• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Birokrasi

Intervensi Politik di Balik Seragam Cokelat: Dari SBY hingga Jokowi

Ali Syarief by Ali Syarief
November 8, 2025
in Birokrasi, Feature, Tokoh/Figur
0
Intervensi Politik di Balik Seragam Cokelat: Dari SBY hingga Jokowi
Share on FacebookShare on Twitter

Fusilatnews – Di negeri yang menganut sistem demokrasi dan menjunjung tinggi supremasi hukum, lembaga kepolisian seharusnya berdiri tegak di atas prinsip profesionalitas dan independensi. Namun, perjalanan sejarah menunjukkan bahwa Polri kerap menjadi ajang tarik-menarik kepentingan kekuasaan. Dua presiden terakhir sebelum masa pemerintahan mendatang, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Joko Widodo (Jokowi), memperlihatkan bagaimana kekuasaan eksekutif bisa ikut menentukan arah dan wajah lembaga penegak hukum ini — terutama dalam hal penunjukan Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri).


Era SBY: Kilatnya Kenaikan Pangkat Jenderal Timur Pradopo

Masih ingat Jenderal Polisi Timur Pradopo? Kapolri yang eksis di era Presiden SBY ini mencatatkan sejarah yang hingga kini sulit dilupakan. Dalam waktu yang luar biasa singkat, hanya sehari saja, ia mendapat dua bintang sekaligus dari SBY. Dalam tempo 18 hari, kariernya melesat dari posisi perwira tinggi biasa menjadi orang nomor satu di institusi Polri.

Timur Pradopo menjadi satu-satunya jenderal polisi yang paling beruntung sepanjang sejarah kepolisian Indonesia. Ia mendapat empat bintang jenderal hanya dalam satu hari, sesuatu yang bahkan di lingkungan militer sekalipun nyaris mustahil terjadi.

Publik pun bertanya-tanya: mengapa SBY begitu terburu-buru mengangkat Timur Pradopo? Padahal saat itu ada sosok lain, Jenderal Nanan Sukarna, yang secara jenjang karier, pengalaman, dan kepangkatan jauh lebih layak. Namun keputusan presiden jelas lebih condong pada faktor politis ketimbang profesionalitas.

Banyak analis menilai bahwa Timur Pradopo dipilih karena dianggap sebagai figur yang “aman secara politik”. Ia tidak memiliki jejak kontroversial dan dikenal loyal terhadap atasan. SBY, yang saat itu tengah menghadapi banyak tekanan politik, tentu membutuhkan sosok Kapolri yang bisa menjamin stabilitas dan tidak akan menjadi sumber masalah baru.

Dengan demikian, penunjukan Timur Pradopo bukan semata urusan prestasi, tetapi juga strategi. Polri di bawah kepemimpinannya menjadi lembaga yang cenderung tenang, tidak banyak bersuara, dan tidak mengguncang posisi politik SBY. Namun, dari sisi etika dan prinsip meritokrasi, langkah itu menjadi catatan kelam dalam perjalanan profesionalisme kepolisian.


Era Jokowi: Drama Budi Gunawan dan Pembatalan di Tengah Jalan

Enam tahun berselang, publik kembali menyaksikan fenomena serupa di era Presiden Joko Widodo. Pada Januari 2015, Jokowi resmi menunjuk Komjen Budi Gunawan sebagai calon Kapolri menggantikan Jenderal Sutarman. Pengumuman itu mengejutkan banyak pihak, terutama karena hanya beberapa hari kemudian, KPK menetapkan Budi Gunawan sebagai tersangka kasus gratifikasi.

Situasi menjadi pelik. Di satu sisi, Jokowi telah menandatangani surat keputusan pengangkatannya. Di sisi lain, tekanan publik dan konflik terbuka antara KPK dan Polri membuat posisi Jokowi serba salah. Akhirnya, ia membatalkan pelantikan Budi Gunawan dan menunjuk Jenderal Badrodin Haiti sebagai Kapolri sementara. Tak lama kemudian, Jokowi mengangkat Jenderal Tito Karnavian sebagai Kapolri berikutnya.

Drama ini menunjukkan dua hal penting. Pertama, lemahnya posisi presiden dalam menghadapi tekanan politik dan opini publik. Kedua, bahwa keputusan strategis dalam tubuh Polri tetap tidak lepas dari pertimbangan politik dan kedekatan personal. Meski batal menjadi Kapolri, Budi Gunawan tetap berada di lingkaran dalam kekuasaan Jokowi. Ia kemudian menjabat Kepala BIN, posisi yang bahkan lebih strategis dari sekadar pimpinan kepolisian.

Pembatalan pelantikan Budi Gunawan bukanlah tanda independensi hukum, melainkan langkah kompromi politik untuk meredam krisis. Dalam konteks itu, Jokowi sesungguhnya tidak berbeda jauh dari pendahulunya: sama-sama menempatkan Polri dalam orbit kekuasaan politik.


Polri: Lembaga Penegak Hukum atau Alat Kekuasaan?

Dari SBY dengan Timur Pradopo hingga Jokowi dengan Budi Gunawan, satu pola terlihat jelas: jabatan Kapolri lebih banyak ditentukan oleh politik ketimbang profesionalitas. Kapolri yang “tepat” bagi seorang presiden bukanlah yang paling berprestasi, melainkan yang paling bisa diandalkan untuk menjaga stabilitas politik dan kekuasaan.

