Pidato Jokowi di hadapan para pemimpin dunia, yang menyoroti bahwa laju deforestasi Indonesia telah menurun selama dua dekade terakhir, menjadi sorotan global. Dengan senyum optimis, presiden mengumumkan bahwa langkah-langkah strategis yang diambil telah membantu menekan hilangnya hutan. Namun, kenyataan di lapangan dan respons dari organisasi seperti Greenpeace Indonesia menimbulkan tanda tanya besar: Apakah hutan kita memang benar-benar masih ada?
Faktanya, hutan bukan sekadar sekelompok pohon yang bisa ditanam kembali seperti di taman kota atau hutan buatan. Ia adalah sistem kehidupan yang kompleks, sebuah ekosistem yang penuh hubungan erat antara flora, fauna, serta unsur tak kasat mata yang bekerja sama untuk menjaga keseimbangannya. Seorang ahli terkenal dalam bidang lingkungan dan primata, Dr. Birute Galdikas, memberikan contoh konkret tentang keajaiban alam ini. Di Tanjung Puting, Kalimantan Tengah, ia pernah menunjukkan pohon ulin kecil, hanya setinggi 30 cm, yang ternyata telah berusia tujuh tahun. Pohon itu adalah karya kelelawar, yang berperan sebagai “penanam” alamiah. Artinya, regenerasi hutan sejati adalah proses alam yang sangat lambat dan tak bisa direplikasi manusia.
Namun, ironisnya, penurunan deforestasi yang diklaim tidak selaras dengan realitas kebijakan pembangunan yang secara agresif merambah kawasan-kawasan hutan, terutama untuk kepentingan industri dan infrastruktur. Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan bahkan pernah menyatakan bahwa menghentikan deforestasi sepenuhnya adalah hal yang mustahil demi pembangunan. Pernyataan ini menggambarkan bahwa pembangunan dan pelestarian hutan tampaknya berada dalam relasi yang kontradiktif dan tak mudah diharmoniskan.
Memahami deforestasi bukanlah sekadar soal pohon-pohon yang ditebang. Deforestasi merusak “kebijaksanaan alam” atau natural wisdom dari ekosistem hutan, yang mencakup siklus hidup spesies dan interaksi antar-spesies yang tak bisa digantikan. Banyak flora dan fauna, mulai dari orangutan hingga ribuan spesies tumbuhan, kehilangan habitat asli mereka, serta keseimbangan iklim mikro yang mereka ciptakan turut hilang. Hutan yang terdegradasi atau ditanami kembali dengan tanaman monokultur seperti kelapa sawit tidaklah sama dengan hutan hujan alami yang telah terbentuk selama ribuan tahun.
Dengan hilangnya hutan, kita juga kehilangan harapan untuk mengembalikannya seperti sedia kala. Proyek reklamasi dan reboisasi—betapapun masif dan terencana—hanya akan menghasilkan lapangan pohon tanpa keragaman yang khas dari hutan asli. Hutan adalah rumah bagi ekosistem yang melibatkan rantai kehidupan dari serangga hingga mamalia besar, dari mikroba tanah hingga kanopi tinggi, yang semuanya terjalin dalam keselarasan yang sulit disusun kembali oleh tangan manusia.
Kebijakan yang bertolak belakang antara klaim perlindungan dan praktik perusakan untuk pembangunan menciptakan sebuah ilusi bahwa hutan kita masih ada, padahal kenyataannya, perlahan tapi pasti, ia telah menjadi bagian dari masa lalu. Maka, deforestasi bukanlah sekadar penggundulan lahan, tetapi hilangnya warisan alami yang sesungguhnya adalah bagian dari keluarga besar kita—flora, fauna, dan seluruh unsur yang membentuk hutan tropis Indonesia.

























