• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Crime

Harus Dipidanakan Tokoh Utamanya – Merampok Uang Rakyat Untuk PSN

Ali Syarief by Ali Syarief
November 29, 2025
in Crime, Feature
0
Makar atau Manipulasi? Saat Hukum Harus Menyentuh Jokowi
Share on FacebookShare on Twitter

Fusilatnews – Negara punya bahasa mutakhir untuk kejahatan lama: pembangunan. Di Indonesia hari ini, kata itu lebih mirip kitab suci yang tak boleh dikritik. Siapa menggugat, ia disingkirkan. Siapa menolak, ia dicap anti-investasi. Siapa bertanya soal hak rakyat, ia dituding berisik, sok tahu, atau provokator. Padahal, kegaduhan di panggung politik—yang terus berlangsung seperti sinetron tanpa tamat—boleh jadi hanya panggung pengalih perhatian, sementara di belakang layar perjanjian besar sedang diteken. Bukan untuk rakyat, melainkan untuk mereka yang sejak lama tak butuh antre di kolom pelayanan publik: oligarkhi.

Penjajahan tak lagi mengenakan seragam militer. Ia mengenakan setelan rapat kabinet. Ia tak mengibarkan bendera asing, karena dokumen sudah cukup: undang-undang, peraturan presiden, dan Perpres turunan bertindak sebagai meriam legal. Semua dibungkus stempel Proyek Strategis Nasional—paspor sakti yang membuat apa pun kebal dari tinjauan hukum biasa, seolah konstitusi menyingkir demi proyek.

Lihat ke Batam, ke Pulau Rempang. September 2023, dari foto-foto amatir di telepon genggam warga, terlihat awan gas air mata membumbung di kampung nelayan Melayu. Tujuh belas kampung digusur, rumah adat dirobohkan, cerita leluhur tergilas. Proyeknya: “Rempang Eco City”. Bahasanya hijau, eksekusinya kelabu. Investor utamanya, Xinyi Group dari China, menguasai 70 persen saham. Warga diminta pindah ke rusun jauh di pelosok. Menolak? Aparat datang—TNI dan Polri—bukan sebagai tameng keselamatan warga, melainkan sebagai satgas pengamanan investor. Ironi itu begitu megah: negara absen saat rakyat butuh dilindungi, tapi hadir penuh saat modal butuh dikawal.

Pola itu berulang di tempat-tempat lain, seperti kutukan yang disalin-tempel. Mandalika di Lombok: ribuan hektare tanah adat Sasak dirampas demi sirkuit dan hotel. Investor Prancis dan Qatar menancapkan kepentingan. Balapan internasional melenggang, rakyat lokal hanya menonton di tanahnya sendiri. Narasi “lapangan kerja” mengalun nyaring, tapi relasi kerja tak pernah berubah dari satu pola lama: rakyat di hilir, modal di hulu.

Di Papua, Freeport menambang emas dari perut Grasberg, tambang raksasa yang konon membanggakan bangsa. Negara memegang 51 persen saham—angka yang kerap disebut seperti mantra protektif. Namun, dividen mayoritas tetap meniti jalur lama menuju Amerika, ke Freeport-McMoRan. Papua hanya mendapat 1 persen dana bagi hasil, sementara limbah tambang mengalir pekat ke Sungai Ajkwa, mencemari ekosistem hingga kini. Kontrak diperpanjang sampai 2041, dengan dalih “hilirisasi”. Kata baru, praktik lama: pengerukan.

Di Kalimantan, mimpi lain tumbuh ke langit: IKN Nusantara. Empat puluh persen lahan inti sudah dipesan investor China, Korea, dan Uni Emirat Arab melalui skema KPBU. Ada kawasan yang bahkan prajurit TNI biasa tak dapat melangkah tanpa izin modal. Sebuah enclave yang rapi, berfasilitas istimewa, menyuguhkan preseden menakutkan: ada hukum yang lebih tinggi dari hukum nasional—hukum investor.

Food Estate? Ia lebih mirip empty estate. Jutaan hektare hutan adat di Merauke, Kalimantan Tengah, dan Papua disulap menjadi kebun monokultur sawit dan tebu. Wilmar, Sinar Mas, serta perusahaan-perusahaan China menjadi pemegang komando. Janji ketahanan pangan digaungkan, realitas ketergantungan impor yang justru panen.

Reklamasi Jakarta berjalan seperti kanvas elite baru: PIK 2 dan Pantai Maju, 5.000 hektare laut ditimbun untuk mal dan apartemen. Agung Sedayu, Salim Group, dan China Communications Construction Company berdiri sebagai arsitek utamanya. Nelayan tradisional tergerus ke pinggir, lalu ke hilir statistik kemiskinan yang jarang jadi bahan presentasi.

