“Delapan puluh tahun merdeka, yang bahagia adalah penguasa, yang beruntung kerabatnya, yang menonton rakyat jelata, dan yang menangis tetap sama: mereka yang tak pernah diajak bicara.”
Fusilatnews – Indonesia 80 tahun. Usia yang, kalau manusia, sudah waktunya sering-sering dicek tensi, minum obat rutin, dan jangan terlalu banyak makan gorengan. Tapi entah kenapa, negeri ini masih suka jajan sembarangan. Apalagi kalau sudah dekat dengan 17 Agustus, semua serba gemerlap: bendera dijual dari kain tipis sampai yang bisa dipakai selimut, lagu kebangsaan dikumandangkan dengan nada minor, dan tentu saja, pejabat tersenyum seperti baru saja pulang dari salon.
Pertanyaan klasik pun muncul: siapa yang paling bahagia di ulang tahun ke-80 ini?
Tentu bukan rakyat biasa yang masih harus membayar utang ke warung sebelah. Yang paling bahagia biasanya mereka yang duduk manis di barisan VIP, sambil melambai ke kamera TV. Mereka bahagia karena bisa tampil, bukan karena bisa menjawab kenapa harga beras naik. Kalau ditanya, jawabannya standar: “Itu masalah global.” Kalau global terus yang salah, kita ini negara atau kos-kosan di ujung jalan?
Lalu siapa yang paling beruntung?
Ya mereka yang dekat dengan pusat kuasa. Anak presiden jadi apa? Ada. Menantu menteri jadi apa? Ada. Cucu pun mungkin sudah antri. Mereka ini seperti dapat kartu undian “Langsung Menang” tanpa harus beli produk. Mau jadi kepala daerah, tinggal tunjuk partai. Mau jadi menteri, tinggal tunggu telpon. Sementara rakyat jelata, jangankan telpon, pulsa saja kadang pinjam.
Siapa yang hanya menonton?
Mayoritas dari kita. Nonton upacara di televisi sambil mengipasi kompor yang apinya mengecil karena gas elpiji entah kapan datang. Kita ini ibarat suporter bola: beli tiket, teriak-teriak, tapi tidak pernah diajak main. Dan kalau tim nasional kalah, kita juga yang stres.
Nah, siapa yang menangis?
Itu gampang. Mereka yang kehilangan hak, tapi diminta tetap tepuk tangan. Para korban pelanggaran HAM yang masih dijanjikan “akan dituntaskan” sejak zaman dinosaurus. Petani yang ladangnya digusur, nelayan yang lautnya dibor. Mereka menangis bukan karena terharu, tapi karena duka. Tapi di panggung utama, air mata tidak laku. Yang laku itu senyum palsu, apalagi kalau dipoles dengan lip gloss.
“If you are neutral in situations of injustice, you have chosen the side of the oppressor.” Desmond Tutu
Penutup
Jadi, ulang tahun ke-80 ini jangan buru-buru kita klaim sebagai pesta rakyat. Karena di pesta ini, rakyat kebagian apa? Mic? Kursi? Atau sekadar jadi penonton di luar pagar? Kalau bangsa ini mau panjang umur, jangan cuma kasih rakyat bendera plastik dan lomba makan kerupuk. Kasih mereka alasan untuk benar-benar tersenyum: sekolah yang adil, kerja yang layak, hukum yang tidak bisa disewa.
Karena kalau tidak, 100 tahun Indonesia merdeka nanti, yang kita rayakan bukanlah umur panjang—tapi panjangnya daftar kekecewaan.


























