• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Aya Aya Wae

Ijazah, Hasut, dan Hantu yang Tak Pernah Selesai

Damai Hari Lubis - Mujahid 212 by Damai Hari Lubis - Mujahid 212
September 18, 2025
in Aya Aya Wae, Feature
0
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Damai Hari Lubis – Pengamat KUHP (Kebijakan Umum Hukum dan Politik)

Di negeri ini, sejarah sering dipadatkan menjadi kabar burung. Ia tak lahir dari dokumen, melainkan dari bisik-bisik yang tumbuh menjadi keyakinan. Seperti halnya tuduhan tentang ijazah seorang presiden. Tuduhan yang berulang kali naik ke permukaan: Jokowi, katanya, menyandang ijazah palsu dari Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada.

Tuduhan itu memang terdengar liar, tetapi ia menemukan tempatnya di tengah publik yang mudah haus akan gosip politik. Dari sana, laporan polisi pun lahir. Dua belas orang terlapor tercatat, mereka yang disebut “penebar hasut dan fitnah”. Penyidik masuk bekerja, berkas dibuka, keterangan disusun. Namun, yang terpegang justru ruang kosong: hasil laboratorium forensik digital yang nihil. Bukti yang tak kunjung pasti.

Di hadapan hukum, perkara ini berhenti di batas yang kabur. Tapi di hadapan publik, kasus ini justru melahirkan tafsir baru: jika benar ijazah itu asli, mengapa kebenarannya tak bisa ditegakkan dengan terang? Mengapa yang ada hanya pernyataan formal dari UGM, yang terdengar lebih seperti formalitas birokratis ketimbang kesaksian akademik yang utuh? Pertanyaan itu terus bergema, bahkan setelah Jokowi lengser dari kursi presiden.

Ironinya, Jokowi sendiri pernah mengaku: tuduhan-tuduhan ini membuat dirinya merasa dihina sehina-hinanya. Kata-kata itu keluar dari bibirnya, dikutip ulang oleh para pendukungnya, didengungkan dari beranda rumahnya di Solo sampai podium kepolisian di Jakarta. Sebuah pengakuan tentang luka, tentang betapa fitnah bisa memukul harga diri seorang presiden.

Namun, di balik pengakuan itu, ada kenyataan lain: Jokowi masih tampil sebagai “jawara” yang tak sepenuhnya turun dari gelanggang. Ia masih acap menunjukkan “show force”. Dari kabinet warisan Merah Putih, dari lingkaran kekuasaan yang tetap loyal, peta politik membuktikan bahwa ia masih “real power”. Kekuasaan formal memang telah bergeser, tapi bayangannya masih panjang, dan pengaruhnya tetap terasa.

Justru karena itu, kegagalan penyidik menggiring para terlapor menjadi tersangka terasa ganjil. Publik tentu berhak bertanya: apakah hukum memang bekerja, ataukah hukum sekadar menunggu aba-aba? Bukankah seharusnya, jika bukti digital nihil, kesimpulan itu diumumkan secara transparan, bukan disimpan rapat sebagai rahasia institusi? Bukankah kejelasan adalah hak rakyat, bukan milik Polri semata?

Ketiadaan jawaban membuat ruang tafsir makin liar. Logika publik pun cenderung tendensius: jangan-jangan, ijazah asli yang dinyatakan oleh UGM hanyalah “isapan jempol”. Jangan-jangan, yang selama ini dipertontonkan hanyalah bukti formal, bukan kebenaran materiil. Dan di situlah, fitnah yang disebut Jokowi, justru menemukan energi baru untuk terus berputar.

Pada akhirnya, kita memang bangsa yang akrab dengan paradoks. Kita hidup dalam republik yang selalu bicara tentang supremasi hukum, tapi terlalu sering membiarkan hukum berdiam dalam gelap. Kita percaya bahwa kebenaran bisa ditegakkan, tapi kita juga menyaksikan bagaimana kebenaran kerap ditunda, bahkan dikubur.

Maka ijazah itu—selembar kertas akademik yang seharusnya tak lebih dari bukti pendidikan—telah menjelma menjadi simbol. Simbol tentang bagaimana politik kita bekerja, bagaimana kekuasaan meninggalkan bayangan panjang, dan bagaimana rakyat akhirnya dibiarkan menggantung pada rasa curiga.

