• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Aya Aya Wae

Ijazah, dan Sebuah “Agenda Besar”

Ali Syarief by Ali Syarief
July 15, 2025
in Aya Aya Wae, Feature
0
Ijazah, dan Sebuah “Agenda Besar”
Share on FacebookShare on Twitter

Fusilatnews – Ia muncul kembali ke ruang publik. Setelah sekian lama mengasuh cucu, atau barangkali hanya menepi untuk menyusun kata dan dalih. Wajahnya belum pulih benar dari sakit kulit yang konon menyerang karena cuaca, atau barangkali tekanan sejarah. Tapi di balik kerutnya, ada sesuatu yang belum juga usai: dendam terhadap suara-suara yang bertanya.

Dan pertanyaannya sederhana:
“Mana ijazahmu, Pak?”

Dalam dunia yang tak lagi bisa membedakan antara fitnah dan pertanyaan kritis, kalimat semacam itu bisa menjadi dalih untuk menciptakan huru-hara. Orang-orang yang bertanya dianggap mencemarkan nama baik, menyerang kehormatan, bahkan dituduh menggerakkan “agenda besar” untuk menjatuhkan pemimpin.

Ironis. Di negeri yang menyebut dirinya demokratis, ijazah—yang seharusnya dokumen biasa, arsip kelulusan—menjadi jimat yang tak boleh disentuh. Disakralkan, dilindungi, disembunyikan.

Goethe pernah berkata bahwa kebenaran tidak butuh dibela, hanya perlu ditunjukkan. Tapi di sini, justru pertanyaan tentang kebenaran dianggap serangan. Bahkan, dilaporkan ke polisi.


Saya mencoba mengingat kembali, saat negeri ini masih belum begitu alergi terhadap kritik. Ketika seseorang bisa bertanya kepada penguasa tanpa merasa sedang bermain petak umpet dengan ancaman. Tapi mungkin memang waktu telah berubah. Kata “merdeka” tinggal slogan, dan “transparansi” tinggal aksesoris pada dokumen negara.

Sekarang muncul frasa baru: “Ada agenda besar terhadap saya.”

Saya tak tahu pasti apa yang dimaksud. Tapi saya membayangkan: barangkali ia merasa dirinya seperti Musa yang dikejar-kejar Firaun kekuasaan lain. Atau barangkali ia memang sedang membangun narasi tentang dirinya sebagai korban dari sebuah konspirasi yang tak terlihat, seperti dalam novel-novel Kafka—di mana seseorang dihukum bukan karena kesalahan, melainkan karena ia eksis.

Namun, bukankah terlalu jauh untuk menyebut bahwa rakyat yang bertanya sedang menjalankan “agenda besar”? Rakyat itu hanya ingin tahu, apakah orang yang memimpin mereka benar-benar melalui jalan yang sah, legal, dan logis?

Bukankah pertanyaan seperti itu justru bentuk dari cinta, dari kepedulian warga terhadap negaranya?


Kita hidup dalam zaman yang aneh. Di mana kecurigaan lebih cepat dipercaya ketimbang penjelasan. Di mana citra lebih penting dari isi. Dan di mana ijazah bisa lebih menentukan nasib bangsa daripada gagasan.

Apa yang kita lihat hari ini bukan soal dokumen akademik. Ini adalah soal bagaimana negara melihat rakyatnya: sebagai mitra yang sejajar, atau sebagai objek yang harus dikontrol.

Ketika kebenaran diselubungi dengan kata-kata seperti “agenda besar,” maka yang sebenarnya besar bukanlah ancaman itu—melainkan ketakutan yang tak pernah diselesaikan.

Dan pada akhirnya, kita akan bertanya:
Apa yang lebih berat ditunjukkan: ijazah… atau hati nurani?


Saya kira, di balik perkara ijazah itu, ada satu hal yang luput kita renungkan:
Mengapa kita, sebagai bangsa, mudah merasa terancam oleh pertanyaan?

Seseorang bertanya tentang kelengkapan administratif seorang pemimpin—dan pertanyaan itu tidak dijawab dengan dokumen, melainkan dengan gugatan hukum. Yang muncul bukan keterbukaan, melainkan kemarahan. Bukan klarifikasi, melainkan kriminalisasi.

Di titik ini saya teringat sebuah puisi Sapardi:

“Apa guna punya kepala, jika tak dipakai bertanya?”

Tapi zaman ini, tampaknya, lebih menyukai orang-orang yang tidak bertanya. Orang-orang yang cukup puas dengan poster, slogan, dan seragam. Orang-orang yang menaruh keyakinannya pada gambar raksasa di pinggir jalan, bukan pada data dan akal sehat. Dan jika ada satu-dua yang mencoba mengusik, kita segera melemparkan kata-kata magis: “agenda besar”.

Kita tahu, dalam politik, segala yang magis biasanya menutupi yang logis.
Dan ketika negara terlalu sering memakai narasi “agenda besar”, maka besar kemungkinan yang ingin ditutupi adalah sesuatu yang kecil—tapi penting. Mungkin ijazah itu. Mungkin kebenaran.


Suatu kali, saya membaca ulang surat-menyurat antara Albert Camus dan Jean-Paul Sartre. Mereka berselisih soal tanggung jawab intelektual dalam politik. Sartre ingin revolusi segera, Camus ingin jeda—untuk berpikir, untuk bertanya.

Hari ini, mungkin kita butuh lebih banyak Camus.
Bukan karena kita ragu pada perubahan, tetapi karena kita takut pada perubahan yang dibangun tanpa dasar etika dan transparansi.

