By Paman BED
Jika suatu sore Anda melintas di simpang susun Jembatan Semanggi, menatap lengkung atap Gedung MPR/DPR, atau berdiri di tepi Bendungan Jatiluhur yang menahan jutaan meter kubik air—ingatlah satu nama: Ir. Sutami.
Ia menjabat Menteri Pekerjaan Umum selama 14 tahun, melintasi dua rezim besar: Soekarno dan Soeharto. Di tangannya, beton-beton raksasa ditegakkan. Infrastruktur negara menemukan bentuknya. Pembangunan memperoleh wajah yang konkret.
Namun kehidupan pribadinya nyaris tak bersuara.
Suatu hari Lebaran, hujan turun deras di rumah dinasnya. Air menetes ke ruang tamu. Sang Menteri mengambil ember.
“Maaf, atapnya sudah lama bocor. Belum ada uang untuk memperbaiki,” ujarnya ringan.
Di kesempatan lain, listrik rumah pribadinya di Solo diputus. Bukan sabotase politik. Bukan krisis nasional. Hanya karena ia terlambat membayar tagihan—gajinya telah habis.
Ketika penyakit lever dan kurang gizi menggerogoti tubuhnya, ia menolak dirawat karena khawatir tak mampu menanggung biaya rumah sakit.
Ironis: seorang Menteri PU yang memegang ribuan proyek “basah”, justru kering dari rekening pribadi.
Ia bisa saja mengambil satu persen dari setiap proyek besar. Satu persen saja cukup mengubah nasib tujuh turunan.
Namun ia memilih nol rupiah.
NOL.
Ia menolak mobil mewah pemberian pengusaha. Mengembalikan seluruh fasilitas negara saat pensiun. Rumah sederhana yang ia cicil baru lunas sesaat sebelum wafat pada 1980.
Ia tidak mewariskan emas.
Ia mewariskan integritas.
Namun sejarah tidak hanya menyimpan kisah orang-orang seperti itu.
Badai di Era VUCA
Di zaman kita hari ini, ada pula kisah yang berjalan ke arah sebaliknya.
Seorang pejabat—satu dari sekian ratus—tampil sederhana di panggung publik. Lengan baju digulung. Senyum ramah. Narasi merakyat. Media sosialnya penuh kutipan motivasi dan doa. Ia tampak seperti simbol harapan di tengah dunia yang serba tak pasti.
Namun dunia hari ini adalah dunia VUCA—volatile, uncertain, complex, ambiguous. Badai bukan hanya datang dari luar. Ia sering berputar diam-diam di dalam dada.
Di tengah kompleksitas kekuasaan dan tekanan pencapaian, batas etika perlahan kabur.
Pencitraan menggantikan ketulusan.
Ambisi menyamar sebagai pengabdian.
Hasrat akan pengaruh dan pengakuan bergerak lebih cepat daripada suara hati.
Lalu badai itu datang.
Kasus korupsi mencuat.
Rekening-rekening terbuka.
Rumah tangga retak di saat yang sama.
Apa yang dibangun dengan citra runtuh oleh fakta.
Apa yang ditanam dengan ambisi dituai dalam bentuk aib yang terbuka.
Tragis? Ya.
Final? Belum tentu.
Dalam Islam, pintu taubat tidak tertutup sebelum ajal tiba. Kita tidak perlu mencaci. Cukup mengambil pelajaran—dan mendoakan semoga yang bersangkutan kembali ke jalan Allah sebelum semuanya benar-benar terlambat.
VUCA ternyata bukan sekadar menguji kapasitas manajerial.
Ia menguji kedalaman iman.
Relevansi Konsep Zuhud
Di titik inilah konsep zuhud menjadi relevan—bahkan mendesak.
Zuhud bukan berarti meninggalkan dunia. Bukan pula menolak jabatan atau memusuhi keberhasilan. Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin menegaskan: zuhud adalah mengosongkan hati dari ketergantungan pada dunia, bukan mengosongkan tangan dari dunia.
Ibnu Taimiyah menambahkan: zuhud adalah meninggalkan apa yang tidak bermanfaat bagi akhirat.
Artinya, seseorang boleh menjadi pejabat tinggi, pengusaha sukses, profesional kelas dunia—tetapi hatinya tidak menetap di sana.
Zuhud adalah manajemen keterikatan.
Di era VUCA, banyak orang runtuh ketika kehilangan jabatan. Panik saat reputasi jatuh. Hancur ketika target meleset. Mengapa? Karena identitasnya melekat sepenuhnya pada itu semua.
Orang yang zuhud tidak anti-ambisi.
Ia hanya anti-ketergantungan.
Ia bekerja keras, tetapi tidak mabuk posisi.
Ia memimpin proyek besar, tetapi tidak membangun istana pribadi dari proyek yang sama.
Ia berada di dalam sistem, tetapi tidak larut dalam penyakit sistem.
Sutami membangun bendungan untuk menahan air.
Sebagian dari kita hari ini justru gagal membendung keinginan.
Dan mungkin di situlah rahasia ketenangan jiwa yang disebut Al-Qur’an sebagai an-nafs al-muthma’innah—jiwa yang tenang (QS. Al-Fajr: 27–30). Jiwa yang tidak panik saat dunia berubah, karena ia tahu tempat pulangnya.
Zuhud membuat seseorang siap kehilangan sebelum benar-benar kehilangan.
Siap turun sebelum dipaksa turun.
Siap pulang sebelum dipanggil pulang.
Kesimpulan
Zuhud di era VUCA bukan romantisme masa lalu. Ia adalah kebutuhan masa depan.
Di tengah volatilitas politik, ketidakpastian ekonomi, kompleksitas regulasi, dan ambiguitas moral, satu-satunya jangkar yang tidak ikut goyah adalah hati yang tidak menggantungkan diri pada dunia.
Ir. Sutami membuktikan bahwa kekuasaan bisa dipegang tanpa harus digenggam di hati.
Sementara kisah para pejabat yang terjerat kasus hari ini mengingatkan kita: ketika dunia dibiarkan masuk ke dalam jiwa, kapal perlahan pasti tenggelam.
Kapal boleh berada di tengah samudera.
Asal samudera tidak masuk ke dalam kapal.
Saran Reflektif
Pisahkan identitas dari jabatan. Anda lebih besar dari posisi Anda.
Tetapkan garis etika yang tak bisa dinegosiasikan, bahkan ketika sistem menormalisasi kompromi.
Hiduplah sedikit di bawah kemampuan finansial, agar keputusan moral tidak digadaikan oleh gaya hidup.
Lakukan audit batin secara berkala: jika semua fasilitas dicabut hari ini, apakah harga diri ikut runtuh?
Karena pada akhirnya, bukan seberapa tinggi kita naik yang menentukan makna hidup—melainkan seberapa ringan kita saat diminta turun.
Pertanyaannya bukan lagi:
“Masih adakah pejabat seperti Sutami?”
Melainkan:
“Sudahkah kita menyiapkan diri agar tidak tenggelam oleh zaman kita sendiri?”
Apakah kita akan menjadi korban VUCA—
atau pengendali diri di tengah VUCA?
Jawabannya tidak tersimpan di jabatan, bukan pula di sorotan publik.
Ia tersimpan di dalam hati—dan pada keberanian kita menjaga keterikatan.
Semoga kita dijaga dari badai yang kita bangun sendiri.
Dan jika pernah terseret, semoga Allah masih memberi jalan pulang.
Aamiin.
By Paman BED
























