Menyikapi eskalasi perbincangan “miring” tentang kebijakan direksi Garuda yang dituding melarang pramugarinya untuk mengenakan jilbab saat bertugas sebagai awak kabin di dalam pesawat.
Direktur Utama Garuda Indonesia, Irfan Setiaputra, menyebut pihaknya akan segera mengumumkan aturan terkait hal tersebut.
“Nanti, segera kami akan informasikan ke publik. Saya lagi bangun narasi supaya tidak ada salah paham,” kata Irfan saat bertemu di Kantor Operasional Garuda, Cengkareng, Rabu (22/2).
Irfan menegaskan tidak pernah melarang pramugarinya menggunakan jilbab saat bekerja. Ia juga telah melakukan pembicaraan dengan berbagai pihak dan stakeholder.
“Kami tidak pernah melarang. Kami lagi mencari cara yang paling pas, untuk kemudian memberi kesempatan bagi mereka yang ingin berjilbab untuk terus menggunakan. Tapi juga harus dimengerti, kami mau mengedepankan azas yang benar,” kata Irfan melanjutkan
Sebagai salah satu bentuk layanan, menurut Irfan Garuda Indonesia menyediakan minuman beralkohol untuk beberapa rute tertentu. Bagi pramugari yang mengenakan jilbab perlu memperhatikan hal ini, jangan sampai saat bekerja karena tidak mau melayani, lantas jadi merepotkan yang lain.
Irfan mempersilakan awak kabinnya yang perempuan yang menggunakan jilbab untuk tetap memakainya. Nanti mereka bisa ditugaskan untuk rute umroh atau beberapa rute domestik.
Namun, perlu dicatat ada beberapa rute yang tidak bisa ditempatkan dengan pakaian berjilbab itu.
“Ini makanya saya mau bangun narasi yang benar dulu, supaya tidak dipelintir. Tunggu tanggal mainnya, kita lagi finalisasi narasi supaya tidak multitafsir, tidak kemana-mana,” kata dia.
Dalam kesempatan sebelumnya Irfan menegaskan Garuda memegang komitmen perusahaan dalam mengedepankan prinsip inklusivitas pada seluruh profesi karyawannya, termasuk awak pesawat. Dengan komitmen tersebut Garuda membuka opsi dan ruang diskusi penggunaan jilbab bagi pramugari Garuda Indonesia.
Garuda memiliki nilai dan visi yang sama atas masukan dari berbagai pihak, terkait atribut seragam awak pesawat, khususnya mengenai penggunaan jilbab bagi pramugari.
Terkait kesiapan penggunaan jilbab pada seragam pramugari, Garuda tidak hanya meninjau dari kepentingan aspek layanan dan keamanan. Perseroan juga memastikan terjaganya kepentingan pramugari sebagai individu yang memilih opsi penggunaan jilbab, dalam kesiapannya sebagai garda terdepan pelayanan penerbangan Garuda Indonesia yang bergerak di segmen penerbangan full service.
Penggunaan jilbab pada seragam pramugari perlu dilandasi kajian yang prudent dan komprehensif. karena itu, Garuda Indonesia terus menjalin komunikasi intensif dengan berbagai stakeholder terkait, untuk memastikan kesiapan penggunaan jilbab dapat dilandasi oleh kebijakan operasional yang komprehensif.
Melalui sejumlah layanan rute penerbangan, saat ini Garuda Indonesia telah menerapkan penyesuaian atribut seragam awak pesawat. Hal ini mengacu pada regulasi destinasi tujuan maupun terkait kepentingan layanan penerbangan haji. Dalam penerbangan ini pramugari menggunakan seragam abaya dan jilbab.
Permasalaham tudingan larangan mengenakan hijab atau jilbab bagi awak kabin Garuda pertama kalinya dipicu oleh permintaan Andre Rosiade dalam rapat dengar pendapat Komisi VI dengan Direktur Utama PT Garuda Indonesia di DPR, Jakarta, Senin (5/12/2022).
Andre menyoroti aturan terkait tata cara berpakaian bagi awak kabin maskapai penerbangan Garuda.
Menurut Andre, Garuda Indonesia belum mengakomodir aturan bagi pramugari untuk mengenakan jilbab secara permanen.
Belakangan, Andre mengungkapkan, sejauh ini hanya ada dua maskapai yang memiliki aturan memperbolehkan para pramugarinya mengenakan jilbab, yaitu maskapai pelat merah Citilink dan maskapai swasta Sriwijaya Air. Kebijakan melarang mengenakan Jilbab bagi Pramugari adalah tidak hanya melanggar hak konstitusional warga negara juga merupakan pelanggaran hak azasi manusia (HAM) dan harus segera dituntaskan..





















