• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Crime

Harga Bawang Mahal Saja Presiden Harus Bertanggung Jawab, Apalagi Nyawa dan Keadilan

Damai Hari Lubis - Mujahid 212 by Damai Hari Lubis - Mujahid 212
April 28, 2025
in Crime, Feature
0
Ketika Ijazah Lahir Terlambat
Share on FacebookShare on Twitter

Damai Hari Lubis – Pengamat Kebijakan Umum Hukum dan Politik

Kepemimpinan Joko Widodo selama sepuluh tahun terakhir telah meninggalkan banyak catatan kelam yang tak bisa dihapus begitu saja. Dalam berbagai momentum penting, nyawa rakyat menjadi taruhan, hukum kehilangan wibawa, dan keadilan terkubur oleh kepentingan kekuasaan.

Tragedi KM 50 pada 2020 adalah salah satu contoh nyata. Enam anggota Front Pembela Islam tewas dalam sebuah operasi aparat negara. Namun hingga kini, proses hukum berhenti pada pelaku lapangan, tanpa pernah mengungkap aktor intelektual di balik peristiwa tersebut. Hukum berhenti pada level operasional, bukan struktural. Ini bukan sekadar kelalaian; ini adalah bentuk pembiaran sistemik.

Lebih jauh ke belakang, saat Pilpres 2019, bangsa ini dikejutkan oleh kematian massal: 894 petugas KPPS meregang nyawa dalam proses pemilu. Anehnya, tidak pernah ada visum et repertum yang diajukan, tidak pernah ada investigasi komprehensif yang diterbitkan. Semuanya seakan lenyap dalam diam. Negara yang seharusnya melindungi warganya justru abai, menjadikan kekuasaan tampak lebih mirip negara kriminal (state of crime) daripada negara hukum.

Dua tragedi besar ini saja sudah cukup untuk mempertanyakan integritas moral dan tanggung jawab politik seorang kepala negara. Namun, daftar catatan hitam itu ternyata masih bertambah panjang.

Dalam kasus dugaan penggunaan ijazah palsu oleh Joko Widodo, publik kembali disuguhi pemandangan menyedihkan tentang bagaimana kekuasaan bekerja untuk melindungi diri sendiri. Tuduhan yang diajukan Bambang Tri Mulyono dan Gus Nur seharusnya menjadi bagian dari kontrol rakyat kepada pejabat publik, sebagaimana diamanatkan Undang-Undang Keterbukaan Informasi Publik.

Namun yang terjadi justru sebaliknya. Bukan klarifikasi yang diberikan, melainkan kriminalisasi. Bambang Tri dan Gus Nur dipenjara. Kini, empat aktivis lain dari Tim Pembela Ulama dan Aktivis (TPUA) pun menghadapi tekanan serupa hanya karena mempertanyakan keaslian ijazah Presiden.

Bahkan sebelum laporan mereka resmi masuk, intimidasi sudah terasa:

  • Eggi Sudjana, bagian dari TPUA, tiba-tiba dipanggil penyidik Polri pada hari yang sama ketika dijadwalkan mengunjungi UGM dan rumah Jokowi di Solo.
  • Kelompok premanisme dibiarkan beraksi, menghalau rencana kunjungan TPUA, dengan berita yang sengaja dipublikasikan untuk menciptakan suasana intimidatif.
  • Saat akhirnya Jokowi menunjukkan ijazah kepada 11 wartawan, peliputan dibatasi — tidak boleh memotret — sebuah pelanggaran serius terhadap Undang-Undang Pers.
  • Kepada TPUA, Jokowi menolak memperlihatkan ijazahnya dengan alasan “tidak berkewajiban”, bertentangan dengan prinsip keterbukaan informasi.
  • Bahkan di hadapan anggota TPUA, Jokowi secara implisit menyatakan, “memalsukan ijazah S-1 tidak apa-apa, kecuali S-2 atau S-3” — sebuah pernyataan yang fatal dari seorang kepala negara.

Dalam persidangan kasus Bambang Tri Mulyono dan Gus Nur, fakta-fakta ganjil terungkap: penyidik tidak pernah mengantongi berita acara pemeriksaan dari Jokowi. Jaksa, hakim, hingga pengacara hanya menerima foto kopi ijazah tanpa verifikasi terhadap dokumen aslinya. Namun tetap saja, vonis enam tahun penjara dijatuhkan.

Semua fakta ini bermuara pada satu kesimpulan sederhana: dalam sistem demokrasi dan negara hukum, presiden — bahkan mantan presiden — tak boleh kebal dari akuntabilitas.

Jika soal harga bawang merah mahal saja menjadi tanggung jawab presiden, apalagi soal nyawa manusia, keadilan hukum, dan keaslian identitas diri. Tidak ada pengecualian. Asas primus inter pares — semua setara di hadapan hukum — harus ditegakkan.

Presiden Prabowo Subianto, sebagai pemimpin baru, menghadapi tantangan besar. Ia harus membuktikan bahwa pemerintahannya berbeda dari pendahulunya. Prabowo idealnya segera menginstruksikan Kapolri untuk membuka kembali penyelidikan atas keaslian ijazah Jokowi, juga investigasi asal-usul identitas dirinya — sebagaimana temuan kejanggalan yang mengemuka di Pengadilan Negeri Surakarta.

Publik perlu diyakinkan bahwa bangsa ini tak lagi dipimpin oleh bayang-bayang masa lalu yang kelam. Bahwa negara ini berdiri di atas prinsip kejujuran, keadilan, dan keterbukaan, bukan tipu muslihat, kebohongan, dan manipulasi.

