Fusilatnews – Dalam gemuruh politik kekuasaan, seringkali seorang pemimpin terlalu larut dalam euforia stabilitas semu yang ia ciptakan sendiri. Ia merasa dikelilingi oleh loyalitas, kekuasaan administratif, dan pujian semu dari lingkaran dalam yang penuh perhitungan. Namun, yang luput disadari oleh Presiden Joko Widodo adalah bahwa dalam diam, hari demi hari, ia justru tengah membangun barisan musuh-musuh baru yang siap menjelma menjadi tsunami politik pada waktunya. Musuh-musuh itu bukanlah dari luar sistem—mereka justru lahir dari dalam orbit kekuasaan dan sejarah politik bangsa ini.
1. Megawati dan Garda Partai Bantengnya
Jokowi adalah kader PDIP, namun kini relasi itu bak anak yang durhaka pada ibu ideologisnya. Megawati Soekarnoputri, yang dahulu membuka pintu bagi Jokowi di panggung nasional, perlahan namun pasti merasa dikhianati. Manuver politik Jokowi untuk mengonsolidasikan kekuasaan melalui pembentukan poros baru, serta dugaan keterlibatannya dalam menjegal Ganjar Pranowo, menciptakan keretakan dalam hubungan yang dulunya simbolik. Garda PDIP kini siaga bukan sebagai tameng Jokowi, tapi sebagai oposisi ideologis yang siap menyatakan perlawanan dalam bentuk paling telak: pemilu.
2. Para Jenderal Purnawirawan dan Semangat Esprit de Corps
Langkah Jokowi yang dianggap mempolitisasi institusi militer dan kepolisian telah menyulut kegelisahan di antara para purnawirawan. Banyak dari mereka menilai Jokowi telah memperalat simbol dan struktur keamanan demi memperkuat dinasti kekuasaan. Esprit de corps yang selama ini dijaga sebagai kehormatan profesi kini berubah menjadi perlawanan moral. Ketidaknyamanan mereka tidak hanya tersurat dalam pernyataan publik, tetapi juga tersirat dalam konsolidasi diam-diam yang dapat menjelma menjadi kekuatan politik bayangan.
3. Dua Belas Tokoh Pemburu Ijazah Palsu dan Simpatisannya
Skandal ijazah palsu yang menyeret nama Jokowi tidak hanya berhenti sebagai wacana legalitas administratif, namun telah menjelma menjadi simbol perlawanan terhadap kebohongan publik. Dua belas tokoh yang mengangkat isu ini bukan hanya melawan sistem, tapi melawan figur simbolik negara itu sendiri. Di balik mereka, ada ribuan simpatisan yang terorganisir secara digital dan ideologis, yang menyimpan api perlawanan terhadap apa yang mereka anggap sebagai kebohongan fundamental dari kepemimpinan Jokowi.
4. AHY dan Kader Partai Demokrat
Partai Demokrat merasa dicurangi ketika Jokowi dianggap membiarkan atau bahkan mendukung pengambilalihan paksa kepemimpinan partai mereka melalui Moeldoko. AHY, sebagai simbol regenerasi partai, menyimpan luka politik yang belum sembuh. Dalam ingatan kolektif Demokrat, Jokowi telah menodai prinsip netralitas presiden dan menjadikan kekuasaan sebagai alat untuk mencampuri urusan internal partai. Kegeraman ini menjelma menjadi agenda balas dendam politik yang mungkin tak disuarakan keras-keras, namun tersimpan dan siap dimobilisasi di waktu yang tepat.
Belakang, bahkan dituduh sebagai pelaku apa yang dikatakan Jokowi sebagai ‘Orang Besar” yang meilimki agenda dibalik Pemakzulan Gibran dan skandal ijazah Palsu.
5. IB HRS dan FPI
Lebih dahulu, musuh telah dibentuk dari kalangan Islam populis, yakni Habib Rizieq Shihab dan FPI. Penahanan, pembubaran, dan berbagai kriminalisasi yang menyasar kelompok ini menciptakan luka politik yang mendalam. Dalam narasi kelompok ini, Jokowi adalah simbol rezim yang menindas umat Islam. Dan luka yang mereka rasakan, berubah menjadi militansi diam yang sewaktu-waktu bisa menjelma menjadi energi oposisi massif di akar rumput.
6. TPUA (Tim Pembela Ulama dan Aktivis)
Kelompok ini menjadi motor pembelaan terhadap tokoh-tokoh Islam yang dianggap dizalimi oleh negara. Dalam banyak kasus, TPUA menilai bahwa pemerintah Jokowi telah menjadikan hukum sebagai alat represi, bukan keadilan. Mereka tidak hanya berbicara hukum, tapi juga menjadi jembatan moral bagi masyarakat yang merasa hak-haknya diinjak oleh negara.
7. Sejumlah Anggota Eks HTI
Meski dibubarkan secara resmi, Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) tidak benar-benar lenyap. Banyak anggotanya masih aktif dalam berbagai kegiatan dakwah, sosial, dan advokasi. Bagi mereka, pembubaran HTI oleh Jokowi merupakan pengkhianatan terhadap kebebasan berserikat dan berpendapat. Rasa dizalimi itu menyatukan mereka dalam ikatan ideologis yang sangat kuat dan laten.
Menuai Apa yang Ditanam
Jokowi sedang menuai badai dari benih-benih yang ia tanam sendiri: terlalu percaya diri, terlalu jauh menata ulang peta kekuasaan, dan terlalu percaya pada loyalitas semu. Kekuasaan itu tidak abadi, dan musuh-musuh yang ia bangun secara tak sadar ini bisa bersatu dalam momentum perlawanan yang akan datang. Jika sejarah adalah guru yang baik, maka Jokowi seharusnya belajar bahwa musuh terbesar seorang pemimpin bukanlah oposisi, tetapi pengkhianatan dari lingkaran dan retaknya kepercayaan rakyat.
Dan ketika hari itu tiba—hari di mana suara rakyat dan dendam-dendam politik yang terpendam itu bersatu—maka ia akan menyadari: bukan siapa yang memusuhi dirinya, tetapi siapa yang telah ia perlakukan sebagai musuh.




















