Fusilatnews – Universitas Gadjah Mada (UGM) selama ini mengusung diri sebagai rumah kebebasan akademik, tempat di mana ilmu pengetahuan dan pikiran bebas tumbuh tanpa sekat. Namun, keputusan membatalkan acara soft launching buku Jokowi’s White Paper karya Roy Suryo, Rismon Sianipar, dan dr. Tifauziyah Tiyassuma justru memperlihatkan wajah lain dari lembaga yang mengemban kebebasan berpikir itu: wajah yang tunduk pada sensitivitas politik.
UGM berdalih acara tersebut bermasalah secara prosedural dan memiliki nuansa politis. Tetapi alasan itu terdengar rapuh. Bukankah hampir semua wacana di ruang publik hari ini selalu bersinggungan dengan politik? Bukankah universitas justru dituntut menjadi ruang di mana gagasan—betapapun keras atau pahitnya—bisa diperdebatkan secara sehat?
Di sini tampak telanjang bahwa yang ditakuti bukanlah “prosedur,” melainkan isi buku itu sendiri: sebuah buku putih yang secara terang memperteguh aib pemerintahan Jokowi. Dalam perspektif kebebasan akademik, UGM seharusnya tidak berjarak dengan gagasan yang menantang status quo, tetapi justru memberi ruang bagi kritik untuk diuji, diperdebatkan, dan dipertanggungjawabkan.
Ironinya, dengan menolak acara ini, UGM seakan memberi justifikasi terbalik: bahwa isi buku itu memang “berbahaya.” Padahal yang berbahaya justru sikap kampus yang memilih diam dan menutup pintu. Sejarah membuktikan, universitas yang abai pada kebebasan berpikir akhirnya melahirkan intelektual yang jinak, akademisi yang lebih pandai menjaga jarak dengan kebenaran ketimbang menyuarakannya.
Lalu siapa yang diuntungkan dari pembatalan ini? Tentu saja Roy Suryo cs. Karena acara yang semula bisa berjalan biasa-biasa saja, justru mendapat panggung lebih besar berkat sikap UGM. Publik kini menilai ada sesuatu yang ingin ditutupi, dan buku putih itu menjadi semakin menarik perhatian.
Persoalan ini, pada akhirnya, bukan sekadar urusan venue atau prosedur sewa ruangan. Ia menyingkap soal lebih besar: bagaimana lembaga yang seharusnya membela sains dan kebebasan intelektual, justru ikut serta dalam praktik pembungkaman halus. UGM lupa, diam di hadapan kritik bukanlah sikap ilmiah, melainkan sikap politis. Dan itu, ironisnya, membuat universitas ikut larut dalam aib yang coba ditutupi buku putih tersebut.

























