• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

SIKLUS SEJARAH POLITIK NU: DARI ORDE BARU KE ERA JOKOWI – ANTARA KEKUASAAN DAN KEMUNAFIKAN

fusilat by fusilat
October 11, 2025
in Feature, Politik
0
Share on FacebookShare on Twitter

*Oleh: Malika Dwi Ana

Luka Sejarah dan Siklus yang Tak Terelakkan

Sejarah adalah cermin yang tak pernah bohong, namun sering diabaikan. Kekisruhan elit politik selalu meninggalkan luka pada rakyat kecil yang tak berdosa, dan Nahdlatul Ulama (NU), sebagai organisasi Islam terbesar di Indonesia, tak pernah lepas dari pusaran ini. Sejarah berulang dalam siklus—bisa sehari, sebulan, puluhan tahun, bahkan ratusan tahun. Dari trauma Orde Baru hingga dominasi politik di era Joko Widodo (Jokowi), NU menari di antara godaan kekuasaan dan kompromi moral. KH Idham Chalid pernah memperingatkan KH Hasyim Muzadi di awal Orde Baru: “Kita baru selesaikan komunis, jangan buru-buru minta demokrasi. Yang saya khawatirkan adalah kemunafikan puluhan tahun ke depan—racun yang terasa madu.” Peringatan ini kini menjadi cermin tajam: apakah NU telah tenggelam dalam pragmatisme yang merusak jati dirinya sebagai penjaga moral dan keadilan?

Orde Baru: Trauma dan Pembelajaran Pragmatis

Di bawah rezim Orde Baru (1966-1998), NU mengalami luka sejarah yang mendalam. Peristiwa Gestapu (G30S) 1965 menempatkan NU di garis depan dalam pembantaian massal terhadap anggota dan simpatisan PKI, yang diperkirakan menewaskan 500.000 hingga 1 juta jiwa (Amnesty International, 2015). Namun, alih-alih mendapat tempat terhormat, NU justru menjadi korban represi Soeharto. Pada 1973, Partai Nahdlatul Ulama dipaksa bubar dan dilebur ke dalam Partai Persatuan Pembangunan (PPP), hal ini menggerus pengaruh politik organisasi yang mengklaim memiliki 25-30 juta anggota. NU dipinggirkan, dipaksa berfokus pada dakwah dan pesantren, sementara suara politiknya diredam. Di tengah represi, NU belajar bermain di bawah bayang-bayang kekuasaan. Saat Hasyim Muzadi dan aktivis PMII menuntut demokratisasi, KH Idham Chalid menasihati dengan penuh kearifan: biarkan Soeharto berkuasa, karena waktunya belum tepat untuk melawan. Strategi pragmatis ini terbukti berhasil saat Reformasi 1998 membawa Abdurrahman Wahid (Gus Dur) ke kursi presiden. Namun, kemenangan ini mahal harganya: terjadi perpecahan internal, konflik antar-elit, dan luka baru di tubuh NU. Siklus ini menunjukkan bahwa kekuasaan selalu punya dua wajah—antara peluang dan pengkhianatan—dan NU mulai terpikat oleh rasanya.

Reformasi: Kebangkitan dengan Bayang-Bayang Kemunafikan

Reformasi 1998 menjadi titik balik. NU bangkit melalui Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), yang meraih 12,6% suara pada Pemilu 1999 dan konsisten di kisaran 9-12% hingga 2019 (KPU, 2019). Dengan 20-25% kursi DPR melalui koalisi, NU memengaruhi kebijakan strategis, seperti otonomi daerah dan pendanaan pesantren melalui UU No. 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Namun, di balik kejayaan politik, tuduhan kemunafikan mulai mencuat. NU mendukung Megawati Soekarnoputri pada 2004, meski berseberangan dengan Gus Dur, tokoh sentral mereka sendiri. Demokrasi yang dijanjikan Reformasi berubah menjadi “rumah Kurawa”—penuh intrik, rendah etika, dan dikuasai nafsu serakah. Data Indonesia Corruption Watch (ICW) mencatat lebih dari 2.500 kasus korupsi setiap tahun pasca-Reformasi, dengan banyak elit politik, termasuk dari basis NU, terlibat. Korupsi bukan hanya soal angka, tetapi juga pengkhianatan terhadap rakyat kecil yang NU klaim sebagai rakyat yang dibela. Siklus sejarah kembali terlihat: dari trauma Orde Baru, NU menuju kompromi politik yang mengikis jiwa perjuangannya sebagai penjaga moral umat.