Kereta Cepat Jakarta-Bandung, proyek lain yang harum PowerPoint-nya, pahit neracanya: utang 6 miliar dolar, biaya membengkak menjadi Rp114 triliun, tiket mahal. Stasiun Tegalluar tak ubahnya enclave panjang—50 tahun lebih—menyisakan pertanyaan besar: siapa yang dipercepat oleh kereta ini? Rakyat jelas bukan penumpang utamanya.

Semua ini berjalan di bawah payung konstitusional Pasal 33 ayat (5) UUD 1945, lengkap dengan puluhan UU dan Perpres turunannya. Negara bersembunyi di balik angka-angka legalitas. Semua “resmi”. Semua “prosedural”. Semua “sah”. Tapi sah bagi siapa?

Ini bukan kolonialisme dengan kapal perang.
Ini kolonialisme dengan akta notaris, proposal pendanaan, dan surat keputusan menteri.
Penjajahan yang sunyi di ruang operasi, tapi riuh-rendah di ruang opini.

Jika ini terus berlanjut, masa depan yang ditawarkan bukan lagi republik—melainkan lapangan parkir besar bagi modal asing dan lokal, sementara rakyat kebagian seragam: satpam, pesuruh, pekerja pinggiran. Anak bangsa menjadi penjaga gudang di rumah yang bukan lagi miliknya.

Sepuluh tahun dari sekarang, bila senyap ini tak dipecahkan, Indonesia bisa jadi negara yang dikibarkan dalam seremoni, tapi dimiliki lewat KPI saham. Negara yang dipuja dalam pidato, tapi digadai dalam PSN.

Dan di ujung skenario itu ada ramalan sederhana—tanpa perlu imajinasi distopia:
Rakyat hanya akan memandangi lemari es yang berisi barang impor,
menatap laut yang tak lagi bisa ia jamah,
dan menjaga gerbang megaproject yang mengusirnya dari sejarah.

Saat itulah kita semua akan paham, bahwa yang hilang bukan sekadar tanah dan nikel—melainkan ide paling fundamental dari republik itu sendiri: kedaulatan.

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Neokolonialisme Berkedok PSN

Next Post

Setali Tiga Uang Gus Yaqut–Gus Yahya: Nepotisme Kekuasaan yang Melukai dan Memalukan Umat

Ali Syarief

Ali Syarief

Related Posts

daerah

KEADILAN PERADABAN DALAM KASUS KEBON BINATANG BANDUNG

April 30, 2026
Presiden Prabowo, Waspada! Gejolak September Bisa Jadi Strategi Politik Tersembunyi
Feature

Prabowo Mulai Panik!

April 29, 2026
Feature

Antara Pembatasan Gawai dan Pendidikan Digital

April 29, 2026
Next Post
Setali Tiga Uang Gus Yaqut–Gus Yahya: Nepotisme Kekuasaan yang Melukai dan Memalukan Umat

Setali Tiga Uang Gus Yaqut–Gus Yahya: Nepotisme Kekuasaan yang Melukai dan Memalukan Umat

Ada Hashim Djojohadikusumo di Pusaran Konflik NU?

Ada Hashim Djojohadikusumo di Pusaran Konflik NU?

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
IPW Apresiasi Kapolda NTT Terkait Mafia BBM Ilegal
Komunitas

IPW Apresiasi Kapolda NTT Terkait Mafia BBM Ilegal

by Karyudi Sutajah Putra
April 30, 2026
0

FusilatNews - Indonesia Police Watch (IPW) mengapresiasi Kapolda Nusa Tenggara Timur (NTT) Irjen Rudi Darmoko yang tidak segan-segan untuk menangkap...

Read more
Presiden Prabowo, Waspada! Gejolak September Bisa Jadi Strategi Politik Tersembunyi

Prabowo Mulai Panik!

April 29, 2026
Reshuffle Kabinet “4L”

Reshuffle Kabinet “4L”

April 27, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
IPW Apresiasi Kapolda NTT Terkait Mafia BBM Ilegal

IPW Apresiasi Kapolda NTT Terkait Mafia BBM Ilegal

April 30, 2026

KEADILAN PERADABAN DALAM KASUS KEBON BINATANG BANDUNG

April 30, 2026
Presiden Prabowo, Waspada! Gejolak September Bisa Jadi Strategi Politik Tersembunyi

Prabowo Mulai Panik!

April 29, 2026

Antara Pembatasan Gawai dan Pendidikan Digital

April 29, 2026

Bom Waktu APBN-P 2026: Rupiah Jebol, Subsidi Meledak, Rakyat yang Nanggung

April 29, 2026
HMI–KAHMI Ditegaskan Saling Terikat dalam Pembinaan Kader di Perguruan Tinggi

HMI–KAHMI Ditegaskan Saling Terikat dalam Pembinaan Kader di Perguruan Tinggi

April 29, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

IPW Apresiasi Kapolda NTT Terkait Mafia BBM Ilegal

IPW Apresiasi Kapolda NTT Terkait Mafia BBM Ilegal

April 30, 2026

KEADILAN PERADABAN DALAM KASUS KEBON BINATANG BANDUNG

April 30, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist