• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Economy

THE VELOCITY OF PURBAYA

Radhar Tribaskoro by Radhar Tribaskoro
November 2, 2025
in Economy, Feature, Tokoh/Figur
0
Mengapa Bangsa Ini Masih Suka Memilih Pemimpin Yang Bodoh?
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Radhar Tribaskoro

Selalu ada sesuatu yang pelan dalam ekonomi kita: bukan sekadar pertumbuhan yang tersendat, bukan hanya konsumsi yang naik-turun seperti napas pendek, melainkan aliran uang yang bergerak lamban, seperti sungai besar yang kehilangan arusnya. Pada grafik makro, Indonesia terlihat baik-baik saja. Pertumbuhan ekonomi 5% per tahun, inflasi terkendali, cadangan devisa relatif stabil. Tetapi seperti kata Amartya Sen, “Statistik dapat menenangkan pemerintah, tapi tidak selalu menenangkan perut manusia.”

Di jalan-jalan kampung dan pasar-pasar kecil, detak itu melemah. Warung nasi tutup lebih cepat. Tukang kayu kembali ke sawah. Pekerjaan informal meningkat, pendapatan menurun, dan perputaran uang — velocity of money — terus jatuh.
Bank Indonesia mencatat: “Velocity 0f money (kecepatan uang beredar) Indonesia turun dari 8,5 (2011) menjadi sekitar 6,0 (2023).” Artinya, uang yang sama kini berputar lebih sedikit untuk membeli barang dan jasa. Ekonomi berjalan, tetapi bagai tubuh yang kekurangan darah.

Di tengah situasi itu, muncul nama Purbaya. Menteri Keuangan ini mengambil langkah yang mengusik ketenangan intelektual para penjaga ortodoksi moneter: memindahkan dana pemerintah dari Bank Indonesia ke bank-bank Himbara untuk mendorong kredit ke sektor produktif, terutama UMKM yang menyerap 97% tenaga kerja — tetapi hanya mendapat 18–20% kredit perbankan nasional. “Uang negara jangan hanya diam,” katanya. “Ia harus bekerja.”

Kutipan itu sederhana. Tetapi di balik kesederhanaannya, ada kritik fundamental terhadap cara kita mengelola ekonomi selama dua dekade terakhir.

Kita telah membangun ekonomi aman, bukan ekonomi hidup.

Para ekonom yang keberatan punya alasan mereka sendiri. Profesor Ferry Latuhihin, misalnya, mengatakan: “Kebijakan fiskal tidak boleh mengganggu kebijakan moneter, karena ini membuka ruang populisme dan mengancam kredibilitas.” (Diskusi Publik, Jakarta, 2024).

Mazhab yang sama sudah lama tertanam di birokrasi ekonomi kita: stabilitas adalah kebajikan tertinggi. Uang harus aman. Bunga harus terkendali. Biarlah pasar bekerja sendiri.

Masalahnya: pasar tidak pernah bekerja sendiri dalam struktur yang timpang.
•⁠ ⁠60% dana perbankan terkonsentrasi di 7 bank besar
•⁠ ⁠Kredit lebih banyak mengalir ke sektor korporasi yang aman
•⁠ ⁠Bank enggan memberi kredit ke UMKM karena biaya risiko lebih tinggi
•⁠ ⁠Sementara itu dana pemerintah mengendap di BI mencapai ratusan triliun

Di sini kita melihat bukan masalah likuiditas, melainkan masalah keberanian menyalurkan likuiditas.

Uang ada. Tapi ia diam.

Sebagian ekonom menuduh langkah Purbaya tidak disiplin secara moneter. Tetapi di sisi lain, sejarah perekonomian menunjukkan: Ekonomi yang sehat bukan hanya yang stabil, tetapi yang mengalir.

Pada krisis 1930-an, John Maynard Keynes menulis: “Uang yang menganggur adalah dosa ekonomi. Ia menciptakan kehancuran yang sunyi.”

Dan Milton Friedman — bapak monetaris sendiri — mengatakan:
“Inflasi adalah fenomena moneter — tapi stagnasi juga.”

Inflasi memang harus dijaga. Tapi stagnasi menggerogoti rakyat lebih dalam dan lebih senyap.

Kontra-argumen yang paling kuat terhadap Purbaya sebenarnya bukan ideologis, melainkan institusional:
•⁠ ⁠Bank Himbara bisa saja tidak menyalurkan kredit ke UMKM walaupun dana mereka bertambah.
•⁠ ⁠Kredit UMKM membutuhkan infrastruktur pendampingan, penjaminan, dan manajemen risiko.
•⁠ ⁠Tanpa itu, dana hanya akan berputar di sektor konsumsi dan korporasi lagi.

Artinya, pemindahan dana adalah syarat perlu, tapi bukan syarat cukup.

Jika sistem perbankan tidak berubah, velocity tetap rendah, dan kebijakan ini hanya menjadi riasan angka di neraca keuangan.

Di sinilah letak persoalan sesungguhnya:

Masalah kita bukan kekurangan uang, tetapi kekurangan keberanian untuk menggerakkan uang. Uang itu ada. Tetapi sistemnya lamban. Banknya takut. Negaranya ragu.

Uang yang diam itu mirip air di kolam yang tak kunjung mengalir: jernih di permukaan, tetapi perlahan menghijau dan berbau.

Apakah langkah Purbaya akan berhasil? Kita tidak tahu. Sejarah bukan soal kepastian. Ia soal risiko, pengujian, dan keteguhan kehendak. Tetapi satu hal jelas:
Kalau ekonomi kita tetap seperti ini — tumbuh di atas kertas, tapi layu di bawah —
maka ketidakpuasan sosial akan tumbuh diam-diam, seperti rumput liar.

