Oleh: Entang Sastraatmadja
Beras oplosan adalah beras yang dicampur dengan bahan yang sejatinya tidak pantas masuk ke dalam kualitas konsumsi masyarakat. Praktik ini bisa melibatkan:
- Beras rusak atau berkualitas rendah yang dicampur dengan beras baik demi menambah kuantitas.
- Bahan lain seperti jagung atau biji-bijian lain untuk meningkatkan volume.
- Zat kimia atau bahan tambahan guna mempercantik tampilan beras dan menipu konsumen.
Praktik curang ini jelas merugikan masyarakat. Konsumen dirugikan oleh kualitas beras yang tak terjamin, kesehatan berpotensi terancam, harga beras tidak wajar, bahkan industri perberasan bisa kehilangan reputasi dan kepercayaan publik.
Dampak Sosial dan Ekonomi: Penggilingan Padi Kecil Berguguran
Temuan Ombudsman menyingkap fakta mengejutkan. Bisnis.com mencatat, puluhan penggilingan padi kecil di Karawang tutup setelah heboh beras oplosan. Ombudsman menemukan 10 dari 23 penggilingan padi kecil menutup usahanya akibat ketakutan menghadapi situasi tersebut.
Anggota Ombudsman, Yeka Hendra Fatika, menegaskan temuan ini diperoleh melalui uji petik di Kecamatan Tempuran, Karawang, dan sekitarnya. Bukan hanya persaingan usaha yang menekan, tetapi suasana ketidakpastian akibat isu beras oplosan telah membuat para pelaku usaha kecil terpuruk.
Kondisi serupa juga terjadi di Sragen, Jawa Tengah. Lebih dari 50% penggilingan padi skala menengah ke bawah terpaksa gulung tikar karena tak sanggup bersaing dengan perusahaan besar yang mampu membeli gabah hingga ribuan ton dan menjual dengan harga lebih kompetitif.
Harga gabah yang melonjak—Rp7.500/kg untuk panen combine harvester dan Rp7.200/kg untuk panen thresser—kian mempersempit ruang napas penggilingan kecil. Modal terbatas, gudang sempit, dan daya saing yang lemah membuat mereka tak mampu bertahan.
Isu Beras Oplosan: Bom Waktu Pangan Nasional
Kasus beras oplosan bukan sekadar isu dagang. Ini adalah masalah pangan nasional yang menyentuh tiga aspek krusial:
- Kerugian Ekonomi – Petani dan penggilingan kecil menjadi pihak paling terpukul.
- Ancaman Kesehatan – Kualitas beras oplosan yang tak terjamin berpotensi meracuni konsumsi publik.
- Keamanan Pangan (Food Safety) – Krisis kepercayaan masyarakat terhadap beras sebagai makanan pokok bisa menciptakan kegaduhan sosial.
Solusi yang Mendesak
Menghadapi situasi ini, pemerintah tidak boleh tinggal diam. Beberapa langkah konkret yang dapat ditempuh antara lain:
- Pengawasan Ketat – Pemerintah wajib memastikan kualitas beras yang beredar di pasar terjaga dari praktik oplosan.
- Perlindungan Petani dan Penggilingan Kecil – Melalui subsidi, bantuan pupuk, akses modal, serta pembatasan dominasi perusahaan besar dalam pembelian gabah.
- Kerja Sama Strategis – Penggilingan padi kecil dapat menggandeng perusahaan besar dengan pembagian peran yang lebih adil.
- Peningkatan Efisiensi – Modernisasi dan efisiensi biaya produksi perlu digenjot agar penggilingan kecil punya daya saing.
Penutup: Jangan Biarkan Jadi Api dalam Sekam
Temuan Ombudsman ini harus menjadi alarm peringatan. Jangan sampai hingar-bingar beras oplosan berubah menjadi bom waktu yang memicu konflik sosial dan mengguncang fondasi ketahanan pangan nasional.
Pemerintah mesti turun tangan dengan langkah tegas, karena pangan adalah urusan hidup-mati rakyat. Jika industri padi kecil terus berguguran, bukan mustahil kedaulatan pangan kita tinggal kenangan.
Semoga!
(Penulis, Ketua Dewan Pakar DPD HKTI Jawa Barat)

Oleh: Entang Sastraatmadja