Era Jokowi: Dominasi Strategis yang Penuh Kompromi

Sepuluh tahun pemerintahan Jokowi (2014-2024) menandai puncak pengaruh politik NU. Puncaknya adalah ketika KH Ma’ruf Amin menjadi Wakil Presiden (2019-2024), mengunci suara 90 juta warga Nahdliyyin dalam Pilpres 2019. PKB meningkat dari 6,8% suara (2014) menjadi 9,7% (2019), mengamankan 47 kursi DPR dan lima pos menteri, termasuk Yaqut Cholil Qoumas sebagai Menteri Agama. Kebijakan pro-NU mengalir deras: UU Pesantren 2019 mengalokasikan Rp 500 miliar per tahun untuk pesantren, Rp 1,2 triliun untuk infrastruktur, dan Rp 300 miliar untuk sertifikasi guru (Kemenag, 2022). Namun, di balik kemenangan ini, ada racun yang mematikan. NU dikritik karena komprominya dengan oligarki politik. Dukungan kepada Jokowi di 2019 terlihat strategis, tetapi pecah pada Pilpres 2024 saat Jokowi mendorong pasangan Prabowo-Gibran, yang bertentangan dengan sebagian elit NU. Konflik agraria melonjak, dengan 73 kasus terkait Proyek Strategis Nasional (PSN) antara 2019-2022 (KPA, 2023). Kemiskinan tetap stagnan di 9,5% (BPS, 2023), dan revisi kurikulum pendidikan menghapus narasi G30S, yang dianggap sebagian kalangan NU sebagai upaya menutup luka sejarah demi kepentingan politik. NU, yang seharusnya menjadi benteng rakyat, justru terlihat ikut bermain api demi mempertahankan posisi strategisnya.

Menghancurkan Sejarah Lewat Pendidikan

Kasus NU mengajarkan pelajaran pahit: sejarah tidak dihancurkan dengan kekerasan, melainkan melalui pendidikan. Dengan 30% kursi di Komisi X DPR, NU memiliki kuasa besar atas narasi pendidikan nasional. Namun, revisi buku teks sejarah dan penghapusan kata “agama” dari visi pendidikan nasional 2035 memicu kemarahan publik, terutama kalangan Nahdliyyin. Skor PISA Indonesia merosot ke 371 pada 2022 (OECD, 2022), meski anggaran pendidikan naik 20% menjadi Rp 620 triliun. Ironisnya, kebijakan pendidikan yang seharusnya mencerdaskan justru menjadi alat elitisme, mengingatkan pada sensor sejarah NU di era Orde Baru. Rakyat kecil, yang seharusnya menjadi fokus perjuangan NU, tetap menjadi korban bisu di tengah ambisi elit.

Demokrasi Kurawa: Kegaduhan untuk Keserakahan

Kekhawatiran KH Idham Chalid terbukti. NU kini berhadapan dengan “kemunafikan” yang KH Idham Chalid ramalkan: yakni kompromi dengan kekuasaan demi posisi strategis. Demokrasi Indonesia bukan lagi tentang kehendak rakyat, melainkan ‘sakkarepe dhewe’—gaduh, penuh intrik, dan dikuasai elit serakah. Data Konsorsium Pembaruan Agraria mencatat 2.939 konflik agraria antara 2015-2023, sementara subsidi BBM sering “dimakan” pejabat melalui kebocoran anggaran. Kegaduhan politik sengaja disulut untuk mengalihkan perhatian dari kemiskinan, ketimpangan, dan kemerosotan spiritual pemimpin. Tujuannya jelas: kekuasaan yang abadi, layaknya Kurawa yang tak pernah puas dalam epos Mahabharata.

Kesimpulan: Waktunya NU Memutus Siklus

NU kini berdiri di persimpangan sejarah. Kekuasaan di era Jokowi adalah buah Reformasi, tetapi juga pengulangan trauma Orde Baru: dari represi menuju kompromi yang berujung kemunafikan. Nasihat KH Idham Chalid tetap relevan: eling dan waspada terhadap racun madu kekuasaan. Kaum Nahdliyyin harus memilih jalan lurus—bukan menang-kalah, melainkan kebenaran dan keadilan. Demokrasi bukan tujuan akhir, melainkan alat untuk menciptakan kenegarawanan, bukan “rumah Kurawa” yang gaduh demi ambisi serakah. Untuk memutus siklus ini, NU perlu kembali ke akarnya: menjaga moralitas, memperjuangkan rakyat kecil, dan melawan godaan pragmatisme. Dengan etika tinggi dan komitmen pada kebenaran, NU dapat menyelamatkan diri dari jurang kemunafikan dan melindungi rakyat dari luka elit. Waktunya bertindak, atau NU akan tenggelam selamanya dalam pusaran sejarah yang ia ciptakan sendiri. (MDA’s insight)

*Wukir Mahendra, 11192025

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Gibran dalam Bayang-bayang Purbaya

Next Post

Purbaya Ideal Minta KPK atau Jaksa Agung Investigasi Erick–Jokowi Terkait Utang Whoosh

fusilat

fusilat

Related Posts

Feature

Mundurnya Gubernur Bank Indonesia

July 28, 2026
Gagal Awal – Luka dalam Grafik: Ketika Ekonomi 4,7 Persen Tak Menjawab Kebutuhan Rakyat
Feature

Orasi Prabowo: Politik Gaduh di Tengah Menurunnya Kepercayaan Publik

July 28, 2026
Ketika Presiden Mulai Memusuhi Pers – Lima pelajaran sejarah yang seharusnya menjadi cermin bagi Prabowo
Feature

Ketika Presiden Mulai Memusuhi Pers – Lima pelajaran sejarah yang seharusnya menjadi cermin bagi Prabowo

July 28, 2026
Next Post
Erick Thohir: Mohon Maaf Pertamax Naik, tapi Pertalite Disubsidi

Purbaya Ideal Minta KPK atau Jaksa Agung Investigasi Erick–Jokowi Terkait Utang Whoosh

Amuba Dusta Jokowi: Warisan Moral yang Merusak, Urgensi Evaluasi Kesehatan demi Tanggung Jawab Hukum

Virus Jokowi: Ketika Dusta Jadi Kebijakan, Pelanggaran Jadi Tradisi

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Habis Nanik, Terbitlah Hotman
Feature

Habis Nanik, Terbitlah Hotman

by Karyudi Sutajah Putra
July 23, 2026
0

Jakarta - Setelah Nanik S Deyang, kini giliran pengacara kondang Hotman Paris Hutapea yang menyatakan mundur. Jika Nanik mundur dari...

Read more
Mengamputasi Febrie, Mengantar Reda Manthovani?

Mengamputasi Febrie, Mengantar Reda Manthovani?

July 11, 2026
AJI Jakarta dan LBH Pers Desak Panglima TNI Usut Kasus Intimidasi Jurnalis di Kantor Kejagung

AJI Jakarta dan LBH Pers Desak Panglima TNI Usut Kasus Intimidasi Jurnalis di Kantor Kejagung

July 10, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Reaktivasi Bandara Husein Dipercepat, Bandung Bersiap Kembali Jadi Gerbang Penerbangan Domestik dan Internasional

Reaktivasi Bandara Husein Dipercepat, Bandung Bersiap Kembali Jadi Gerbang Penerbangan Domestik dan Internasional

July 29, 2026
Gempa 7,1 Magnitudo Guncang Kumamoto, Jepang: Puluhan Korban Terjebak, Operasi Penyelamatan Berlangsung

Gempa 7,1 Magnitudo Guncang Kumamoto, Jepang: Puluhan Korban Terjebak, Operasi Penyelamatan Berlangsung

July 29, 2026
Bandung Gelap, Warga Resah: Jalan Minim Penerangan Diduga Memicu Maraknya Aksi Begal

Bandung Gelap, Warga Resah: Jalan Minim Penerangan Diduga Memicu Maraknya Aksi Begal

July 28, 2026

Mundurnya Gubernur Bank Indonesia

July 28, 2026
Prestasi Berawal dari Disiplin, UPT SMAS Datuk Ribandang Gembleng Karakter Siswa Baru

Prestasi Berawal dari Disiplin, UPT SMAS Datuk Ribandang Gembleng Karakter Siswa Baru

July 28, 2026
Gagal Awal – Luka dalam Grafik: Ketika Ekonomi 4,7 Persen Tak Menjawab Kebutuhan Rakyat

Orasi Prabowo: Politik Gaduh di Tengah Menurunnya Kepercayaan Publik

July 28, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Reaktivasi Bandara Husein Dipercepat, Bandung Bersiap Kembali Jadi Gerbang Penerbangan Domestik dan Internasional

Reaktivasi Bandara Husein Dipercepat, Bandung Bersiap Kembali Jadi Gerbang Penerbangan Domestik dan Internasional

July 29, 2026
Gempa 7,1 Magnitudo Guncang Kumamoto, Jepang: Puluhan Korban Terjebak, Operasi Penyelamatan Berlangsung

Gempa 7,1 Magnitudo Guncang Kumamoto, Jepang: Puluhan Korban Terjebak, Operasi Penyelamatan Berlangsung

July 29, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

Loading Comments...