Fusilatnews – Kalau Anda menduga kisah ini berangkat dari novel satir George Orwell, Anda keliru. Ini kisah nyata, bukan fiksi. Tokohnya bukan Winston Smith, tapi seorang pria bernama Joko Widodo, yang sejak lama dielu-elukan sebagai sosok yang merangkak dari bawah: dari Solo ke Jakarta, lalu ke panggung nasional, dan barangkali ke tempat-tempat yang tidak selalu sesuai dengan logika.
Dan yang membuat kisah ini jadi bahan gosip warung kopi se-Indonesia adalah seseorang bernama Pak Kasmujo—seorang dosen sederhana yang dengan enteng, tapi telak, menampar logika publik.
“Akhirnya Pak Kasmujo mengatakan, bukan pembimbing skripsinya, neither akademik,” demikian pengakuan yang belakangan menyeruak ke permukaan. Kalimat itu terdengar seperti dari manual detektif murahan, tapi ia mengandung daya ledak yang mampu mengguncang kredibilitas yang dibangun selama bertahun-tahun. Bukan karena letusan bom, tapi karena ledakan kebingungan.
Padahal, sebelumnya, dengan nada tenang dan penuh kepercayaan diri yang khas, Joko Widodo pernah menyebut: “Pak Kasmujo adalah pembimbing skripsi saya. Beliau juga pembimbing akademik saya.” Kalimat yang disampaikan tanpa ragu, seolah semua telah terkonfirmasi dari lubuk hati dan lembar indeks prestasi.
Namun ketika dosennya sendiri—Pak Kasmujo—berbicara, semua jadi kisruh. Seperti anak kecil yang mengaku punya ayah astronot, lalu ayahnya malah bilang: “Saya petani kelapa.”
Dalam wawancara oleh Dr. Rismon Sianipar, Pak Kasmujo menyatakan dengan sederhana, bersih dari diksi berliku: “Saya bukan pembimbing skripsinya, bukan pula pembimbing akademiknya.” Selesai.
Dan selesai pula harapan publik akan setitik kejelasan.
Mari kita bersandar sejenak di tiang bendera logika. Dalam sistem akademik Indonesia, antara pembimbing skripsi dan pembimbing akademik mungkin saja berbeda. Tapi jika keduanya bukan Kasmujo, lalu siapa? Ini bukan soal sepele. Sebab setiap mahasiswa tahu, skripsi tak mungkin lahir tanpa bidan akademik. Maka, kalau bidannya tidak mengaku, apakah skripsi itu anak haram?
Joko Widodo bukan sedang ditanya soal letak kunci pas. Ini menyangkut kredibilitas. Integritas. Dan—kalau Anda percaya dunia masih waras—tentang kejujuran seseorang yang dielu-elukan sebagai panutan. Tapi ketika pernyataannya dibantah langsung oleh orang yang namanya disebut, publik berbalik arah. Dalam sebuah polling di akun X saya, 98% responden menyebut: yang berbohong adalah Jokowi.
Apakah angka ini valid secara statistik? Tentu tidak. Tapi ia valid secara psikologis. Rakyat yang bosan dibohongi, tak perlu metodologi kuantitatif untuk tahu aroma dusta. Hidung publik lebih tajam dari Lembaga Survei Indonesia.
Ironi paling getir dalam kisah ini bukan bahwa seorang tokoh bisa salah menyebut nama dosennya. Itu manusiawi. Yang ironis adalah, tak ada rasa bersalah setelah terbukti keliru. Tidak ada klarifikasi, tidak ada permintaan maaf. Bahkan tidak ada keinginan untuk meralat.
Narasi tetap meluncur. Seperti kereta tanpa rem di rel propaganda.
Dan lebih getir lagi, sebagian media enggan mengangkatnya. Ini bukan sekadar kabar miring. Ini nyaris jadi dongeng rakyat modern: Once upon a time, there was a man who claimed a supervisor, but the supervisor said: I am not.
Lucunya, di negeri ini, banyak yang bersedia memaklumi kebohongan. Asal citra tetap bersinar, infrastruktur difoto dari drone, dan utang luar negeri bisa ditutupi dengan narasi.
Maka, tulisan ini bukan sekadar olok-olok. Ini elegi. Elegi atas matinya rasa malu. Elegi atas logika yang disunat demi pencitraan. Elegi atas negeri yang digiring jadi drama panggung, dengan aktor-aktor yang lupa naskah tapi terus menghafal kebohongan.
“Finally, Mr. Kasmujo said: Not his thesis advisor, neither academic.” Kalimat ini mungkin akan tercatat di sudut catatan kaki sejarah Indonesia yang ganjil. Tapi dari sinilah, kita belajar: bahwa kadang, untuk membongkar kebohongan seorang besar, cukup satu kalimat dari orang kecil yang jujur.
Dan Pak Kasmujo, dengan segala kesederhanaannya, telah mengajar kita pelajaran tentang kejujuran. Pelajaran yang, sayangnya, tidak diajarkan dalam mata kuliah Leadership 101 di kampus mana pun. Bahkan mungkin, tidak pula oleh para pembimbing skripsi yang asli.


