Dan di sinilah ironi terbesar itu bersemayam: ijazah Jokowi akan tetap menjadi “hantu politik” yang bergentayangan. Ia mungkin tak akan pernah bisa dipatahkan sepenuhnya, sebagaimana ia juga tak pernah bisa dipastikan secara tuntas. Ia akan terus mengikuti Jokowi, bahkan setelah masa pemerintahannya usai, bahkan ketika sejarah nanti menimbang dirinya. Hantu itu akan hadir—membisikkan pertanyaan yang sama: asli, atau palsu?


 

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Membaca Prabowo Mengangkat Qodari Menjadi Kepala Kantor Staf Presiden

Next Post

Potret Absurditas Penyetaraan Ijazah Gibran: Dari S2 ke Grade 12

Damai Hari Lubis - Mujahid 212

Damai Hari Lubis - Mujahid 212

Related Posts

Asfiksia: Kematian yang Sunyi dan Pertanyaan yang Menggema
Feature

Asfiksia: Kematian yang Sunyi dan Pertanyaan yang Menggema

April 14, 2026
DEKONSTRUKSI SEKURITISASI DEMOKRASI
Feature

DEKONSTRUKSI SEKURITISASI DEMOKRASI

April 14, 2026
Siklus Baru Peradaban Palsu
Feature

Siklus Baru Peradaban Palsu

April 14, 2026
Next Post
Ijazah, Kesetaraan, dan Legitimasi Politik: Studi Kasus Gibran Rakabuming Raka

Potret Absurditas Penyetaraan Ijazah Gibran: Dari S2 ke Grade 12

Korupsi di Wilayah Suci oleh Mereka yang Mengaku Paling Suci

Korupsi di Wilayah Suci oleh Mereka yang Mengaku Paling Suci

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Tanah dan Bangunan di Jalan Teuku Umar No 2 Menteng Bukan Milik Kemenhan RI, Ini Alasannya!
Law

Tanah dan Bangunan di Jalan Teuku Umar No 2 Menteng Bukan Milik Kemenhan RI, Ini Alasannya!

by Karyudi Sutajah Putra
April 13, 2026
0

Jakarta-FusilatNews - Pemberitaan sejumlah media beberapa waktu lalu ihwal pembongkaran rumah tua di kawasan cagar budaya, tepatnya di Jalan Teuku...

Read more
Jawaban Nasdem Terkait Tudingan Uang Rp 30 M  Disita KPK, Akan Digunakan Untuk Keluarga Nyaleg

Tertipu, Ahmad Sahroni Berkasus dengan KPK?

April 11, 2026
Antara Retorika dan Realita: Bisakah Prabowo Tumbangkan Outsourcing?

Padamnya Api Demokrasi di Tangan Prabowo

April 9, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Asfiksia: Kematian yang Sunyi dan Pertanyaan yang Menggema

Asfiksia: Kematian yang Sunyi dan Pertanyaan yang Menggema

April 14, 2026
DEKONSTRUKSI SEKURITISASI DEMOKRASI

DEKONSTRUKSI SEKURITISASI DEMOKRASI

April 14, 2026
Siklus Baru Peradaban Palsu

Siklus Baru Peradaban Palsu

April 14, 2026

Citronella Oil Produk Andalan (Rencana Jangka Pendek 5 Tahun: Model Bisnis 2 untuk Kesejahteraan Petani melalui Koperasi)

April 13, 2026
Anomali Belanja BGN di Tengah Narasi Efisiensi Negara

Anomali Belanja BGN di Tengah Narasi Efisiensi Negara

April 13, 2026
Rakyat Takut Prabowo: Ketika Bayang-Bayang Militer Membungkam Demokrasi

Rakyat Takut Prabowo: Ketika Bayang-Bayang Militer Membungkam Demokrasi

April 13, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Asfiksia: Kematian yang Sunyi dan Pertanyaan yang Menggema

Asfiksia: Kematian yang Sunyi dan Pertanyaan yang Menggema

April 14, 2026
DEKONSTRUKSI SEKURITISASI DEMOKRASI

DEKONSTRUKSI SEKURITISASI DEMOKRASI

April 14, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

 

Loading Comments...