Fusilatnews – Kalau ada lomba pernyataan pejabat paling unik sedunia, mungkin Gubernur Jakarta Pramono Anung sudah masuk nominasi. Baru-baru ini, isu panas beredar: katanya makanan harimau di Ragunan dibawa pulang petugas. Netizen langsung panik, takut harimau di Ragunan berubah jadi model majalah kesehatan edisi “Tips Diet Ekstrem”.
Tapi Pramono tak kalah cepat merespons. Dengan gaya santai ala tetangga kompleks yang baru pulang senam pagi, ia bilang, “Pertama saya akan ngecek. Yang kedua, harimaunya itu sebenarnya milik saya pribadi.”
Nah, ini baru berita: Gubernur punya harimau pribadi. Di dunia politik yang penuh singa podium dan macan partai, ternyata ada juga gubernur yang betulan punya harimau. Namanya pun gagah: Raja. Cocok—karena di Jakarta, kadang yang berkuasa memang bukan manusia.
Pramono menambahkan, “Kalau saya jawab sekarang, pasti saya ngarang.”
Sebuah pernyataan jujur yang langka. Di negeri ini, justru lebih banyak pejabat yang ngarang dulu, baru ngecek kemudian. Maka mendengar Pramono berkata begitu, publik mungkin terharu: oh, jadi masih ada pejabat yang tahu kapan dia ngarang.
Tapi mari kita telusuri inti isu: video seekor harimau kurus mondar-mandir di kandang. Narasinya dramatis: pakan diambil petugas, harimau ditinggal puasa. Kalau harimau bisa main Twitter, mungkin dia sudah bikin thread tiga jam penuh keluhan.
Namun pihak Ragunan—melalui Mas Wahyudi yang kedengarannya sangat sabar—langsung membantah. Katanya, semua pakan satwa terstandar, diawasi dokter hewan, nutrisionis, kurator, dan entah siapa lagi yang mungkin jumlahnya lebih banyak dari staf gizi PON. Bahkan, tiap harimau mendapat lima kilogram daging setiap hari. Lima kilogram! Itu kalau manusia yang makan, mungkin langsung jadi ketua gym mendadak.
Wahyudi juga bilang banyak satwa hidup lebih lama dari umur normalnya. Artinya manajemen pakan aman. Mungkin justru manusianya yang perlu belajar diet dari harimau.
Namun yang membuat cerita ini makin menarik adalah pengakuan Pramono bahwa harimau kurus itu bisa jadi harimau miliknya sendiri. Maka persoalan jadi personal. Kalau benar petugas membawa pulang makanan sang Raja, itu berarti mereka sedang bermain-main dengan majikan yang salah. Kalau di sinetron kerajaan, ini sudah masuk kategori “mengurangi jatah makan pangeran”—hukuman biasanya dibuang ke sumur tua.
Tapi Pramono memilih lebih elegan: minggu depan ia mau ke Ragunan. Tidak mau komentar ngasal sebelum melihat sendiri. Ini contoh bagus buat warganet: jangan ngegas dulu sebelum ngecek. Cuma masalahnya, warganet itu kalau disuruh sabar, reaksinya sama seperti harimau dikasih menu salad.
Kisah ini sebenarnya memperlihatkan dua hal tentang Jakarta:
Pertama, di kota ini, bahkan harimau pun bisa jadi bahan gosip, apalagi pejabat. Maka wajar kalau Gubernur merasa perlu menjelaskan status kepimilikan harimau pribadinya, seperti orang menjelaskan sepeda lipat barunya.
Kedua, di era media sosial, siapa pun bisa berubah menjadi detektif kebun binatang, cukup dengan kamera ponsel dan caption dramatis. Sering kali fakta kalah telak dengan imajinasi berfilter.
Akhir kata, baik harimau, gubernur, petugas Ragunan, maupun penghuni Twitterlandia semuanya kini menunggu sidak minggu depan. Apakah Pramono akan menemukan bukti? Apakah Raja benar-benar kehilangan daging? Atau harimau itu sebenarnya hanya galau dan butuh enrichment?
Kita tunggu saja. Yang jelas, di Jakarta, kadang satu harimau bisa bikin hiruk-pikuk lebih besar dari rapat paripurna.
Dan seperti kata Mahbub Junaedi, bila politik sudah jadi tontonan komedi, jangan-jangan memang kita semua ini sedang bermain dalam sandiwara yang jauh lebih liar daripada isi Ragunan itu sendiri.





















