaan rumah. Terkadang dikerjakan rame-rame.
“Ini ada uang seribu rupiah. Belanjakan dengan baik, ya?” pesan Bapak. Seribu rupiah? Yap, ini tahun 1969, Sodara!Aku pun memutar otak. Dapat apa kira-kira dengan seribu rupiah, ya? Paling sayur asam, minyak goreng seperempat, dan minyak tanah satu liter. Lauknya cuma bisa beli ikan asin atau teri basah dan kerupuk. Itulah menu lengkap kami. Tak ada masalah dengan berasnya. Sebab kami mendapat beras catu hampir satu kuintal. Jika Bapak tidak bisa pulang beberapa hari, aku terpaksa utang ke warung. Jika masih memiliki beras lebih, aku akan menjualnya. Uangnya untuk membeli lauk kami.
Oya, soal beras catu ini ada ceritanya juga. Kendaraan dinas Bapak saat itu tak bisa masuk ke jalan Tegalan, beras bagiannya diturunkan di pekarangan markas Menwa jalan Matraman.“Kalian ambil berasnya gotong royong!” perintah Bapak. Anak-anak rame sekali berebut tempat untuk mengangkuti beras. Ada yang bawa kantong plastik kresek, sarung bantal atau guling, pokoknya harus yang tertutup. Biar tidak kelihatan, biar tidak malu. Sebab jika kami sudah ngabring mengangkut beras itu… aaarrrgggh!
Persis peminta-minta atau anak yatim-piatu yang suka minta beras perelek keliling kampung! Untuk beberapa menit aku dan En akan membagi beras satu kuintal itu ke dalam wadah yang dibawa adik-adik. “Anak-anak yang kecil sedikit sajalah bawanya, ya,” bujukku kepada adik-adik. “Aku juga gak berapa kuat, taaauuuk!” sanggah En. “Terserahlah kalau merasa lemah, aku sih kuat-kuat saja!” “Yeee… siapa bilang aku lemah?” En merasa tertantang dan mau melakukan tugasnya dengan baik. Biasanya Bapak memberi persenan berupa uang jajan alakadarnya. Buat beli es mambo atau cemilan. Ketika kami berlima berjalan menyusuri gang-gang, biar lebih dekat… Tiba-tiba, bletaaakk, buuugh! “Aduuuh…sakiiit!” jerit adikku Ed. Seorang anak laki-laki sebayaku berlari, diikuti dua anak laki-laki lainnya. Ketiganya berhasil menyakiti Ry dan Ed. Jidat dan kepala kedua anak itu memar-memar… sebentar lagi pasti benjol!
“Jangan nangis, diam!” sergahku jengkel sekali melihat mereka menangis. “Nanti kita laporkan sama Bapak!” Ketika sampai di rumah kami melapor rame-rame. Eeeeh, Bapak bukannya membela malah bilang; “Kalian ini kan lebih banyak dari ketiga anak laki-laki itu. Kalian kompaklah! Lawan mereka. Ayok, balik lagi sana!” “Ya ampun, Bapak, bukan ngebelain kita malah kasih komando kacooow!” keluh En, garuk-garuk rambutnya yang trondol, kaki-kakinya yang kurus dihentak-hentakkan ke tanah.
“Kenapa tadi gak menolak?” “Yeee… sapa sih yang berani menentang Bapak?” Beberapa saat kami rembukan. Akhirnya sepakat untuk menghadapi anak-anak nakal itu. Harus saat itu juga! Sebelum azan magrib kami pun balik lagi ke kawasan jalan Tegalan. Benar saja, ketiga anak laki-laki itu memang masih ada. Agaknya mereka tukang usil, suka memalak anak-anak yang lewat. “Serbuuu!” seruku memberi komando. “Yaaaak!”
Kami rame-rame menyerbu ketiga anak laki-laki itu.Bletaaak… bketaaak…buuugggh… desss! “Lariii!” teriakku lagi. Kami terbirit-birit lari kencang. Kalau anak-anak nakal itu sadar, lantas mengejar kami… aha! Bisa dibayangkan, si kecil Ed pasti yang bakal sengsara! Ternyata dari jauh Bapak mengawasi kelakuan kami. Aku memandangi wajah perkasa itu sekilas. Bibirnya menyungging seulas senyum bangga. Diiih… Bapak, ada-ada saja! Dan inilah Jakarta. Kami perantau. Sikap orang Jakarta begitu apriori; lu-lu, gue-gue. Aku merasakan betul apa arti hidup sebagai pendatang ditambah miskin pula. Sungguh, kami merasai hari-hari yang sarat dengan nestapa. Di sekolah teman-teman sering mengejek.
“Kampungan! No-raaak!” seru si Jefry Sani sambil menjegal kakiku dan… Bluuug! Aku pun terjatuh mencium aspal. Sekali, dua kali memang aku biarkan pelecehan itu. Sampai kemudian aku bangkit melawannya. Bukan dengan kekerasan melainkan dengan otak. Ya, itulah yang bisa aku andalkan. Dalam beberapa minggu saja aku sudah bisa menguasai keadaan. Termasuk menguasai pelajaran.
Siapa bilang anak daerah harus selalu kalah oleh anak metropolitan? Saat itulah aku semakin menyadari. Pengetahuan yang aku pernah peroleh dari buku-buku bacaan, sungguh tak ternilai harganya. Dengan otak cemerlang kita bisa dihargai dan dihormati orang. Kata-kata Bapak ada benarnya juga. Sejak itu tak ada seorang anak pun yang berani melecehkan aku lagi!
Anehnya, ketika itu, kesehatanku terasa baik-baik saja. Bahkan Bapak sampai menjuluki aku si Kuda. Biasanya dibalik jadi si Aduk. Saking kuatnya, tahan banting, tahan kerja keras. Setidaknya, saat itu akulah anaknya yang paling bisa diandalkan. Wooow! Apabila ada kesempatan untuk membesuk Mak di rumah sakit, aku akan menggiring adik-adik. Rame-rame kami naik bis kota. Di tengah perjalanan dari RSPAD kami akan saling mengobrol, menanyakan cita-cita kelak. Ada yang ingin jadi Nyonya Besar, Bu Guru sampai jadi tukang roti. Sedangkan aku ingin menjadi Kowad. Kami tak pernah mengira. Ternyata di kemudian hari ada sebagian cita-cita kami yang terkabulkan.
Akhirnya perjalanan nan panjang itu pun berakhir sudah. Fheeewww! Kami sampai di rumah kontrakan larut malam, ambruk semuanya. Tanpa Mak dan Bapak. Untuk beberapa waktu kemudian kami harus pasrah. Tidak bisa bertemu Mak sering-sering. Selain sangat repot, capek, ongkosnya itu, Bo! Mak akhirnya selamat melahirkan si Bungsu. Diberi nama Emmy Martini Arief. Mak langsung harus mengikuti program KB alias Keluarga Berencana. Program Pemerintah yang belum lama digalakkan saat itu. Keharusan itu diterapkan secara ketat pada keluarga besar prajurit TNI/AD.
Bersambung (1)


