Sebab, jika seorang presiden saja tidak bisa diajak berdiskusi soal dokumen pribadinya, bagaimana kita bisa berharap rakyat akan dilibatkan dalam perkara-perkara yang lebih besar?


Saya ingin percaya, bahwa negeri ini masih bisa tersenyum. Bahwa demokrasi bukan sekadar kotak suara, tetapi ruang dialog. Bahwa rakyat masih punya hak untuk mengajukan satu kalimat sederhana: “Tolong tunjukkan ijazah Anda.”

Tanpa perlu dicurigai.
Tanpa perlu dituduh.
Tanpa perlu ditangkap.

Tapi mungkin saya terlalu naif.
Mungkin saya belum cukup membaca gelagat zaman.
Atau mungkin, saya sedang menulis ini sambil duduk di sebuah warung tua, di mana kopi diseduh dengan kesabaran, dan politik dibicarakan dengan bisik-bisik.

Dan entah mengapa, saya merasa bahwa yang besar dari “agenda besar” itu… barangkali hanyalah bayangan yang diciptakan agar kita takut, diam, dan berhenti bertanya.


Catatan pinggir:

Di negeri ini, ijazah bisa jadi lebih sakral daripada konstitusi. Tapi barangkali, yang sebenarnya kita cari bukan sekadar kertas, melainkan kejujuran. Dan seperti semua hal yang jujur, ia tidak butuh dibela dengan polisi, cukup ditunjukkan dengan tenang.

Seperti daun gugur yang tak perlu alasan. Seperti hujan, yang tak pernah harus membuktikan asalnya.

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Tantangan Besar Dirut Bulog: Sukses Serap Gabah, Jangan Gagal Simpan!

Next Post

Paradoks Ekonomi Indonesia: Mendorong Ekspor, Menjaga Kedaulatan Pasar Domestik

Ali Syarief

Ali Syarief

Related Posts

Bulog Ke Depan : MEWUJUDKAN INTEGRASI KEBIJAKAN PANGAN NASIONAL
Economy

BERAS MELIMPAH KAPAN HARGANYA MURAH ?

June 2, 2026
Yasinta Moiwend dan Bahaya Menghakimi dari Jarak Jauh
Feature

Yasinta Moiwend dan Bahaya Menghakimi dari Jarak Jauh

June 2, 2026
Belajar Dari Negeri China – Sekarang Lebih Unggul dari Amerika Serikat – Untuk Prabowo
Bisnis

Diplomasi Angka Bodong: Ketika Kunjungan Presiden Dijual dengan Janji Investasi

June 2, 2026
Next Post
Paradoks Ekonomi Indonesia: Mendorong Ekspor, Menjaga Kedaulatan Pasar Domestik

Paradoks Ekonomi Indonesia: Mendorong Ekspor, Menjaga Kedaulatan Pasar Domestik

Jika Jokowi Mati, Gibran Dibantai Republik

Mengapa Jokowi Akhlaknya Suka Berbohong?

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Feature

Pancasila: Lahir untuk Mati!

by Karyudi Sutajah Putra
June 2, 2026
0

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI) Jakarta - Baru pada 2016 lalu Bung Karno mendapat...

Read more
Evakuasi 380 WNI dari Iran Akan Lewat Jalur Darat, Pemerintah: Wilayah Udara Tidak Bisa Dilewati

Indonesia Kutuk Israel: Mengapa Kak Sugiono Kebakaran Jenggot?

May 25, 2026
Tangsel Ngotot Bangun PSEL Sendiri Tanpa Aglomerasi, Proyek Terancam Gagal

Tangsel Ngotot Bangun PSEL Sendiri Tanpa Aglomerasi, Proyek Terancam Gagal

May 24, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Bulog Ke Depan : MEWUJUDKAN INTEGRASI KEBIJAKAN PANGAN NASIONAL

BERAS MELIMPAH KAPAN HARGANYA MURAH ?

June 2, 2026
Yasinta Moiwend dan Bahaya Menghakimi dari Jarak Jauh

Yasinta Moiwend dan Bahaya Menghakimi dari Jarak Jauh

June 2, 2026
Belajar Dari Negeri China – Sekarang Lebih Unggul dari Amerika Serikat – Untuk Prabowo

Diplomasi Angka Bodong: Ketika Kunjungan Presiden Dijual dengan Janji Investasi

June 2, 2026
Simalakama Teddy Wijaya

Tinjauan Yuridis: Presiden Membayar Sendiri Kelebihan Biaya Perjalanan Dinas? Persoalannya Bukan pada Uangnya

June 2, 2026
PERINGATAN HARI LAHIR PANCASILA: PARADOKS KETIKA NEGARA BERJALAN DI JALUR LIBERAL-KAPITALISTIK

PERINGATAN HARI LAHIR PANCASILA: PARADOKS KETIKA NEGARA BERJALAN DI JALUR LIBERAL-KAPITALISTIK

June 2, 2026

Pancasila: Lahir untuk Mati!

June 2, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Bulog Ke Depan : MEWUJUDKAN INTEGRASI KEBIJAKAN PANGAN NASIONAL

BERAS MELIMPAH KAPAN HARGANYA MURAH ?

June 2, 2026
Yasinta Moiwend dan Bahaya Menghakimi dari Jarak Jauh

Yasinta Moiwend dan Bahaya Menghakimi dari Jarak Jauh

June 2, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist