Oleh: Damai Hari Lubis
Pengamat KUHP (Kebijakan Umum Hukum dan Politik)
Politik seringkali tak ubahnya samudra tempat bajak laut berlayar. Di permukaannya tenang, tapi di balik layar penuh tipu muslihat. Seperti halnya taktik bajak laut abad ke-16 yang mengibarkan bendera musuh untuk menipu kapal dagang agar mendekat, lalu menyerang. Strategi itu dikenal sebagai flag fake — bendera palsu.
Kini, di arena politik Indonesia, taktik serupa sedang dimainkan.
Bukan di lautan, tapi di panggung kekuasaan: antara Presiden Joko Widodo dan Presiden Prabowo Subianto.
Ketika Projo — kelompok relawan Jokowi — menggelar kongres pada Sabtu (1/11/2025), undangan kepada Presiden Prabowo sebenarnya bukan sekadar ajakan simbolik. Di balik undangan itu ada strategi: membangun kesan seolah hubungan Jokowi dan Prabowo tetap harmonis, seolah Jokowi masih menjadi bayangan besar di balik kursi kekuasaan. Itulah flag fake pertama.
Namun, Prabowo tidak datang. Ia membalas dengan flag fake versinya sendiri.
Alih-alih hadir secara pribadi, ia mengirim Ketua Harian Gerindra, Sufmi Dasco Ahmad, sebagai wakil partai. Bukan wakil negara. Sebuah sinyal yang jelas bahwa Prabowo menolak tampil dalam orbit kultus politik Jokowi, tanpa harus menyatakannya secara terbuka.
Kehadiran Dasco memang bisa diklaim sebagai bentuk “representasi politik”, tetapi tidak memiliki bobot kenegaraan. Ia tidak membawa mandat Presiden Republik Indonesia, dan tentu bukan hadir sebagai Wakil Ketua DPR RI. Kehadirannya sebatas langkah taktis partai Gerindra untuk menjaga komunikasi politik tanpa memberi legitimasi lebih kepada kubu Jokowi.
Langkah Prabowo ini menunjukkan satu hal: ia sedang melawan Jokowi dengan caranya sendiri — diam, tapi mematikan.
Ia menolak jebakan politik pencitraan yang ingin menempatkannya di bawah bayang-bayang sang mantan presiden.
Ketidakhadirannya juga bisa dibaca sebagai penilaian personal terhadap Jokowi — sosok yang kepemimpinannya dinilai terlalu bertumpu pada loyalitas, bukan prinsip. Nasionalismenya kerap diukur dari kepentingan jangka pendek, bukan dari visi kebangsaan yang utuh.
Dengan demikian, flag fake vs flag fake bukan sekadar duel simbolik, tapi pertarungan persepsi. Jokowi berusaha mempertahankan pengaruhnya lewat panggung relawan, sementara Prabowo memilih memainkan diam strategis — menghindari jebakan kultus, tanpa menimbulkan konflik terbuka.
Di balik senyap itu, ada pesan yang tegas:
era politik Jokowi sudah lewat, dan Prabowo menolak menjadi kelanjutannya.

Oleh: Damai Hari Lubis


















