Fusilatnews – Dalam sejarah republik ini, ijazah bukanlah sekadar selembar kertas yang menandai akhir masa studi seorang mahasiswa. Ia adalah simbol integritas, tanda kejujuran intelektual, sekaligus bukti sah bahwa seorang pemimpin lahir dari jalan yang benar, bukan dari lorong gelap kebohongan.
Maka ketika para alumni Universitas Gadjah Mada turun ke jalan, menuntut kejelasan soal ijazah sarjana seorang presiden, kita tak sedang menyaksikan persoalan administratif belaka. Kita menyaksikan sejenis kegelisahan historis. Bahwa bangsa ini, yang telah menumpahkan darah dan air mata demi reformasi, kembali digiring masuk ke lorong gelap penuh fufufafa—kata yang populer, entah serius entah satir, untuk menandai absurditas kekuasaan.
Rocky Gerung dengan lugas menyebut: salah satu titik kegagalan reformasi Polri ialah ketika polisi tak sanggup menjawab pertanyaan paling elementer dari masyarakat: apakah ijazah Jokowi sah atau palsu? Aparat yang mestinya menjadi penjaga kebenaran hukum, justru menutup diri dalam diam, seakan perkara kebenaran dapat dinegosiasikan dengan stabilitas politik.
Di luar ruang itu, para aktivis—dari Roy Suryo hingga sederet nama yang gigih menelusuri arsip, testimoni, dan dokumen—telah membeberkan fakta demi fakta. Mereka menyingkap bahwa ijazah Jokowi hanyalah tiruan, selembar kertas tanpa riwayat akademik. Dan tatkala publik menunggu penjelasan, yang datang justru fufufafa baru: seorang anak, Gibran Rakabuming, diarak menjadi wakil presiden, seakan-akan politik keluarga dapat menutup lubang integritas yang semakin dalam.
Pertanyaannya kini: mau sampai kapan skandal ini digantung? Apakah bangsa ini hendak menunggu amok massal—sebuah letupan kemarahan rakyat yang tak terkendali—baru kebenaran dijawab?
Sejarah selalu mengajarkan: kebohongan, sebesar apa pun, hanya bisa bertahan selama rakyat rela diam. Begitu diam berubah menjadi jerit, kekuasaan kehilangan pijakan.
Ijazah Jokowi mungkin tampak selembar kertas. Tetapi di baliknya, ada soal kejujuran, ada soal martabat, ada soal kesetiaan kita kepada kebenaran. Dan bila republik ini terus memilih fufufafa, jangan heran bila pada akhirnya yang datang bukan sekadar demonstrasi alumni, melainkan histeria sebuah bangsa yang merasa telah dipermainkan terlalu lama.
























