“Saya rasa sebagai seorang menteri, Pak Mahfud seharusnya bisa sejalan dengan arahan Pak Jokowi. Namun, kritik yang dilakukan itu terkesan tidak ada etika,” ucap Rudi, Jumat (6/5).
Direktur Lembaga Kajian Anak Bangsa (LKAB) Rudi S Kamri menilai ada beberapa menteri yang tidak lagi memiliki etika dalam membuat pernyataan ke publik. Rudi mengatakan, Menko Polhukam Mahfud MD pun terlihat keluar dari arahan Presiden Jokowi dengan mengkritik langsung kepemimpinannya.
Rudi menjelaskan, Mahfud MD seharusnya membantu Presiden Jokowi dalam menciptakan keharmonisan pasca-polarisasi yang terjadi Pemilu 2019. Menurutnya, sebagai seorang Menko Polhukam, Mahfud MD memiliki tugas berat dengan kembali mempersatukan kelompok-kelompok yang berbeda.
“Jika melihat polarisasi yang terjadi pada 2019, itu sebenarnya menjadi tugas Pak Mahfud untuk membantu presiden. Sudah saatnya Presiden Jokowi mencubit atau mendisiplinkan menteri yang keluar dari arahannya,” jelasnya.
Selain itu, Rudi menganggap kritik yang dilayangkan Menko Polhukam Mahfud MD serasa tidak tepat.
Sebab, posisi Mahfud MD ialah orang kepercayaan Presiden Jokowi untuk menstabilkan polemik yang terjadi soal polarisasi tersebut.
Diluar dugaan kita semua, saat Bulan Puasa yang baru lalu, kita semua dikejutkan oleh pernyaaan Mahfud MD, bahwa Indonesia memerlukan Strong Leader, yang bisa mempersatukan anak bangsa, memberantas korupsi, dan seterusnya.
Inilah pernyataan yang teramat jujur, dari seorang Mahfud, yang menerangkan bawa Indonesia memerlukan Strong Leader tahun 2024 nanti. Tanpa ia sadari, mungkin, bahwa alasan-alasan yang mendasarinya itu, justru potret dari keadaan saat ini, yang ia risaukan sendiri. Tapi kata lain juga, seolah-olah ia tak berdaya, untuk merajut kehidupan bangsa ini, melalui kewenangan dan kekuasaan yang sedang dipegangnya. Pedang tajam keilmuannya, tumpul untuk bisa menyabit hama ilalang ideologis dan koruptif yang sedang merambah diberbagai kehidupan Hutan Politik Indonesia.
Ada beberapa poin yang ia sampaikan, pertama soal berbagai kasus yang terjadi saat ini, seperti pengeroyokan kepada Ade Armando, itu muara diatasnya ada pada persoalan Ideologi. Bahwa masalah ideologi ini, sudah sampai pada titik yang meresahkannya, karena telah terbentuk polarissasi yang tajam didalam kehidupan masyarakat. Beliau mengungkapkan lebih lanjut, bahwa hal itu secara harfiyah dapat diterangkan adalah persoalan kedudukan Agama dan Negara.
Situasi yang chaos seperti saat ini, dimana hampir setiap peristiwa, seringkali terjadi bentrok horizontal dan bahkan vertical dengan aparat, dipahami sebagai demokrasi yang sudah terganggu. Dibeberapa negara, terutama di negara-negara Amerika Latin, situasi seperti itu berakibat terjadinya Kudeta, tambah Mahfud.
Issue yang lebih serem, juga diungkapkannya, adalah soal Korupsi, yang telah terjadi dimana-mana: Eksekutif, Legislative dan bahkan Judikatif. Rupanya issue lama ini, masih tetap ada dalam catatannya, yang tetap belum beranjak, sebagai current issue aib bangsa ini.
Dari uraian diatas, Mahfud MD, sesungguhnya sedang menelanjangi apa yang sedang terjadi dalam kehidupan social dan ketata negaraan, dimana ia sedang berada didalamnya. Ini penjelasan dan tela’ahan soal aib yang shahih dan mutawatir karena perawinya adalah orang yang kredibel.
Itu semua, sebenarnya terpulang kepada sosok Pemimpin yang sedang berkuasa saat ini, yang secara telanjang, Ia tak mampu berbuat banyak, sehingga lahirlah berbagai macam problema bangsa dan kehidupan chaos politik tersebut. Tidak faham melihat esensi apa yang harus diemban. Tidak mengerti pokok dan akar masalah yang sesungguhnya, yang kemudian salah judgmen. Diperkeruh lagi oleh salah menempatkan actor-aktor pasukannya, karena mungkin desakan berbagai elemen parpol pendukungnya, sehingga setiap lagkah-langkahnya menjadi boomerang kepadanya.





















