Fusilatnews – Bayangkan suatu hari muncul seseorang di YouTube, mengaku sebagai nabi, utusan Tuhan. Ia melakukan siaran langsung, menunjukkan mukjizat, lalu membacakan wahyu. Dalam hitungan menit, akun X, TikTok, dan Reddit akan membahasnya. Jutaan orang menontonnya, separuhnya mengejek, separuh lagi percaya, dan sisanya skeptis. Dalam 24 jam, akun itu diblokir karena dianggap menyebarkan klaim palsu atau ujaran kebencian. Lalu ia ditangkap, diperiksa kejiwaannya, dan dibantah oleh para ahli dari berbagai disiplin ilmu.
Di era modern ini, jika seorang nabi datang seperti di masa lampau—tanpa QR Code, tanpa bukti ilmiah—ia akan sulit sekali diyakini. Logika publik hari ini telah berubah drastis. Keyakinan kolektif kini dibangun bukan dari rasa kagum terhadap hal gaib, tapi dari pembuktian, peer review, dan verifikasi empiris. Maka pertanyaannya muncul: mengapa semua nabi justru muncul di era ketika sains belum berkembang? Kenapa wahyu hanya datang ketika umat manusia masih bergantung pada mitos dan simbol?
Nabi dan Zaman Pra-Sains: Keberuntungan atau Strategi?
Dalam sejarah peradaban, kemunculan nabi hampir selalu terjadi dalam era pra-sains. Mereka muncul di tengah masyarakat yang belum memiliki metode ilmiah, logika deduktif yang mapan, atau pemahaman rasional tentang gejala alam. Pada masa itu, badai dianggap murka dewa, dan gerhana dipercaya sebagai pertanda ilahi. Dalam konteks seperti itu, seorang individu yang mampu memberi arah moral dan mengklaim hubungan langsung dengan Tuhan akan lebih mudah dipercaya.
Muncul pertanyaan lanjutan: apakah ini berarti klaim kenabian adalah hasil dari keterbatasan pengetahuan manusia pada saat itu? Jika wahyu adalah realitas objektif dari entitas mahakuasa, bukankah seharusnya ia juga mampu menyesuaikan diri dengan era modern yang lebih rasional? Mengapa Tuhan berhenti mengirim nabi setelah manusia mulai mengenal mikroskop, teleskop, dan hukum gravitasi?
Absennya Wahyu di Zaman Modern: Iman yang Terperangkap Sejarah?
Ketiadaan nabi di era sains membuat sebagian orang mulai mempertanyakan ulang fungsi kenabian. Jika wahyu adalah kanal komunikasi antara Tuhan dan manusia, mengapa ia terputus saat manusia paling kritis dan paling membutuhkan validasi?
Dalam paradigma modern, untuk mempercayai sesuatu, kita butuh bukti. Dalam ilmu pengetahuan, kita diminta skeptis sampai terbukti sebaliknya. Namun dalam agama, kita diminta percaya sebelum melihat. Di sinilah letak benturan antara wahyu dan sains. Dan absennya nabi dari era rasional ini justru memperkuat kecurigaan: barangkali, kenabian memang bukan kanal ilahi, melainkan mekanisme budaya untuk mengatur masyarakat sebelum hadirnya institusi negara, hukum tertulis, dan sains.
Apakah Tuhan Tak Lagi Bicara, atau Manusia Tak Lagi Mau Mendengar?
Tentu saja, dari sudut pandang keimanan, ada jawaban lain: bahwa wahyu sudah cukup. Bahwa pesan telah lengkap. Dalam Islam, ini disebut “penutup kenabian” (khatam an-nabiyyin). Dalam Kristen, penebusan Yesus dianggap sebagai klimaks wahyu. Tapi secara filosofis, ini tetap menyisakan pertanyaan: mengapa Tuhan memilih berhenti berbicara justru ketika manusia telah punya kemampuan paling baik untuk memahami, mengkritisi, dan menyebarkannya?
Bukankah lebih logis jika Tuhan terus berkontak, menyapa ulang generasi digital, menjawab keresahan manusia modern lewat wahyu baru yang bisa dipertanggungjawabkan di hadapan sains dan akal?
Penutup: Kenabian sebagai Jejak Budaya, Bukan Proyek Langit?
Jika kita menarik kesimpulan dari semua ini secara logis dan netral, kita bisa melihat bahwa kenabian, sejauh yang kita tahu, memang sangat kontekstual. Ia hadir dalam ruang budaya, politik, dan psikologis tertentu. Nilai-nilai yang dibawanya—keadilan, kasih, dan moralitas—tidak bisa disangkal. Tapi status ilahinya tidak pernah benar-benar bisa dibuktikan. Dan ketika tradisi wahyu berhenti justru saat manusia paling siap untuk mengujinya, kita patut bertanya ulang: apakah para nabi adalah utusan Tuhan atau hasil dari kebutuhan sosial manusia di zaman tertentu?
Sains tidak bisa menjawab ini sepenuhnya, tapi iman pun tidak bisa memaksakan jawabannya tanpa bukti. Maka mungkin, satu-satunya jalan ke depan adalah jujur: bahwa nabi adalah warisan sejarah yang luar biasa, namun keilahiannya bukan realitas objektif, melainkan pengalaman kolektif yang terbentuk di ruang dan waktu tertentu—tak lebih, tak kurang.

