Padahal, dalam sistem demokrasi yang sehat, kepolisian seharusnya menjadi benteng terakhir hukum — bukan perpanjangan tangan penguasa. Ketika presiden bisa dengan mudah mengintervensi proses penunjukan atau bahkan membatalkan pengangkatan Kapolri, maka independensi Polri hanya menjadi slogan tanpa makna.


Penutup: Seragam Cokelat yang Tak Lagi Netral

Baik di era SBY maupun Jokowi, kisah intervensi politik terhadap Polri meninggalkan luka yang sama: hilangnya kepercayaan publik terhadap netralitas aparat penegak hukum.

Dari Timur Pradopo yang kariernya melesat dalam 18 hari hingga Budi Gunawan yang batal dilantik setelah ditetapkan tersangka, semua memperlihatkan betapa institusi yang seharusnya menjaga hukum malah kerap menjadi bagian dari permainan kekuasaan.

Selama jabatan Kapolri masih ditentukan oleh “selera politik” presiden, selama itu pula Polri akan sulit berdiri tegak di atas prinsip profesionalitas. Seragam cokelat yang seharusnya menjadi simbol keadilan dan keberanian, justru sering kali berubah menjadi simbol kompromi — antara hukum, loyalitas, dan kepentingan.


 

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Memutus Mata Rantai POLRI dan Politik –

Next Post

Istilah yang Menipu: Jenis Makanan Berbabi yang Disembunyikan

Ali Syarief

Ali Syarief

Related Posts

Feature

Ketika Pernikahan dan Kematian Datang Bersamaan – Ujian Paling Sunyi Seorang Anak

March 5, 2026
Eric Trump: Pewaris Senyap di Bayang Imperium Ayahnya
Feature

Segitiga Geopolitik: Amerika–Israel, Iran, dan Indonesia yang Kehilangan Daya Tawar

March 5, 2026
Memulai Agama dari Akal Waras
Feature

Menanti Pencerahan Nuzulul Qur’an: Saatnya Al-Qur’an Ditafsirkan oleh Para Ilmuwan

March 5, 2026
Next Post
Pengalaman Puasa Ramadhan di Jepang

Istilah yang Menipu: Jenis Makanan Berbabi yang Disembunyikan

Presiden Prabowo, Waspada! Gejolak September Bisa Jadi Strategi Politik Tersembunyi

Pidato Rp1,2 Triliun yang Menyembunyikan Rp160 Triliun

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Jokowi-Aguan Punya Hidden Agenda dalam PSN PIK 2 untuk Kuasai Aset Negara Secara Ilegal
News

Bohong Soal Usul Inisiatif, Jokowi Punya Agenda Terselubung Bunuh KPK, Petrus Beber Fakta-faktanya

by Karyudi Sutajah Putra
March 1, 2026
0

Jakarta-Fusilatnews - Pernyataan Presiden ke-7 RI Joko Widodo bahwa dirinya setuju dengan pernyataan mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Abraham...

Read more
Tiyo Tantang Prabowo: Timun vs Durian

Tiyo Tantang Prabowo: Timun vs Durian

February 25, 2026
Hitam-Putih Wajah Prabowo

Hitam-Putih Wajah Prabowo

February 24, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4

Ketika Pernikahan dan Kematian Datang Bersamaan – Ujian Paling Sunyi Seorang Anak

March 5, 2026
DPP PSII Sampaikan Belasungkawa atas Wafatnya Pemimpin Tertinggi Iran Ayatullah Ali Khamenei

DPP PSII Sampaikan Belasungkawa atas Wafatnya Pemimpin Tertinggi Iran Ayatullah Ali Khamenei

March 5, 2026
Eric Trump: Pewaris Senyap di Bayang Imperium Ayahnya

Segitiga Geopolitik: Amerika–Israel, Iran, dan Indonesia yang Kehilangan Daya Tawar

March 5, 2026
Memulai Agama dari Akal Waras

Menanti Pencerahan Nuzulul Qur’an: Saatnya Al-Qur’an Ditafsirkan oleh Para Ilmuwan

March 5, 2026
Istana Mendadak Penuh Nasihat: Prabowo Dengar Kritik Jokowi, SBY hingga JK di Tengah Gejolak Timur Tengah

Istana Mendadak Penuh Nasihat: Prabowo Dengar Kritik Jokowi, SBY hingga JK di Tengah Gejolak Timur Tengah

March 5, 2026
Hujan Disertai Angin Kencang Terjang Bandung, Belasan Pohon Tumbang di Sejumlah Titik

Hujan Disertai Angin Kencang Terjang Bandung, Belasan Pohon Tumbang di Sejumlah Titik

March 5, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Ketika Pernikahan dan Kematian Datang Bersamaan – Ujian Paling Sunyi Seorang Anak

March 5, 2026
DPP PSII Sampaikan Belasungkawa atas Wafatnya Pemimpin Tertinggi Iran Ayatullah Ali Khamenei

DPP PSII Sampaikan Belasungkawa atas Wafatnya Pemimpin Tertinggi Iran Ayatullah Ali Khamenei

March 5, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist