By Paman BED
Ruangan itu senyap.
Pendingin udara berdengung pelan, namun hawa yang terasa justru lebih dingin dari biasanya.
Seorang bawahan duduk tegak ketika ditawari posisi strategis: pimpinan Internal Audit di anak perusahaan. Jabatan yang, bagi banyak orang, adalah loncatan karier—tangga menuju puncak, tiket masuk ke lingkar kekuasaan.
Namun wajahnya biasa saja.
Tidak tampak tersanjung. Tidak pula berbinar.
Jawabannya datar, nyaris klise:
“Saya siap ditempatkan di mana saja sesuai ketentuan perusahaan.”
Jawaban yang terdengar profesional.
Tetapi justru di situlah cerita dimulai.
Atasan itu menatapnya lama, lalu berkata—dengan nada setengah bercanda namun sarat makna—bahwa penempatan tersebut bisa membuatnya “melupakan” sang Chief Audit Executive di holding.
Kalimat itu terdengar ringan.
Padahal sesungguhnya berat.
Bawahan itu tidak menangkap makna tersembunyi. Ia menjawab polos, tegas, bahkan meyakinkan: koordinasi akan tetap berjalan. Kantor berdekatan. Telepon dan pesan singkat mudah. Audit dan konsultasi tetap mengikuti tata kelola.
Ia berbicara tentang sistem.
Atasannya berbicara tentang sesuatu yang lain.
Ujian Integritas
Ruangan kembali hening.
Lalu kalimat itu keluar—tanpa bungkus, tanpa metafora, tanpa diplomasi.
“Sekarang ini masih ada penugasan titipan. Dari Direktur, atau dari saya sendiri. Kita harus memfasilitasi. Bisa soal tender, bisa hal lain. Itu tidak bisa dihindari.”
Tidak ada eufemisme.
Tidak ada kalimat indah untuk menyamarkan maksud.
Busuk yang disebut busuk tetaplah busuk, meski dibalur parfum tata bahasa.
Bawahan itu terdiam sejenak. Bukan karena terkejut—ia tahu dunia tidak selalu hitam-putih—melainkan karena vulgaritas pengakuan itu terasa seperti tamparan langsung ke nurani profesional.
Sejak awal, ia telah menetapkan garisnya. Tidak ada kompromi untuk hal semacam itu.
Itu pertaruhan harga diri.
Itu pengkhianatan terbuka.
Itu pelacuran profesi.
Itu kemaksiatan yang dibungkus jabatan.
Iming-iming karier apa pun, jika harus dibayar dengan integritas, jauh panggang dari api.
Ia menjawab setegas itu pula: dirinya tetap sama seperti dulu. Peristiwa di Singapura tidak mengubah prinsipnya. Ia tetap keras dalam soal integritas.
Percakapan berakhir singkat.
“Posisi itu tidak cocok untuk Anda.”
“Mungkin memang itu keputusan terbaik.”
Tidak ada penyesalan.
Tidak ada kekecewaan.
Hanya satu kata yang tersisa: istiqomah.
Integritas Bukan Soal Kesempatan, Melainkan Pilihan
Istiqomah kerap dipersempit sebagai konsistensi dalam ibadah. Padahal maknanya jauh lebih luas: keteguhan dalam nilai, bahkan ketika nilai itu membuat kita kehilangan peluang.
Allah berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan jadilah kamu bersama orang-orang yang jujur.”
(QS. At-Taubah: 119)
Kejujuran bukan sekadar berkata benar.
Ia adalah keberanian untuk tidak memutar arah ketika sistem mengajak menyimpang.
Dalam ayat lain Allah mengingatkan:
“Dan janganlah sebagian kamu memakan harta sebagian yang lain dengan jalan yang batil…”
(QS. Al-Baqarah: 188)
Bungkus Manajerial
Tender titipan.
Proyek pesanan.
Rekomendasi yang “harus dimenangkan.”
Semua itu kerap dibungkus istilah manajerial. Padahal hakikatnya tetap sama: mengambil hak yang bukan milik kita, menggeser keadilan agar condong pada kepentingan.
Bagi seorang auditor—atau siapa pun yang memegang amanah—ini bukan sekadar pelanggaran prosedur. Ini pengkhianatan kepercayaan.
Hadits yang Terlalu Jelas untuk Ditawar
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya kejujuran membawa kepada kebaikan, dan kebaikan membawa ke surga… Dan sesungguhnya dusta membawa kepada kejahatan, dan kejahatan membawa ke neraka.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Tidak ada catatan kaki.
Tidak ada klausul pengecualian jabatan.
Dalam riwayat lain:
“Setiap daging yang tumbuh dari harta haram, maka neraka lebih pantas baginya.”
(HR. Tirmidzi)
Harta perusahaan.
Uang negara.
Anggaran proyek.
Semuanya bukan milik personal yang bisa dipindahkan demi loyalitas pada atasan. Amanah publik bukan ruang privat.
Istiqomah berarti menolak menjadi perantara kezaliman—meski risikonya kehilangan jabatan.
Rezeki Tidak Pernah Salah Alamat
Sering kali ketakutan terbesar kita bukan pada dosa, melainkan pada kehilangan kesempatan:
takut dianggap tidak kooperatif,
takut dikucilkan,
takut karier berhenti.
Padahal Allah telah menegaskan:
“Dan tidak ada suatu makhluk melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya.”
(QS. Hud: 6)
Rezeki tidak pernah tertukar.
Tidak berkurang satu rupiah pun karena menolak yang haram.
Yang justru berkurang adalah keberkahan ketika prinsip dijual demi posisi.
Audit, Amanah, dan Ujian Karakter
Integritas di ruang audit bukan slogan di dinding. Ia diuji dalam percakapan tertutup, dalam kalimat setengah berbisik, dalam tawaran yang tampak strategis.
Sering kali bukan sistem yang menjatuhkan kita, melainkan kompromi kecil yang kita anggap sepele.
Istiqomah bukan keras kepala.
Ia adalah keteguhan pada garis yang sudah jelas: tidak menzalimi, tidak memakan hak orang lain, tidak memfasilitasi ketidakadilan.
Karena ketika auditor ikut menutup mata, siapa lagi yang menjaga cahaya?
Penutup: Jabatan Bisa Hilang, Nama Baik Lebih Panjang Umurnya
Percakapan di ruang tertutup itu singkat, tetapi maknanya panjang.
Ada jabatan yang hilang.
Tetapi ada harga diri yang selamat.
Ada peluang yang lewat.
Tetapi ada prinsip yang tetap tegak.
Istiqomah memang tidak selalu menghadiahkan promosi. Tetapi ia menghadiahkan ketenangan—dan dalam jangka panjang, kepercayaan.
Mahkota auditor adalah integritas. Melepaskannya sama dengan menanggalkan mahkota itu sendiri.
Dan mahkota itu tetap singgah di kepala yang tegak—tanpa kesombongan, tetapi penuh wibawa dan kebijaksanaan.
Kesimpulan
Istiqomah dalam integritas bukan romantisme moral. Ia fondasi tata kelola yang sehat. Tanpanya, audit hanya menjadi formalitas, dan amanah berubah menjadi komoditas.
Saran
Bangun sistem yang melindungi integritas, bukan sekadar menuntut loyalitas.
Pimpinan perlu sadar bahwa “titipan” hari ini adalah risiko hukum dan reputasi di masa depan.
Setiap profesional harus menetapkan garis pribadinya sejak awal—sebelum diuji.
Karena pada akhirnya, yang membuat seseorang layak memimpin bukan kesediaannya memfasilitasi kepentingan, melainkan keberaniannya menolak yang salah.
Dan mungkin, di situlah makna istiqomah yang sesungguhnya.
By Paman BED























