Fusilatnews – Bila ada satu panggung yang mampu merangkum watak politik Indonesia dalam bentuk komedi yang nyaris tak disengaja, barangkali perayaan ulang tahun Partai Amanat Nasional ke-26 di Jakarta, 23 Agustus 2024, layak disebut contohnya. Di hadapan para elite partai, menteri, pimpinan parlemen, hingga Presiden Joko Widodo, Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan melempar pujian yang terdengar seperti sanjungan—namun beraroma satire—kepada Ketua Umum Partai Golkar, Bahlil Lahadalia.
“Dia ini jebolan Golkar, jebolan HMI, jebolan Hipmi. Semua diolah,” ujar Zulkifli sambil menekankan kata terakhir. Tawa pun pecah. Bukan semata karena lucu, tetapi karena semua yang hadir paham: kata olah di politik Indonesia bukan sekadar mengaduk bahan masakan. Ia adalah metafora kelicinan.
Zulkifli lalu menarik ingatan ke masa lalu. Ia menyebut Akbar Tandjung, mantan Ketua Umum Golkar, sebagai politisi yang—meminjam istilahnya—“luar biasa licin.” Sebuah kalimat yang terdengar ringan, tetapi menyimpan rekam jejak berat: vonis korupsi dana Bulog, putusan pengadilan, lalu pembebasan di tingkat Mahkamah Agung. Akbar selamat, partai selamat, dan politik Indonesia mencatat satu pelajaran penting: di negeri ini, kelincahan sering lebih menentukan daripada ketegasan moral.
Di tangan Bahlil, kata “olah-olah” menjelma kosakata politik baru. Ia sendiri gemar mengulangnya dalam pidato-pidatonya, seakan sedang mengajarkan bahwa kekuasaan adalah dapur besar—siapa yang paling lihai mengolah, dialah yang bertahan. Bahkan office boy pun, katanya, bisa mengolah. Maka apalagi pengurus partai.
Lahir di Banda, tumbuh di Papua, lalu menyerap budaya Jawa dari keluarga istrinya, Bahlil adalah hasil kawin silang berbagai kultur: spontanitas Timur dan kecermatan pasemon Jawa. Kalimatnya kerap blak-blakan, tetapi selalu punya pintu belakang untuk keluar dari jebakan. Ia tahu kapan harus bicara keras, kapan menyamarkan maksud. Inilah seni bertahan di rimba politik Nusantara.
“Olah-olah” akhirnya tak lagi berarti proses, melainkan strategi. Ia adalah cara menyiasati hukum tanpa menantangnya, menikung tanpa menabrak, menyerang tanpa memicu perang terbuka. Sebuah seni bergerak di antara garis tegas benar dan salah—wilayah abu-abu yang justru paling ramai dihuni politisi kita.
Dalam sistem politik yang masih beraroma feodalisme Jawa, figur seperti Bahlil menemukan habitat ideal. Gaya bicaranya boleh tampak kasar, bahkan norak bagi sebagian kalangan. Namun ia membaca arah angin dengan presisi. Ia naik bukan karena reputasi aktivisme besar, bukan pula karena warisan dinasti, melainkan karena kemampuan menempatkan diri di titik yang tepat, pada waktu yang tepat.
Pada akhirnya, tawa di acara ulang tahun PAN itu bukan sekadar tawa hiburan. Ia adalah tawa pengakuan kolektif: bahwa di panggung politik Indonesia, yang paling bertahan bukan selalu yang paling cerdas, paling bersih, atau paling berintegritas—melainkan mereka yang paling piawai mengolah keadaan.
Dan di negeri ini, barangkali itulah definisi kekuasaan yang sesungguhnya.




















