Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI)
Jakarta – “Gila lu, baru sebulan bekerja!”
Ungkapan bernada seloroh itu meluncur dari mulut Purbaya Yudhi Sadewa menanggapi suara publik yang mendaulatnya untuk maju sebagai calon wakil presiden di Pemilu 2029. Maklum, Purbaya baru sebulan menjabat Menteri Keuangan, menggantikan Sri Mulyani Indrawati.
Namun, itulah fenomena khas Indonesia. Begitu seorang tokoh muncul ke permukaan karena gebrakan-gebrakannya, langsung dielu-elukan publik untuk menjadi seorang pemimpin.
Fenomena semacam ini juga menimpa Dedi Mulyadi, saat awal-awal Gubernur Jawa Barat itu melancarkan gebrakan-gebrakannya. Misalnya, ia menebus ribuan ijazah siswa yang tertahan pihak sekolah karena belum membayar SPP. Pun, menghapus tunggakan dan denda pajak kendaraan bermotor.
Adapun gebrakan-gebrakan Purbaya antara lain menarik dana milik pemerintah yang ngendon di Bank Indonesia (BI). Sebanyak 200 triliun rupiah di antaranya dikucurkan ke bank-bank negara.
Purbaya juga berani melawan Luhut Binsar Pandjaitan, Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) yang di pemerintahan sebelumnya menjabat menteri segala menteri, terkait program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Luhut melarang Purbaya menarik kembali anggaran MBG jika serapannya rendah. Namun Purbaya tak peduli.
Popularitas Purbaya pun langsung melambung tinggi, melampaui popularitas seluruh anggota Kabinet Merah Putih. Bahkan melampaui Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka yang memang tidak populer.
Apakah fenomena Purbaya akan berlangsung sesaat saja seperti fenomena Dedi Mulyadi?
Kita tidak tahu pasti. Yang jelas, ada yang diam-diam disinyalir gusar. Siapa dia? Siapa lagi kalau bukan Gibran.
Bagi putra sulung Presiden ke-7 Joko Widodo ini, Purbaya adalah sebuah ancaman. Bekas Kepala Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) itu kian menenggelamkan popularitas Gibran yang memang sudah tidak populer. Bagaimana bisa seorang wapres tidak menghadiri reshuffle kabinet yang digelar Presiden Prabowo Subianto di Istana Negara, Jakarta?
Mungkin ia memang sudah tidak dianggap Prabowo. Ada atau tidak ada Gibran, tak memberi dampak signifikan.
Tidak itu saja. Jika popularitas Purbaya tetap terjaga, maka ia bisa menjadi ancaman bagi Gibran yang sudah didaulat Jokowi untuk maju lagi sebagai cawapresnya Prabowo di Pemilu 2029. Bahkan bisa menjadi ancaman bagi Prabowo sendiri, karena Purbaya bisa jadi akan maju sebagai capres.
Dari sisi popularitas, posisi Gibran memang dalam bahaya besar. Dan popularitas sering kali berbanding lurus dengan elektabilitas.
Bisa saja secara politik Gibran mendapat dukungan yang kuat dari partai-partai politik anggota koalisi pendukung pemerintah. Tapi di kalangan masyarakat pemilih, belum tentu Gibran mendapat dukungan yang sepadan. Apalagi banyak berita negatif ihwal pendidikannya, dan juga dugaan ijazah palsu ayahnya. Semua itu akan menggerus popularitas dan elektabilitas Gibran.
Kini, Gibran berada dalam bayang-bayang Purbaya.

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI)




















