Oleh: Entang Sastraatmadja – Ketua Dewan Pakar DPD HKTI Jawa Barat
Penyerapan gabah oleh Perum Bulog merupakan agenda rutin yang vital dalam rantai ketahanan pangan nasional. Proses ini bukan sekadar transaksi pembelian dari petani, tetapi bagian dari strategi negara untuk menjaga harga, meningkatkan kesejahteraan petani, dan menjamin ketersediaan cadangan pangan nasional.
Tujuan utama dari penyerapan gabah ini meliputi:
Pertama, untuk meningkatkan pendapatan petani, sehingga nilai tukar petani terhadap hasil produksinya tetap kompetitif.
Kedua, untuk menjaga stabilitas harga beras di pasar agar rakyat tetap dapat mengakses pangan pokok dengan harga yang wajar.
Ketiga, untuk memperkuat stok cadangan pangan nasional yang dibutuhkan dalam kondisi darurat atau gejolak pasokan.
Sukses Menyerap, Apresiasi Mengalir
Di bawah kepemimpinan Novi Helmy Prasetya, Perum Bulog berhasil mencatatkan prestasi membanggakan dalam pelaksanaan panen raya tahun ini. Dengan jaringan distribusi yang luas, sistem pembayaran tepat waktu, harga beli yang kompetitif, hingga kemitraan erat dengan para petani, Bulog menunjukkan kinerja luar biasa.
Presiden Prabowo Subianto pun memberikan apresiasi tinggi atas keberhasilan Bulog membeli gabah petani langsung di lokasi panen sebesar Rp6.500 per kilogram. Ini bukan hanya soal harga, tapi soal keberpihakan negara kepada para petani kecil.
Dalam panen raya serentak yang digelar di 14 provinsi dan 157 kabupaten/kota, Bulog menyerap lebih dari 800 ribu ton setara beras — angka tertinggi dalam satu dekade terakhir. Hingga akhir Juni 2025, total gabah yang berhasil diserap mencapai 2,4 juta ton. Ini adalah angka yang tidak bisa dianggap remeh, dan layak mendapat acungan jempol dari seluruh rakyat Indonesia.
Tugas Berat Menanti: Jangan Gagal di Gudang!
Namun, di balik sukses besar dalam penyerapan, kini tersisa satu “pekerjaan rumah” (PR) yang jauh lebih krusial: penyimpanan.
Estafet kepemimpinan kini berada di tangan Direktur Utama baru, Bung Achmad Rizal. Tantangan di depan mata sangat nyata dan tidak mudah: menyimpan hingga 4 juta ton gabah dalam kondisi aman, berkualitas, dan tahan lama.
Masalahnya, Perum Bulog belum memiliki pengalaman menyimpan gabah dalam skala sebesar ini. Kesiapan infrastruktur pergudangan pun belum optimal. Jika tidak ditangani secara serius, keberhasilan penyerapan bisa berujung pada kegagalan penyimpanan — dan ini sama saja seperti membuang prestasi ke dalam karung berlubang.
Butuh Grand Desain dan 25.000 Petugas Gudang yang Tangguh
Bulog perlu segera menyusun Grand Desain Penyimpanan Gabah Nasional yang utuh, holistik, dan komprehensif, lengkap dengan roadmap pelaksanaannya. Penyimpanan tidak bisa dijalankan sekadar secara administratif. Dibutuhkan:
- Gudang dengan standar modern dan sistem pengendalian mutu.
- Teknologi pengering dan pengontrol kelembaban.
- Sistem rotasi stok yang efisien.
- SDM lapangan yang terlatih, militan, dan profesional.
Untuk itu, Bulog membutuhkan sekitar 25 ribu petugas gudang yang benar-benar tangguh. Mereka bukan sekadar penjaga logistik. Mereka adalah garda depan penyelamat pangan nasional.
Melatih mereka bukan perkara mudah. Ini bukan seperti ASN yang tinggal menunggu transfer gaji bulanan. Petugas gudang ini harus bekerja dalam kondisi ekstrem — melawan kutu, mencegah bau apek, menjaga warna, tekstur, dan kualitas gabah/beras agar tetap prima dalam waktu lama.
Bulog, Harapan Terakhir Stabilitas Pangan
Sebagai operator pangan negara, Perum Bulog memikul amanah besar. Kita percaya Bung Achmad Rizal mampu menjawab tantangan ini, tidak hanya dengan strategi teknis, tetapi juga dengan komitmen moral dan semangat pengabdian untuk rakyat.
Sukses menyerap gabah adalah awal. Sukses menyimpannya adalah kunci. Jangan sampai kerja keras petani dan negara berakhir di gudang yang tak siap.

Oleh: Entang Sastraatmadja – Ketua Dewan Pakar DPD HKTI Jawa Barat
























