Semar, dalam wayang, selalu digambarkan berperut buncit. Bukan tanda kerakusan, melainkan lambang kelapangan. Perut yang mampu menampung segala keluh rakyat, menahan amarah dunia, menyimpan rahasia semesta. Dari tubuh yang gemuk itu, lahir kesabaran: ruang yang luas bagi suara siapa pun.
Jokowi sebaliknya. Badannya kerempeng, ringkih. Tubuh yang tampak sederhana, seolah lambang rakyat kecil yang tak berdaya. Ia datang dengan citra kurus itu: antitesis dari penguasa yang gemuk oleh privilese. Tetapi, tubuh yang kerempeng ini justru menjadi ruang yang sempit: tak ada kelapangan untuk kritik, tak ada keluwesan untuk berbeda. Yang kurus menjelma menjadi kaku.
Semar tersenyum. Senyum yang lembut, yang menenteramkan. Senyum yang membebaskan, sebab ia tahu dirinya hanyalah pelayan, bukan tuan. Jokowi juga tersenyum. Tetapi senyum itu, di atas tubuh yang kerempeng, sering berubah jadi retakan: manis di televisi, getir di balik persekongkolan.
Perut Semar yang buncit adalah metafora keluasan batin. Badan Jokowi yang kerempeng, ironisnya, menjadi metafora politik yang sempit: ruang kekuasaan hanya untuk keluarga, hanya untuk lingkar kecil.
Semar berdiri di belakang para ksatria, mengingatkan bahwa kekuasaan hanyalah titipan. Jokowi berdiri di depan, mendorong anak-anaknya naik ke panggung, seolah negeri ini warisan keluarga.
Maka kita mengerti, buncit dan kerempeng bukan sekadar rupa tubuh. Ia adalah lambang dua cara berada di dunia: yang satu menampung, yang lain menyempitkan; yang satu merawat, yang lain menguasai.
Dan sejarah akan mengingatnya bukan pada tubuh, tapi pada ruang yang ditinggalkan: apakah luas seperti perut Semar, atau sempit seperti badan Jokowi.

