Dan ketika rakyat kehilangan rasa bahwa mereka bagian dari pertumbuhan, demokrasi kehilangan pijakan moralnya.

Sebab pada akhirnya, ekonomi bukan hanya angka. Ia adalah perasaan memiliki masa depan.

Karena itu, mungkin tulisan ini perlu ditutup bukan dengan keyakinan, tetapi dengan pengingat.

“Dalam banyak peradaban kuno, air yang mengalir dianggap kehidupan. Air yang diam dianggap penyakit.”

Uang, seperti air, harus mengalir. Bila ia berhenti, tubuh kehilangan nadinya.
Maka, di tengah perdebatan tentang kebijakan, kredibilitas, dan stabilitas, kita perlu mengingat sesuatu yang sederhana: “Uang dibuat untuk bergerak. Dan ekonomi dibuat untuk hidup.”

Selebihnya — sejarah akan menilai. Apakah langkah ini menjadi awal pemulihan, atau catatan kecil tentang seseorang yang mencoba menggerakkan air yang menggenang.===

Cimahi, 2 November 2025

Penulis:
Berijasah asli dari Jurusan Studi Pembangunan FE-Unpad
Anggota Komite Eksekutif KAMI
Ketua Komite Kajian Ilmiah Forum Tanah Air

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Penegakan Hukum Setengah Hati: Dari Inspeksi Purbaya hingga Bisnis Gelap Pakaian Bekas

Next Post

Flag Fake vs Flag Fake: Strategi Prabowo Melawan Bayang-bayang Jokowi

Radhar Tribaskoro

Radhar Tribaskoro

Related Posts

Gagal Awal – Luka dalam Grafik: Ketika Ekonomi 4,7 Persen Tak Menjawab Kebutuhan Rakyat
Feature

Orasi Prabowo: Politik Gaduh di Tengah Menurunnya Kepercayaan Publik

July 28, 2026
Ketika Presiden Mulai Memusuhi Pers – Lima pelajaran sejarah yang seharusnya menjadi cermin bagi Prabowo
Feature

Ketika Presiden Mulai Memusuhi Pers – Lima pelajaran sejarah yang seharusnya menjadi cermin bagi Prabowo

July 28, 2026
Mengapa Kepuasan Publik terhadap Prabowo Terus Menurun?
Feature

Mengapa Kepuasan Publik terhadap Prabowo Terus Menurun?

July 28, 2026
Next Post
Jokowi Cawe-cawe, Prabowo Terima Kasih

Flag Fake vs Flag Fake: Strategi Prabowo Melawan Bayang-bayang Jokowi

Operasi Chaos: Benarkah Geng Solo Tumpangi Isu Papua untuk Guncang Prabowo?

Freeport: Tirai Dusta Jokowi yang Dibuka Purbaya

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Habis Nanik, Terbitlah Hotman
Feature

Habis Nanik, Terbitlah Hotman

by Karyudi Sutajah Putra
July 23, 2026
0

Jakarta - Setelah Nanik S Deyang, kini giliran pengacara kondang Hotman Paris Hutapea yang menyatakan mundur. Jika Nanik mundur dari...

Read more
Mengamputasi Febrie, Mengantar Reda Manthovani?

Mengamputasi Febrie, Mengantar Reda Manthovani?

July 11, 2026
AJI Jakarta dan LBH Pers Desak Panglima TNI Usut Kasus Intimidasi Jurnalis di Kantor Kejagung

AJI Jakarta dan LBH Pers Desak Panglima TNI Usut Kasus Intimidasi Jurnalis di Kantor Kejagung

July 10, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Prestasi Berawal dari Disiplin, UPT SMAS Datuk Ribandang Gembleng Karakter Siswa Baru

Prestasi Berawal dari Disiplin, UPT SMAS Datuk Ribandang Gembleng Karakter Siswa Baru

July 28, 2026
Gagal Awal – Luka dalam Grafik: Ketika Ekonomi 4,7 Persen Tak Menjawab Kebutuhan Rakyat

Orasi Prabowo: Politik Gaduh di Tengah Menurunnya Kepercayaan Publik

July 28, 2026
Ketika Presiden Mulai Memusuhi Pers – Lima pelajaran sejarah yang seharusnya menjadi cermin bagi Prabowo

Ketika Presiden Mulai Memusuhi Pers – Lima pelajaran sejarah yang seharusnya menjadi cermin bagi Prabowo

July 28, 2026
Mengapa Kepuasan Publik terhadap Prabowo Terus Menurun?

Mengapa Kepuasan Publik terhadap Prabowo Terus Menurun?

July 28, 2026
Pangeran Saudi Ditemukan Tewas di Hotel Mewah London, Koroner: Dipicu Campuran Alkohol dan Narkoba

Pangeran Saudi Ditemukan Tewas di Hotel Mewah London, Koroner: Dipicu Campuran Alkohol dan Narkoba

July 27, 2026
Publik Bukan Koruptor Kata-kata, Fifi!

Publik Bukan Koruptor Kata-kata, Fifi!

July 27, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Prestasi Berawal dari Disiplin, UPT SMAS Datuk Ribandang Gembleng Karakter Siswa Baru

Prestasi Berawal dari Disiplin, UPT SMAS Datuk Ribandang Gembleng Karakter Siswa Baru

July 28, 2026
Gagal Awal – Luka dalam Grafik: Ketika Ekonomi 4,7 Persen Tak Menjawab Kebutuhan Rakyat

Orasi Prabowo: Politik Gaduh di Tengah Menurunnya Kepercayaan Publik

July 28, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

Loading Comments...