Sebab jika tidak, Indonesia akan terus terjerumus: menghormati pemimpin yang licik, membanggakan kekuasaan yang lahir dari dusta, dan mengabadikan ketidakadilan sebagai norma. Itulah harga mahal yang tak sanggup kita bayar lagi sebagai bangsa.

Negara Republik Indonesia tidak boleh tercoreng oleh satu sosok manusia yang gagal menunjukkan kehormatan moral. Tidak layak pula seorang bekas presiden yang terindikasi culas diberi hadiah rumah dan tanah oleh negara. Sebaliknya, bangsa ini butuh keteladanan — pemimpin yang jujur dalam kata dan perbuatan.

Sejarah akan menghakimi siapa saja yang membiarkan bangsa ini terpuruk dalam kelicikan dan kebohongan.

Kini, pilihan ada di tangan kita: melanjutkan jalan gelap itu, atau berani membalikkan arah — demi keadilan, kebenaran, dan kehormatan bangsa.

 

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Negara yang Dipimpin oleh Pembaca Komik – Pengakuan Jujur Gibran Produk Tidak Suka Membaca

Next Post

Duet Besi Amran-Sudaryono: Mengobati Luka, Menggenjot Swasembada

Damai Hari Lubis - Mujahid 212

Damai Hari Lubis - Mujahid 212

Related Posts

Menguji Klaim Fahri Hamzah atas Kinerja Ekonomi Prabowo
Feature

Menguji Klaim Fahri Hamzah atas Kinerja Ekonomi Prabowo

April 18, 2026
Ketika Kritik Dipidanakan, Demokrasi Sedang Diuji (dengan Kasus Ubedilah dan Saiful Mujani)
Feature

Ketika Kritik Dipidanakan, Demokrasi Sedang Diuji (dengan Kasus Ubedilah dan Saiful Mujani)

April 18, 2026
Rismon Sianipar: Ketika “Ilmiah” Menjadi Senjata, Lalu Berbalik Menjadi Bumerang
Feature

Rismon Sianipar: Ketika “Ilmiah” Menjadi Senjata, Lalu Berbalik Menjadi Bumerang

April 17, 2026
Next Post
Duet Besi Amran-Sudaryono: Mengobati Luka, Menggenjot Swasembada

Duet Besi Amran-Sudaryono: Mengobati Luka, Menggenjot Swasembada

Komunikasi Dua Arah yang Terputus: Belajar dari Blusukan Jokowi hingga Monolog YouTube Gibran

Komunikasi Dua Arah yang Terputus: Belajar dari Blusukan Jokowi hingga Monolog YouTube Gibran

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Blanket Overflight Militer AS Ancaman Serius bagi Kedaulatan Indonesia
News

Blanket Overflight Militer AS Ancaman Serius bagi Kedaulatan Indonesia

by fusilat
April 17, 2026
0

Jakarta-FusilatNews - Awal minggu ini beredar sejumlah laporan media internasional yang mengungkap adanya upaya Amerika Serikat (AS) untuk memperoleh akses...

Read more
Kekerasan Seksual di Kampus: Urgensi Tranformasi Holistik Lewat “Inclusive University Governance”

Kekerasan Seksual di Kampus: Urgensi Tranformasi Holistik Lewat “Inclusive University Governance”

April 15, 2026
Tanah dan Bangunan di Jalan Teuku Umar No 2 Menteng Bukan Milik Kemenhan RI, Ini Alasannya!

Tanah dan Bangunan di Jalan Teuku Umar No 2 Menteng Bukan Milik Kemenhan RI, Ini Alasannya!

April 13, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Menguji Klaim Fahri Hamzah atas Kinerja Ekonomi Prabowo

Menguji Klaim Fahri Hamzah atas Kinerja Ekonomi Prabowo

April 18, 2026
Mobil Listrik Tak Lagi Otomatis Bebas Pajak, Pemerintah Terapkan Skema Baru

Mobil Listrik Tak Lagi Otomatis Bebas Pajak, Pemerintah Terapkan Skema Baru

April 18, 2026
Gelombang Migrasi Politik ke PSI Menguat, NasDem Terkikis—Isu Merger dengan Gerindra Mencuat

Gelombang Migrasi Politik ke PSI Menguat, NasDem Terkikis—Isu Merger dengan Gerindra Mencuat

April 18, 2026
Ketika Kritik Dipidanakan, Demokrasi Sedang Diuji (dengan Kasus Ubedilah dan Saiful Mujani)

Ketika Kritik Dipidanakan, Demokrasi Sedang Diuji (dengan Kasus Ubedilah dan Saiful Mujani)

April 18, 2026
Rismon Sianipar: Ketika “Ilmiah” Menjadi Senjata, Lalu Berbalik Menjadi Bumerang

Rismon Sianipar: Ketika “Ilmiah” Menjadi Senjata, Lalu Berbalik Menjadi Bumerang

April 17, 2026
Pilkada Jakarta Selesai, Inisial S atau Kaesang?

PSI Klaim ‘Borong’ Kader NasDem, Nama-nama Disimpan: Manuver Senyap atau Sinyal Perang Politik?

April 17, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Menguji Klaim Fahri Hamzah atas Kinerja Ekonomi Prabowo

Menguji Klaim Fahri Hamzah atas Kinerja Ekonomi Prabowo

April 18, 2026
Mobil Listrik Tak Lagi Otomatis Bebas Pajak, Pemerintah Terapkan Skema Baru

Mobil Listrik Tak Lagi Otomatis Bebas Pajak, Pemerintah Terapkan Skema Baru

April 18, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

 

Loading Comments...